Hubungan/Korelasi Peternakan Sapi Potong dengan Ekologi Lingkungannya

MAKALAH
DASAR-DASAR EKOLOGI

HUBUNGAN/KORELASI PETERNAKAN SAPI POTONG DENGAN EKOLOGI LINGKUNGANNYA
     OLEH :
IQBAL JALIL HAFID
O 121 12 094

logo untadDiajukan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh
nilai tugas pada matakuliah Dasar-dasar Ekologi

JURUSAN PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN

UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2015

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ternak Sapi Potong menjadi salah satu jenis komoditi unggulan agribisnis pemenuhan gizi masyarakat. Sugeng (2006) mencontohkan kemanfaatan sapi terhadap nilai ekonomis, yaitu:

  1. Mutu dan harga daging atau kulit menduduki peringkat atas dibanding daging atau kulit kerbau dan kuda;
  2. Sebagai budaya masyarakat, misalnya keperluan sesaji, ternak karapan di Madura, dan ukuran martabat masyarakat (social standing);
  3. Tabungan, petani desa umumnya terbiasa menjual hasil penen untuk membeli beberapa ekor sapi sehingga saat paceklik atau saat petani butuh uang dapat dijual lagi;
  4. Hasil ikutan sangat berguna, kotoran untuk pertanian, tulang dijadikan tepung tulang sebagai bahan baku mineral atau lem, darah bisa direbus, dikeringkan, dan digiling menjadi tepung darah bagi hewan unggas dan lain-lain, kulit dipergunakan untuk berbagai maksud dibidang kesenian, pabrik, dan lain-lain.
  5. Lapangan kerja baru. Usaha ternak sapi di Indonesia mampu menampung tenaga kerja cukup banyak sehingga bisa menghidupi banyak keluarga.

Nilai kemanfaatan ternak sapi menjadi faktor penunjang pengembangan budidaya sapi potong. Namun, dihadapi faktor pembatas, yaitu ekologi. Ekologi atau lingkungan menjadi penting karena dapat mempengaruhi produksi dan performance seekor ternak, diantaranya: suhu, kelembapan, curah hujan, tiupan angin, dan intensitas cahaya. Heru Sutedjo (2011) menyebut sebagai komponen lingkungan fisik. Tri Eko Susilorini., et al (2011) menjelaskan bahwa produktivitas seekor ternak sangat bergantung pada kondisi lingkungan setempat.

Produktivitas ternak tercapai jika kondisi lingkungan nyaman untuk hidup dan berproduksi. Namun kondisi tropis di Indonesia dapat menjadi kendala pengembangan ternak sapi potong produktif. Suhu yang tinggi dapat timbulkan gangguan metabolisme. Akibatnya penimbunan daging menjadi lebih lambat. Apalagi kalau bibit-bibit ternak sapi potong berasal dari daerah subtropis dan adaptasi ternak belum baik. Demikian juga saat musim kemarau panjang mengganggu kontinuitas penyediaan hijauan (Bambang Sugeng, 2006).

Korelasi positif-negatif usaha peternakan dan ekologi, tampak berbanding lurus kondisi pemanasan global (global warming). Food and Algriculture Organization (FAO) Badan PBB yang mengurusi pangan dan pertanian dunia membeberkan data usaha peternakan merupakan penyumbang terbesar gas-gas emisi rumah kaca (GRK) yang merusak lapisan ozon (atmosfir) sebesar 18% atau 7.516 juta metrik ton ekuivalen CO2 (CO2e) per tahun, demikian juga Goodlang dan Anhang (2009) menyebutkan angka yang disumbangkan oleh usaha peternakan sebesar 51%.

B. Tujuan dan Manfaat

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji korelasi budidaya sapi potong dengan ekologi lingkungannya.

Manfaat penulisan makalah ini adalah sebagai kajian dalam mengetahui korelasi budidaya sapi potong dengan ekologi lingkungannya.

II. PEMBAHASAN

A. Budidaya Sapi Potong

Seekor atau kelompok ternak sapi dapat hasilkan berbagai macam kebutuhan bahan makanan berupa daging, di samping hasil ikutan lain seperti pupuk, kulit, tulang, dan lain sebagainya. Murtidjo (2005) menjelaskan keuntungan ekonomis dari budidaya sapi potong, yaitu:

  1. Sapi potong dapat memanfaatkan bahan makanan yang rendah kualitasnya, menjadi produksi daging.
  2. Sapi potong sanggup menyesuaikan diri pada lokasi atau tanah yang kurang produktif untuk pertanian tanaman pangan dan perkebunan.
  3. Ternak sapi potong membutuhkan tenaga kerja dan peralatan lebih murah dari pada usaha ternak lain, misalnya ternak sapi perah.
  4. Usaha ternak sapi potong bisa dikembangkan secara bertahap sebagai usaha komersial sesuai dengan tingkat ketrampilan, kemampuan modal petani-ternak.
  5. Limbah ternak sapi potong bermanfaat untuk pupuk kandang tanaman pertanian dan perkebunan, selain sanggup memperbaiki strutur tanah yang tandus.
  6. Angka kematian ternak sapi potong relatif rendah, karena untuk usaha ternak yang dikelola secara sederhana rata-rata angka kematian hanya 2% di Indonesia.
  7. Sapi potong dapat dimanfaatkan tenaganya untuk pekerjaan pengangkutan dan pertanian.

Jumlah populasi sapi potong didukung angka pemotongan setiap tahun mencapai 54.051 ekor/tahun, dan angka produksi ternak mencapai 4.684.550 kg/tahun. Data ini cukup menjanjikan optimalisasi keuntungan dalam budidaya ternak Sapi. Susilorini dkk., (2011) menjelaskan ada enam faktor pendukung budidaya peternakan selalu berkelanjutan dan menjanjikan peluang bisnis, sebagai berikut:

  1. Kebutuhan pangan meningkat sejalan dengan kecepatan pertumbuhan populasi manusia.
  2. Produk pangan asal ternak mempunyai nilai gizi yang berkualitas.
  3. Ternak mempunyai kemampuan untuk mengubah bahan pakan menjadi produk pangan untuk manusia.
  4. Dalam siklus kehidupan, ternak berperan bagi kesuburan dan konservasi tanah serta konservasi air.
  5. Ternak merupakan sumber protein dan energi.
  6. Dunia peternakan merupakan sumber pendapatan dan lapangan kerja.

B. Unsur-Unsur Ekologi

Ekologi merupakan salah satu cabang biologi, yaitu ilmu pengetahuan tentang hubungan antara organisme dan lingkungannya (Djamal Irwan, 2010). Organisme dimaksud adalah tanaman, ternak dan manusia. Sedangkan lingkungan adalah faktor-faktor pembatas seperti pakan, iklim maupun habitat (Sonny Keraf, 2010).

Jelaslah bahwa ekologi adalah ilmu yang mempelajari makluk hidup dalam rumah tanggnya atau ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara makluk hidup sesamanya dan dengan komponen sekitarnya. Jika dikaitkan dengan peternakan sebagai center organisme maka kaitannya dengan faktor ekologis adalah: tanah, topografi, pakan, suhu, temperatur, kelembapan, curah hujan, kecepatan angin, dan radiasi serta parasit. Secara kolektif komponen-komponen ini dikenal sebagai lingkungan fisik (Heru Sutedjo, 2011). Lingkungan fisik ini dapat berpengaruh langsung terhadap penampilan produktivitas ternak (Payne, 1990). Pengaruh tidak langsung adalah ketersediaan hijauan pakan ternak yang cepat tua dan menyebabkan tingginya serat kasar, sedangkan pengaruh langsungnya adalah terjadinya stress panas atau dingin, sehingga ternak menderita stress atau ternak merasa tidak nyaman yang berakibat terhadap penurunan produksi dan reproduksi ternak. Untuk itulah perlu diketahui pengaruh iklim terhadap kondisi fisiologis ternak, sehingga dapat diupayakan pengendalian iklim agar penampilan produktivitas ternak dapat ditingkatkan.

Iklim merupakan faktor yang menentukan ciri khas dari seekor ternak. Ternak yang hidup di daerah yang beriklim tropis berbeda dengan ternak yang hidup di daerah subtropis. Selain itu berbeda dengan faktor lingkungan yang lain seperti pakan dan kesehatan, iklim tidak dapat diatur atau dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Untuk memperoleh produktivitas ternak yang efisien, manusia harus “menyesuaikan“ dengan iklim setempat. Iklim yang ada diberbagai daerah tidaklah sama, melainkan bervariasi tergantung dari faktor-faktor yang tak dapat dikendalikan (tetap) seperti altitude (letak daerah dari ekuator, distribusi daratan dan air, tanah dan topografinya) dan latitude (ketinggian tempat) dan faktor-faktor tidak tetap (variabel) seperti aliran air laut, angin, curah hujan, drainase dan vegetasi.

C. Unsur Lingkungan yang Berpengaruh Terhadap Produksi Ternak Sapi Potong

  1. Curah Hujan

Curah hujan menentukan jumlah pakan yang diproduksi, ketahanan tanaman pakan ternak mempertahankan keadaan berkualitas tinggi, praktek penggembalaan yang diterapkan, kebutuhan untuk menyediakan pakan dan suplemen, dan jenis sistem pengawetan pakan yang paling tepat guna. Periode curah hujan normal mampu tingkatkan kadar air tanaman pakan sehingga membatasi jumlah zat gizi yang diperoleh ternak disebabkan keterbatasan fisik pada konsumsi total. Ketersediaan air tanah bagi produksi tanaman tergantung tidak hanya pada curah hujan tahunan tetapi juga distribusi musiman dan intensitas curah hujan, kondisi tanah, vegetasi penutup tanah, dan laju evatransporasi.

Hubungan Curah Hujan Terhadap Ternak dan Penyakit (parasit). Agen-agen infeksi (infective agents) dipengaruhi curah hujan dalam berbagai cara. Organisme penyebab penyakit mampu berbiak pada kisaran kelembaban yang cukup karena dipengaruhi presipitasi yang terlalu sedikit maupun banyak. Agen-agen infeksi tertentu dapat menyebar melalui air, contohnya parasit yang membutuhkan induk semang perantara seperti siput/keong, meskipun merupakan hewan air, namun tergantung pada presipitasi bagi siklus hidupnya secara lengkap.

  1. Suhu

Suhu udara sekitar tubuh ternak penting bagi kenyamanan dan fungsi proses-proses fisiologi tubuh. Panas mengalir melalui konduksi kulit yang panas (sekitar 330C) dari sebagian besar spesies ternak ke udara lingkungan yang lebih dingin. Tetapi, jika suhu udara meningkat di kisaran nyaman (13-180C), laju pembuangan panas akan menurun, dan jika suhu udara melebihi suhu kulit, panas akan mengalir terbalik. Ini dapat menjadi masalah serius di daerah panas dan kering. Jika suhu udara rendah (<50C), aliran panas dari tubuh ternak akan dipercepat ke arah zona tidak nyaman dan menurunkan efisiensi performan (Heru Sutedjo, 2011).

Pola suhu juga dipengaruhi oleh ketinggian. Suhu udara cenderung menurun dengan laju 0,650C/100 m peningkatan ketinggian. Ini berarti bahwa, jika ketinggian melebihi 1000 m, kondisi suhu udara tidak akan menciptakan stress pada ternak.

Lingkungan tropis umumnya mempunyai ciri khusus, yaitu suhu udaranya hangat dan lembab dengan keragaman suhu udara lingkungan yang sangat rendah. Keragaman suhu udara akan semakin tinggi jika lokasi tersebut menjauhi equator, khususnya di daerah yang lebih kering. Pada daerah yang letaknya cukup tinggi dari permukaan laut, suhu udaranya lebih dingin dengan perubahan yang lebih nyata antara malam dan siang hari (Tri Eko Susilorini et al., 2011).

Suhu dapat mempengaruhi produksi ternak . Selain panas dari udara, ternak juga menerima panas dari benda sekitar seperti panas dari permukaan tanah. Radiasi matahari memanaskan tanah kering dengan cepat, pada siang hari, ternak-ternak yang merumput (daerah arid dan semi arid) terekspos dengan permukaan tanah bersuhu 400C, suhu ini menyebabkan permukaan tubuh bagian bawah menyerap panas dalam jumlah signifikan, meskipun tanah berangsur dingin saat matahari tenggelam. Keadaan ini memberi kesempatan ternak untuk menghilangkan panas yang tersimpan secara cepat melalui konduksi ke tanah. Berbeda jika Permukaan tanah tertutupi vegetasi hijau atau tanah basah karena memanas secara lebih perlahan, oleh sebab itu suhu permukaan tanah biasanya bukan merupakan sumber penambahan panas bagi ternak di daerah yang panas dan lembab.

Ternak lokal dapat bertahan dengan suhu yang panas, sedangkan ternak yang berasal dari subtropis yang telah disilangkan dengan ternak lokal dapat bertahan di tempat yang bersuhu sedang. Setiap hewan mempunyai kisaran temperatur lingkungan yang paling sesuai yang disebut Comfort Zone. Temperatur lingkungan yang paling sesuai bagi kehidupan ternak di daerah tropik adalah 10°C-27°C (50°F-80°F). Sedangkan keadaan lingkungan yang ideal untuk ternak di daerah sub tropis (sapi perah) adalah pada temperatur antara 30°F-60°F dan dengan kelembaban rendah. Selain itu, sapi FH maupun PFH memerlukan persyaratan iklim dengan ketinggian tempat ± 1000 m dari permukaan laut, suhu berkisar antara 15°- 21°C dan kelembaban udaranya diatas 55 persen. Kenaikan temperatur udara di atas 60°F relatif mempunyai sedikit efek terhadap produksi.

Kecepatan, arah dan sumber angin mempunyai pengaruh terhadap suhu udara. Angin yang datang dari lautan adalah lebih merata dan basah dari pada angin yang bertiup melintasi daratan yang luas yang bisa mengalami pemanasan atau pendinginan dari radiasi matahari. Jika seekor ternak merumput disuatu lapangan dimana suhu udara yang tenang adalah 25ºc, ternak tersebut tidak akan mengalami ketidaknyamanan. Tetapi jika, sebelum sore hari, angin bertiup setelah melintasi dataran kering, yang bersuhu 40ºc atau lebih, beban panas dari ternak tersebut akan meningkat secara drastis.

Pada suhu sedang, semakin cepat aliran udara, laju kehilangan panas semakin cepat. Pada suhu yang tinggi (≥29ºc), yang terjadi justru sebaliknya. Aliran udara membantu kehilangan panas dari kulit melalui konduksi selama suhu udara lebih rendah dari suhu kulit. Tetapi jika suhu udara lebih tinggi dari pada suhu kulit, maka kulit malah akan terbebani panas tambahan dari udara sekitar dan peningkatan aliran udara justru akan semakin meningkatkan jumlah panas tambahan tersebut. Peningkatan kecepatan udara seringkali mempunyai pengaruh yang sama seperti peningkatan suhu udara, dan meningkatnya aliran udara juga secara tidak langsung akan mempengaruhi jumlah radiasi pancaran yang diterima oleh ternak melalui perubahan suhu dari obyek-obyek yang ada disekeliling ternak.

Penerapan ternak di daerah yang iklimnya sesuai akan menunjang dihasilkannya produksi secara optimal. Salah satu unsur penentu iklim adalah suhu lingkungan. Bagi sapi potong yang mempunyai suhu tubuh optimum 38.33°C, suhu lingkungan 25°C dapat menyebabkan peningkatan rata pernafasan, suhu rektal dan pengeluaran keringat, yang semuanya merupakan manifestasi tubuh untuk mempertahankan diri dari cekaman panas. Semakin banyak jumlah keringat yang dikeluarkan, hewan makin tidak tahan terhadap cekaman panas.

  1. Topografi

Topografi berpengaruh pada performance ternak. Daerah tropis meliputi berbagai Negara yang terletak antara tropis Cancer dan Capricorn (Lintang 230U dan 230S) dan kurang lebih dalam isotherm 210C (Philips, 1948; Wright, 1954; Joubert, 1954 dikutip Devendra dan Burns, 1994). Iklimnya tidak seragam, dan sering terdapat perbedaan iklim yang tajam, yang disebabkan oleh berbagai faktor geografi, misalnya ketinggian daerah dan tekanan udara, sehingga beberapa daerah tropis dapat mempunyai iklim sub tropis, di samping kisaran utama iklimnya yang panas kering sampai panas lembab. Oleh karena itu berpengaruh pada jenis ternak yang akan dipelihara manusia disamping pengaruh sosial ekonomi, budaya, sosial politik dan hukum/keamanan.

  1. Pakan

Produksi ternak juga dipengaruhi oleh kualitas dan keseimbangan pakan. Kualitas pakan di daerah beriklim tropis umumnya rendah karena hijauan mengandung air dan serat kasar tinggi, protein dan mineral rendah.

Mikroorganisme merupakan pengaruh lingkungan cukup berpengaruh karena membuat ternak mudah terinfeksi penyakit dan berpengaruh pada produksi dan hasil ternak, mengingat lingkungan pemeliharaan di Indonesia cukup beragam (sesuai topografi), mulai lingkungan yang bersuhu udara cukup panas di daerah sekitar pantai sampai daerah pegunungan yang sejuk, tetapi kelembaban udaranya masih cukup tinggi. Intensitas serangan penyakit dan parasit pada kondisi lingkungan yang lembab dan hangat tersebut cukup tinggi sehingga hal ini menjadi kendala di dalam upaya meningkatkan produksi (Tri Eko Susilorini et al., 2011).

Pertumbuhan pakan cukup bergantung pada kelembapan. Bila suhu dan kelembapan tinggi, banyak spesies tanaman makanan ternak mengalami pertumbuhan yang cepat, tetapi disertai peningkatan kadar lignin dan penurunan kadar nitrogen dan karbohidrat. Pada keadaan demikian, seharusnya ternak harus makan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya namun pada kenyataannya ternak akan mengurangi konsumsi sebab hijauan yang tersedia kurang ‘palatable’ (kurang enak). Kelembapan yang terlalu tinggi juga cenderung menurunkan kadar bahan kering pakan ternak. Sebagai contoh, rumput Napier yang tumbuh dalam lingkungan dengan kelembaban tinggi bisa memiliki kadar bahan kering kurang dari 15% dengan kadar energi sekitar 0,04 Mkal/kg atau 9 kg TDN (total digestible nutrient) per 100 kg bahan segar.

  1. Air

Ketika beban panas menyebabkan ternak harus memulai langkah untuk meningkatkan laju evaporasi dari tubuh, air pada awalnya berasal dari darah. Ini harus diganti oleh air yang dimobilisasi dari berbagai sumber, diantaranya adalah lambung, usus, cairan antar jaringan (interstitial fluids), feses dan mungkin dari oksidasi karbohidrat, lemak dan protein. Ketika air dimobilisasi dari sumber-sumber tersebut, beberapa tindakan melalui darah atau lebih mungkin melalui impuls saraf bekerja pada “pusat haus (thirst center)” di dalam otak untuk menciptakan keinginan untuk memulihkan air tubuh ke tingkat normal. Seberapa jauh tingkat dehidrasi tubuh harus terjadi dan mulai bekerja belum diketahui, tetapi beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa manusia dan mayoritas spesies ternak akan berusaha mencari air ketika telah kehilangan setara dengan 1% bobot badan atau kurang.

Selaras meningkatnya suhu lingkungan, maka konsumsi air juga meningkat. Sapi betina dengan bobot badan 500 kg yang sedang laktasi biasanya mengkonsumsi 50 kg air per hari pada suhu 21ºC, tetapi tingkat konsumsi ini meningkat 25-100% pada suhu 32ºC. Beberapa sapi dan domba akan meningkatkan konsumsi airnya hingga 100% pada suhu 30-33%, tetapi konsumsi air biasanya mencapai puncak pada suhu lingkungan yang melebihi 35ºC.

  1. Kelembaban

Pada suhu yang tinggi, baik kelembaban rendah maupun tinggi mempunyai pengaruh yang mencolok pada kenyamanan ternak. Daerah panas dan lembab, dimana suhu udara 21ºc atau lebih, kelembapan menjadi masalah dalam produksi ternak bila kelembapan relatif mencapai 60% atau lebih, atau tekanan uap diatas 20 mm. Daerah panas dan kering dimana suhu udara bisa melebihi 32ºc dan kecepatan angin relatif tinggi, tingkat kelembapan rendah (kelembapan relatif <20% atau tekanan uap 10 mmHg) menjadi beresiko bagi produksi ternak.

Kelembapan merupakan masalah bagi industri peternakan melalui terciptanya kondisi yang kondusif bagi penyakit. Kelembapan yang tinggi menyebabkan lingkungan cocok untuk (1) kehidupan organism-organisme penyebab penyakit, (2) insekta dan vektor agen infektif, (3) mempertahankan kondisi yang cocok pada kulit bagi perkembangbiakan bakteri, jamur dan ektoparasit. Ini sangat penting dalam produksi ternak sebab bila kejadian atau masalah penyakit menjadi penyebab utama ketidakefisienan dalam produksi ternak, maka pengaruh lain dari iklim akan memperoleh perhatian kedua. Bahkan kondisi nutrisi buruk dan pengaruh langsung iklim pada ternak akan memperoleh sedikit perhatian bila serangan penyakit menyebabkan kerugian ekonomi yang besar.

Udara yang terlalu tinggi sangat mempengaruhi kesehatan ternak, baik itu pada pernafasannya, pertumbuhan parasit pada ternak, ataupun penyakit lainnya yang merugikan. Kelembaban ini berbanding terbalik dengan temperatur.

Iklim di Indonesia dalah Super Humid atau panas basah, yaitu klimat yang ditandai dengan panas yang konstan, hujan dan kelembaban yang terus menerus. Temperatur udara berkisar antara 21.11°C-37.77°C dengan kelembaban relatir 55-100 persen. Suhu dan kelembaban udara yang tinggi akan menyebabkan stress pada ternak sehingga suhu tubuh, respirasi dan denyut jantung meningkat, serta konsumsi pakan menurun, akhirnya menyebabkan produktivitas ternak rendah. Selain itu berbeda dengan factor lingkungan yang lain seperti pakan dan kesehatan, maka iklim tidak dapat diatur atau dikuasai sepenuhnya oleh manusia.

Kelembaban udara ditentukan oleh jumlah uap air yang terkandung di dalam udara. Total massa uap air per satuan volume udara disebut sebagai kelembaban absolut (absolute humidity, umumnya dinyatakan dalam satuan kg/m3). Perbandingan antara massa uap air dengan massa udara lembab dalam satuan volume udara tertentu disebut sebagai kelembaban spesifik (spesifik humidity, umumnya dinyatakan dalam satuan g/kg). Massa udara lembab adalah tital massa dari seluruh gas-gas atmosfer yang terkandung, termasuk uap air, jika massa uap air tidak diikutkan, maka disebut sebagai massa udara kering (dry air).

  1. Kecepatan Udara

Kecepatan udara yang normal sangat baik untuk kesegaran ternak dan kecepatan angin dapat juga digunakan untuk kincir angin yang dapat digunakan untuk kebutuhan manusia dalam sumber listrik juga pengadaan air untuk daerah yang kecepatan angin juga membantu ternak dalam melepaskan panas temperatur tubuhnnya.

Laju aliran udara melalui kulit ternak mempengaruhi laju kehilangan panas dari permukaan tubuh. Ini merupakan suatu proses yang relatif sederhana pada kulit yang tidak berbulu, tetapi adanya bulu dan wool membuat proses menjadi lebih rumit. Meningkatnya aliran udara akan membantu mempercepat kehilangan panas melalui evaporasi asalkan ada cukup air dikulit, tetapi jika kadar air dikulit sedikit, pengaruhnya pada ternak menjadi sangat terbatas.

  1. Intensitas Cahaya

Periode cahaya selama sehari didefenisikan sebagai waktu antara matahari terbit sampai matahari terbenam. Periode cahaya bervariasi menurut garis lintang dan musim. Panjang periode cahaya harian bervariasi; didaerah khatulistiwa kisaran variasinya sempit, yaitu hanya beberapa menit. Tetapi didaerah garis lintang 30ºC dan 60ºC variasinya sangat besar yaitu masing-masing adalah ± 2 jam dan ± 19 jam.

Periode cahaya harian sangat penting bagi tanaman dan mempunyai pengaruh langsung pada performan ternak. Contoh domba merupakan spesies yang sangat dipengaruhi oleh perubahan periode cahaya. Musim dengan suhu tinggi dan periode cahaya panjang mempengaruhi pola reproduktif melalui anestrus dan penurunan fertilitas pada betina, serta penurunan kualitas semen dan produksi sperma pada domba jantan. Cahaya berpengaruh pada kelenjar pituitary melalui mata dan jalur saraf.

Sebagian peneliti percaya bahwa panjang periode cahaya bisa mempunyai pengaruh langsung pada ternak melalui peningkatan keterjagaan (wakefulness) dan aktivitas metabolis, yang mengubah tingkat kosumsi. Keadaan ini telah diteliti secara intensif pada unggas dan sekarang praktek memperpanjang dan memperpendek periode cahaya melalui penggunaan cahaya buatan sudah merupakan praktek baku dipeternakan unggas. Informasi tentang pengaruh cahaya terhadap nafsu makan pada spesies lain hingga saat ini masih terbatas. Namun demikian, cahaya matahari yang terik di tengah hari jelas merupakan faktor yang membuat sapi atau domba berhenti merumput dan mencari tempat yang teduh.

Penelitian yang dilakukan di Australia menunjukkan bahwa panjang periode cahaya mempengaruhi pertumbuhan dan gugurnya rambut/bulu penutup kulit pada sapi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa ketika sapi dari daerah beriklim sedang dipindahkan ke daerah tropis, kisaran periode cahaya yang sempit gagal menstimulasi gugurnya bulu/rambut, sehingga menyebabkan degenerasi progresif dan akhirnya kematian. Nutrisi yang buruk dan parasit internal, tidak diragukan lagi merupakan penyebab utama gugurnya bulu pada sapi yang baru diperkenalkan didaerah tropis, tetapi periode cahaya bisa merupakan faktor tambahan.

Secara ringkas, pengaruh ekologi (lingkungan) terhadap ternak ada dua, yaitu pengaruh secara langsung dan tidak langsung.

1). Pengaruh Secara Langsung

  • Perilaku merumput

Lamanya waktu merumput saat siang hari sangat dipengaruhi oleh iklim, bangsa, kualitas, tipe mamalia, dan pastur yang tersedia (padang rumput). Jika ternak digembalakan pada daerah bukan asalnya, maka masa merumput akan berkurang. Bila jumlah kuantitas makanan hijauan yang tersedia terbatas maka lama waktu merenggut hijauan bertambah, sama halnya bila kuantitas makanan itu rendah, ternak menjadi sangat selektif dalam perenggutannya. Contoh sapi Bos taurus yang digembalakan pada daerah tropis yang lembab maka masa merumput berkurang apabila dibandingkan di daerah aslinya dan masa merumputnya dilanjutkan pada malam hari.

  • Pengunaan makanan dan pengambilan makanan

Jika suatu tempat memiliki temperatur yang tinggi maka akan mempengaruhi pengambilan makanan pada ternak, semakin tinggi temperatur maka semakin sedikit makan karena akan lebih banyak minum. Jika temperatur lebih dari 40°C maka ternak akan berhenti memamah biak. Ternak dapat mengalami heat stress apabila iklim suatu tempat panas, sehingga ternak tidak banyak melakukan gerak untuk menjaga suhu tubuhnya tetap stabil.

  • Air yang diminum (water intake)

Air sangat penting bagi ternak sebab air mempunyai peran yang penting dalam metabolisme ternak, selain itu air juga membantu ternak melepaskan panas tubuhnya secara konduksi dan penguapan, keperluan air ini akan meningkat apabila temperatur naik. Kelembapan udara juga mempengaruhi air yang diminum apabila kelembapan naik maka akan menurunkan komsumsi air. Parakkasi (1995) menyatakan bahwa temperatur lingkungan yang tidak menyebabkan stress, tingkat konsumsi air sapi dewasa berkisar antara 3-3,5 kg per unit bahan kering yang dikonsumsi dan anak sapi biasanya lebih tinggi, yaitu 6-7 kg per unit bahan kering yang dikonsumsi.

  • Hilangnya zat-zat makanan

Semakin sering ternak berkeringat dan mengeluarkan air ludah maka akan semakin banyak zat makanan yang hilang. Ternak mamalia apabila mereka berkeringat maka mereka akan kehilangan air dan mineral dari dalam tubuhnya terkecuali jenis unggas tidak dapat berkeringat karena tidak mempunyai kelenjar keringat.

  • Pengaruh terhadap pertumbuhan

Menurunnya nafsu makan pada ternak disebabkan temperatur yang sangat tinggi akibatnya feed intake ternak pun akan menurun dan juga mempengaruhinya lamanya merumput dan akhirnya juga mempengaruhi produktififtas dari ternak.

  • Pengaruh tingkah laku ternak

Masing-masing ternak memiliki kondisi lingkungan nyaman, namun hal tersebut tidak berbeda ketika terjadi masalah temperatur. Bila kondisi lingkungan pada ternak tinggi maka akan mengakibatkan ternak mengalami stres yang dapat dilihat dari tingkah laku ternak itu sendiri. Faktor internal dan eksternal merupakan faktor yang dapat menyebabkan stres pada ternak. Faktor Internal terdiri dari penyakit, vaksinasi, penyapihan. Faktor Eksternal terdiri dari: cuaca,makanan dan lingkungan. Stres dapat mengakibatkan tindakan anomali pada ternak (tindakan yang abnormal yang diakibatkan tekanan pada ternak). Misalkan anomali pada ternak sapi: suka menendang pengembala dan anomali lain adalah  mean bull (semacam kelakuan sapi jantan yang dipelihara dalam kandang dan tidak dikawinkan) yaitu stres akibat kekurangan makanan sehingga kandangya sendiri dimakan.

2). Pengaruh Secara Tidak Langsung

  • Kualitas dan kuantitas makanan yang tersedia

Yang dimaksud adalah seperti makanan yang dimakan, air yang diminum, dan mempengaruhi kandungan gizi dari tanaman yang dimakan serta daya cerna yang rendah karena serat kasarnya sangat tinggi akan mempengaruhi daya produksi menjadi rendah.

  • Adanya parasit dan penyakit

Lingkungan dengan panas dan kelembaban yang tinggi merupakan tempat yang baik bagi jamur, parasit, nyamuk, lalat, dan penyakit lain. Pengaruh iklim secara tidak langsung terhadap parasit penyakit karena pada daerah tropis yang curah hujannya hanya cukup untuk tumbuhnya semak-semak. Dengan adanya semak-semak menyebabkan berkembangbiaknya nyamuk (missal: nyamuk asetse di Afrika) yang dapat mengakibatkan penyakit tidur dan dapat menyebabkan kematian yang mempengaruhi proses metabolisme ternak terserang.

  • Penyimpanan dan panangan hasil ternak

Iklim tropis baik lembab/kering dapat merusak hasil ternak dan oleh sebab itu maka biaya prosessing dan penanganannya bertambah Aklimatasi merupakan proses yang kompleks dimana seekor hewan menyesuaikan diri pada lingkungan dimana ternak tersebut hidup.

III. PENUTUP

Ternak Sapi, khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dan penting artinya didalam kehidupan masyarakat. Budidaya dan pengembangan peternakan sapi potong saat ini menunjukkan prospek yang sangat cerah dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi pertanian. Budidaya peternakan sapi potong juga sangat bergantung pada kondisi lingkungan setempat (faktor ekologi) antara lain suhu, kelembapan, curah hujan, tiupan angin (kecepatan udara) dan intensitas cahaya. Secara kolektif komponen-komponen ini dikenal sebagai lingkungan fisik dan akan berpengaruh pada: pengaruh Secara Langsung (Perilaku merumput; Pengunaan makanan dan pengambilan makanan; Air yang diminum (water intake); Hilangnya zat-zat makanan; Pengaruh terhadap pertumbuhan; Pengaruhi tingkah laku ternak) dan Pengaruh Secara Tidak Langsung (Kualitas dan kuantitas makanan yang tersedia; Adanya parasit dan penyakit; Penyimpanan dan panangan hasil ternak). Hubungan usaha peternakan dan pemanasan global adalah peternakan sebagai penghasil gas-gas emisi seperti metana dan karbon dioksida.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Bambang. 2005. Beternak Sapi Potong, Cetakan XV, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2005.

Bamualim, Abdullah. 2002. Sistem Peternakan di Lahan Kering: Kumpulan Bahan Kuliah Pertanian Lahan Kering: Pengaruh Iklim Kering Pada Produktivitas Peternakan. Program Pasca Sarjana-Undana, hal. 57-76.

Irwan, D., Zoer’aini. 2010. Prinsip-Prinsip Ekologi, Ekosistem, Lingkungan dan Pelestariannya. Cetakan Ke VI, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

Partodihardjo, Soebadi., Tanpa Tahun Terbit. Ilmu Reproduksi Hewan, Penerbit Mutiara.

Santosa, Undang. 2004. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Seri Agribisnis, Cetakan V, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.

Sonny Keraf, A. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Sutedjo, H. 2011. Manajemen Pembangunan Peternakan. Catatan Kuliah Program Pasca Sarjana, Undana Kupang.

Toelihere, M.R. 1993. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Cetakan III, Penerbit Angkasa, Bandung.

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s