MATERI: Pengelolaan Mengenai Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, dan Sumber Daya Buatan di Pedesaan

A. Perkembangan Pengelolaan SDA di Pedesaan

Sumber daya alam suatu wilayah adalah merupakan semua bahan/unsur/ material yang terdapat dan dimiliki oleh suatu suatu daerah secara alami. Artinya, sumber daya tersebut telah disediakan oleh alam yang timbul sebagai akibat proses alamiah dan berguna bagi kehidupan umat manusia. Sumber daya alam mencakup semua unsur tata lingkungan, biologis dan fisik (biofisik) yang dengan nyata atau secara potensial dapat menunjang kehidupan dan memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Sifat penyebaran sumber daya alam secara geografis tidak merata di dunia ini. Dimana antara satu wilayah dengan wilayah lain memiliki sumber daya alam yang tidak sama satu sama lain. Dalam artian, tidak ada satu wilayah-pun di muka bumi ini yang memiliki potensi sumber daya alam yang persis sama dengan wilayah lainnya. Hal yang perlu mendapatkan perhatian serius, bahwa keberadaan sumber daya alam yang semakin lama semakin penting, karena adanya permintaan dan penggunaan sumber daya alam antar daerah akibat perkembangan ekonomi, sosial, industri, iklim dan sebagainya.

Perkembangan peradaban serta struktur sosio ekonomi masyarakat suatu wilayah juga memberikan tekanan dan pengaruh besar dalam menentukan jenis dan sumber daya yang diperlukan serta cara bagaimana pegelolaan, pemanfaatan atau penggunaan sumber daya tersebut. Hal ini menyebabkan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya timbul saling ketergantungan satu sama lain. Ketiadaan atau kekurangan terhadap suatu sumber daya tertentu bagi suatu wilayah akan dapat dipenuhi dari wilayah lain yang memiliki kelebihan akan sumber daya tersebut, demikian pula sebaliknya. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai mekanisme atau kerjasama yang disepakati oleh wilayah-wilayah tersebut.

Secara garis besar sumber daya alam dapat digolongkan ke dalam dua bagian utama, yaitu:

  1. Sumber Daya Alam Hayati; mencakup semua sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Dalam artian, sumber daya alam yang dapat dibudidayakan atau dapat dikembangbiakkan, seperti tanaman (tumbuhan), hewan (hewan ternak, hewan laut dan lain-lain), terumbu karang dan sebagainya.
  2. Sumber Daya Alam Nonhayati; mencakup semua sumber daya alam dengan ciri-ciri utamanya adalah tidak dapat diperbaharui oleh manusia. Artinya, jika sumber daya alam tersebut dieksploitaasi secara tidak bijaksana maka akan mempercepat terjadinya pemusnahan sumber daya alam nonhayati tersebut, seperti tanah, minyak bumi, bahan tambang atau mineral (seperti nikel, tembaga, seng, besi, timah, emas dan lain-lain).

Dalam sistem pengelolaan sumber daya alam pedesaan telah menerapkan sistem pengelolaaan sumber daya alam yang berorentasi pada kepentingan lokal/adat yang tinggal di dalam dan atau di sekitarnya yang menerapkan kelestarian dan daya dukung lingkungan, yaitu pola pengelolaaan sumber daya alam yang berasaskan pada prinsip-prinsip Sustainabillity. Masyarakat satu mempunyai ciri mungkin sama dengan masyarakat adat lainnya umumnya, dalam pengelolaan SDA setiap pembukaan lahan mereka mengikuti pola dari kebun, menjadi Talun dan akhirnya sampai hutan lagi lalu mereka tinggalkan mereka akan membuka lahan baru lagi yang mereka anggap masih subur dalam wilayahnya tersebut, tapi suatu saat mereka akan kembali lagi ketempat yang tadinya mereka hutankan untuk membuka dan mengelolanya begitu seterusnya.

Kearifan lokal ikut berperan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungannya. Namun demikian kearifan lokal juga tidak lepas dari berbagai tantangan, seperti bertambahnya terus jumlah penduduk, teknologi modern dan budaya, modal besar serta kemiskinan dan kesenjangan. Adapun prospek kearifan lokal di masa depan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat, inovasi teknologi, permintaan pasar, pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati di lingkungannya serta berbagai kebijakan pemerintah yang berkaitan langsung dengan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan serta peran masyarakat lokal.

 B. Perkembangan Pengelolaan SDM di Pedesaan

Pedesaan adalah perangkat negara yang secara administratif paling kecil dan sederhana. Desa identik dengan masyarakat petani, yaitu dalam kenyataan kehidupan, di desa berkembang adalah kombinasi usaha pertanian yang dominan dengan usaha-usaha kecil lain lain di luar pertanian yang bervariasi sebagai penunjang. Wilayah desa indetik pula dengan tingkat pendidikan masyarakat desa yang relatif rendah. Di pedesaan adalah sebagian besar penduduk berada dan umumnya sebagian besar adalah penduduk miskin.

Sumber daya manusia (SDM) adalah potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutann. Saat ini sumber daya manusia memegang peranan penting dalam proses pembangunan. Semakin tinggi kualitas SDM maka semakin mendorong kemajuan. Peningkatan SDM di Pedesaan merupakan langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Disadari, bahwa pembangunan SDM di pedesaan masih mengandalkan pada eksplorasi sumber daya alam.

Sebagian besar perdesaan di Indonesia boleh dikatakan memiliki sumber daya manusia yang melimpah namun dikarenakan SDM belum memadai, tingkat pendidikan formal yang rendah atau tidak menyelesaikan pendidikan dasar sehingga produktivitas masih rendah, tidak mampu menghasilkan produk olahan dan komoditas primer yang bernilai tambah lebih tinggi. Rendahnya SDM ini menjadi titik lemah atau bisa dikatakan “potret buram” pembangunan SDM di Indonesia secara umum dan pembangunan SDM pedesaan khususnya.

Dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan melakukan pengelolaan potensi sumber daya manusia, melalui pendekatan subyektif. Pendekatan subyektif adalah pendekatan yang menempatkan manusia sebagai subyek yang mempunyai keleluasaan untuk berinisiatif dan berbuat menurut kehendaknya. Pendekatan ini berasumsi bahwa masyarakat lokal dengan pengetahuan, ketrampilan dan kesadarannya dapat meningkatkan peranannya dalam perlindungan sumber daya alam di sekitarnya. Karena itu salah satu upaya untuk meningkatkan peran masyarakat lokal yaitu dengan meningkatkan pengetahuan, ketrampilan yang berkaitan dengan usaha ekonomi, terutama dalam rangka membekali masyarakat dengan usaha ekonomi alternatif.

 C. Pengelolaan Sumber Daya Buatan di Pedesaan

Sumber daya buatan (SDB) adalah sumber daya alam yang telah ditingkatkan dayagunanya untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kepentingan pertahanan negara. Pemanfaatan sumber daya buatan akan mengurangi eksploitasi sumber daya alam sehingga tetap dapat menjaga keseimbangan ekosistem suatu wilayah. Sumber daya buatan adalah hasil pengembangan dari sumber daya alam untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan/atau kemampuan daya dukungnya, antara lain hutan buatan, waduk, dan jenis unggul, yang dalam pemanfaatan dan pengelolaannya dapat menunjang tingkat perkembangan wilayah dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah tersebut. Sumber daya buatan adalah akibat dari intervensi manusia yang telah berubah sumber daya alam menjadi sumber daya buatan. Bentuk sumber daya buatan ini dapat dilihat pada kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, maupun kawasan cagar alam. Fungsi kawasan-kawasan tersebut dapat sebagai pelindung kelestarian lingkungan hidup, dibudidayakan, permukiman, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan manusia dan kesinambungan pembangunan.

Jenis-jenis sumber daya buatan yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan, yaitu:

  1. Sawah; merupakan lahan pertanian basah untuk menanam padi, sudah dikenal lama di berbagai daerah Indonesia. Padi sebagai tanaman utama di sawah memerlukan banyak air jika dibanding dengan tanaman lain. Karena tanaman padi memerlukan banyak air, maka sawah harus mampu menahan air selama mungkin, baik dari air hujan maupun air limpahan sungai, danau/rawa. Sawah diklasifikasikan berdasarkan:
  2. Irigasi; dipengaruhi adanya kebutuhan bahan pangan semakin tinggi. Untuk sawah irigasi kebutuhan air harus selalu tercukupi.
  3. Pola tanam; usaha pergantian tanaman/polikultur untuk efisinesi pemanfaatan sawah. Untuk menjaga kualitas sawah agar dapat memenuhi kebutuhan manusia, maka dilakukan berbagai cara untuk meningkatkan produktivitasnya. Cara-cara yang biasa dilakukan petani untuk meningkatkan produktivitasnya antara lain dengan menggunakan pupuk dan pestisida sesuai kebutuhan. Untuk ini disarankan adanya pertanian organik Sawah dibero, sehingga dapat mengembalikan hara sawah secara alami. Dengan semakin tingginya kebutuhan penduduk akan pangan dan dalam rangka mengejar produktivitasnya, petani tidak hanya menggunakan pupuk dan pestisida organik, tetapi juga menggunakan pestisida dan pupuk anorganik yang sebenarnya mempunyai dampak terhadap lingkungan.
  4. Waduk; merupakan kolam besar tempat menyimpan air sediaan untuk berbagai kebutuhan masyarakat pedesaan. Waduk buatan dibangun dengan cara membuat bendungan yang lalu dialiri air sampai waduk tersebut penuh. Tujuan pembuatan waduk adalah unutk kegiatan irigasi, rekreasi, energi, pengendali banjir dan perikanan. Waduk diklasifikasikan atas dasar peruntukannya.
  5. Perkebunan; merupakan klasifikasi atas dasar komoditas, misalnya perdagangan (kelapa sawit, teh, kopi, karet) dengan pengelola perkebunan dapat dilakukan oleh pemerintah, swasta.
  6. Tegalan; merupakan suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada pengairan air hujan, ditanami tanaman musiman atau tahunan dan terpisah dari lingkungan dalam sekitar rumah. Lahan tegalan tanahnya sulit untuk dibuat pengairan irigasi karena permukaan yang tidak rata. Pada saat musim kemarau lahan tegalan akan kering dan sulit untuk ditubuhi tanaman pertanian.

REFERENSI

Aulia TOS. 2010. Kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya air di Kampung Kuta (Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat). Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dili, Imro. 2010. Pengelolaan Sumber Daya Alam Pedesaan. (internet). (http://imrodili.blogspot.com/). Diakses pada hari Minggu tanggal 19 April 2015.

Indraswati, A. 2015. Potret Buram Pengelolaan SDM. (internet). (http://almaydhapedulibangsa.blogspot.com/). Diakses pada hari Minggu tanggal 19 April 2015.

Qandhi, F., F. 2012. Pentingnya Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan di Pedesaan. (internet). (https://fikafatiaqandhi.wordpress.com/). Diakses pada hari Minggu tanggal 19 April 2015.

Rusnani, R. 2012. Analisis Potensi Sumber Daya Manusia Dalam Upaya Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Di Desa Daramista. Skripsi. Universitas Wiraraja. Madura. (internet). (http://ejournal.wiraraja.ac.id/). Diunduh pada hari Minggu tanggal 19 April 2015.

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s