Fostering pada Ungulata: Babi

PEMBAHASAN

A. Strategi Meningkatkan Kemampuan Hidup Anak Setelah Lahir pada Ternak Mamalia (Babi) dengan Menerapkan Teknik Fostering

Dalam pembentukan kontak antara induk dan anak dimulai dari har pertama perlekatan sel telur yang dibuahi pada uterus dan berlanjut sampai penyapihan. Selama masa kebuntingan, induk memberikan makanan kepada fetus melalui saluran darah plasenta dan kemudian setelah lahir menyusui anak – anaknya.

Pada babi, induk yang akan melahirkan anak cenderung untuk meninggalkan kelompoknya sebelum melahirkan. Penarikan diri dari kelompoknya menolong pembentukan ikatan yang kuat antara induk – anak yang kemudian menyebabkan anak mempunya hak penuh terhadap persediaan air susu induk yang terbatas.

Tingkat pemisahan diri dari kelompoknya akan tergantung kepada breed dan keadaan lingkungan. Sebagai contoh, diantara ternak babi, pemisahan diri dari kelompok pada babi merino kurang kentara dibandingkan dengan breed babi lainnya. Pemisahan diri lebih mudah terjadi pada ternak yang digembalakan di padang rumput yang luas dengan teras yang patah – patah yang memberikan beragam sudut dibandingkan dengan segi empat kecil, padang penggembalaan yang rata dengan jumlah ternak yang banyak, serta kelahiran yang diserentakkan sehingga beberapa anak lahir pada saat yang bersamaan.

Untuk ternak ruminansia yang dilepaskan di padang rumput, tempat melahirkan biasanya tetap di tempat amnion jatuh pertama kali. Di Indonesia, kebanyakan ternak dipelihara dalam kandang secara terus menerus, sehingga pemisahan diri tidak mungkin dilakukan, kecuali induk yang melahirkan ditaruh sendirian di dalam satu kandang terpisah.

Terjadi hubungan timbal balik yang intensif antara induk–anak. Induk hewan babi menjilati membran dan cairan plasenta anak yang baru lahir. Sedangkan anak itu sendiri berusaha untuk berdiri dan mencari putting susu induk untuk mendapatkan kolostrum yang sangat penting bagi pertumbuhannya. Induk tidak membutuhkan waktu cukup lama untuk mengenali anaknya, tetapi anaknya memerlukan beberapa hari untuk mengenal induknya dan jika lapar akan mendekati siapa saja dan bahkan bukan induknya sendiri untuk menyusui selama berminggu-minggu. Hal yang sangat kritis bagi anak adalah belajar menyusu untuk dapat minum kolostrum, dan kemudian susu biasa dari induknya.

B. Budidaya Babi yang Efektif dalam Mengatasi Mortalitas Anak yang Tinggi dengan Menerapkan Teknik Fostering sebagai Altematif

Membudidayakan babi telah menjadi bagian dari peternakan dasar yang telah dilakukan sekian lama. Seiring waktu hal bisa berubah sehingga alasan asli yang jauh dari praktik saat ini. Pada beberapa peternakan yang terlalu banyak mempunyai babi sedang bergerak terlalu sering dan di peternakan lain pembinaan semakin dalam efektifitas yang dilakukan dengan cara pengendalian penyakit yang efektif pula.

Induk babi biasanya melahirkan anaknya pada sarang yang telah dibangunnya (bila materi tersedia). Kemampuan regulasi dan pertahanan suhu tubuh anak babi kurang berkembang dibanding ternak ungulata sehingga memerlukan sarang untuk membantu mempertahankan suhu tubuh. Mekanisme bersarang dapat meningkatkan resiko kematian anak akibat tertndih induknya di sarang sebesar 20%.

Terdapat beberapa kasus induk kanibal yang memakan anaknya. Jalinan induk–anak pada babi tidak sebaik ungulata, sehingga memungkinkan pemeliharaan anak oleh induk lain (fostering) pada induk babi yang melahirkan bersamaan tetapi terpisah apabila pengaturan jumlah anak dilakukan sebelum anak berumur 1 minggu dan sebelum susunan anak pada putting terbentuk.

Induk babi tidak menjilati atau membersihkan anaknya. Secara alami setelah “terengah–engah” karena belum bernafas beberapa saat setelah lahir, anak babi kemudian akan terbatuk, bernapas dalam dan baru kemudian dapat bernafas dengan normal. Terdapat persaingan yang sangat ketat antar anak untuk mendapatkan putting susu terdepan yang memiliki produksi susu terbesar hingga terbentuk susunan anak pada putting susu secara permanen.

Tatalaksana yang paling kritis adalah pada waktu induk akan beranak. Pada waktu beranak, induk dapat berbaring, membentangkan tubuh, dan menendang kebelakang dengan kaki ke atas atau dapat berguling-guling ke sisi lain. Setiap bergerak, cairan dipaksa keluar dari alat kelamin, hingga fetus keluar dengan usaha induk mengeluarkannya perlu diperhatikan. Induk gemetar dan menekan dadanya pada selang waktu tertentu.

Seekor induk atau babi dara biasanya beranak dengan merebahkan diri pada suatu sisi dan meletakkan bagian punggungnya pada dinding atau bagian lain yang mendukung atau menopanng. Tetapi dalam keadaan terisolasi, induk dapat melahirkan sebagian anaknya paa keadaan terbaring dengan perut dibagian bawah, bahkan dapat juga elahirkan dengan posisi kaki ke atas satu.

Biasanya anak babi dilahirkan dengan jarak waktu kurang dari satu menit hingga 20 menit. Bantuan harus diberikan apabila terjadi suatu penundaan atau ketika terjadi ketegangan tanpa seekorpun anak babi dilahirkan. Induk yang sedikit terlambat beranak harus disuntik dengan 2 ml ekstrak pituitary pada bagian paha. Apabila penundaan kelahiran disebabkan kekurangan hormonal, maka perlu diinjeksi untuk mempengaruhi ternak dengan oxytocin atau jenis obat lain dengan aktivitas oksitoksik. Bahan ini hanya merangsang kontraksi otot licin dari dinding uterus dan kemudian mempercepat pengeluaran fetus.

C. Seleksi Genetik untuk Tingkah Laku Keindukan dari Babi

Seleksi genetik terhadap regulasi endokrine dan penginderaan tingkah laku keindukan pada ungulata (babi), dapat dilihat dari beberapa peranan hormon yang kemudian dijadikan acuan dalam seleksi, yaitu :

  1. Peranan Hormon terhadap Permulaan Tingkah Laku Keindukan

Stimulasi hormon sintetik estrogen dan progesteron dapat merangsang laktasi pada babi betina bahkan pada kondisi tidak bunting, namun hasil yang diperoleh stimulasi dengan menggunakan estrogen menghaslkan stimulasi tingkah laku keindukan yang lebih baik. Pada kondisi konsentrasi estrogen sedikit dan progesteron yang tinggi dapat mengakibatkan tdak munculnya tingka laku keindukan dari babi betina tersebut.

  1. Pengaruh Hormon terhadap Lamanya Periode Sensitif

Perlakuan untuk mengidentifikasi jalinan induk–anak untuk mengetahui periode kritis ikatan menunjukkan bahwa hanya sesudah 4 jam pemisahan pada saat lahir 50% dari induk menerima anaknya sendiri. Hal ini menngkat menjadi + 75% bila pemisahan terjadi 12 atau 24 jam sesudah lahir, sedangkan pemisahan selama 24 jam pada waktu 2 sampai 4 hari setelah kelahiran beresiko jauh lebih kecil, hanya 1 dari 10 ekor yang ditolak untuk sementara. Periode sensitif/kritis ini berada di bawah kontrol hormon estrogen dan bukan prolaktin.

  1. Pengaruh Karakteristik Anak yang Baru Lahir

Penurunan respon sifat keindukan dalam hubungannya dengan waktu lahir paling tidak sebagian diduga disebabkan karena penurunan daya tarik anak babi itu sendiri.

  1. Pengaruh Indera Bau

Bau sangat penting peranannya dalam penerimaan induk untuk menyusui anaknya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mekanisme menyusui anak terganggu akibat penghilangan bau, pecucian anak atau dengan mencampurkan bau yang berbeda meskipun dari induknya. Pada mulanya hormon merangsang sifat keindukan dan sifat keindukan ini sangat dibantu oleh pengalaman sebelumnya dari induk–induk tersebut.

Selanjutnya anak babi mulai mempengaruhi tingkah laku keindukan dan informasi melalui penginderaan anak yang baru lahir menjadi sangat penting. Setelah akhir periode sensitif, tingkah laku keindukan berubah dari dipengaruhi hormon menjadi dipengaruhi kontrol syaraf yang tidak tergantung dari kontrol hormon. Hal ini juga berlaku pada kambing dan sapi. Pengenalan induk anak mencakup dua proses yaitu pengenalan induk terhadap anak dan anak terhadap induk. Kedua proses ini melibatkan isyarat penciuman, pendengaran dan penglihatan. Peranan indera lebih lanjut dikaji pada sub kajian peranan indera terhadap proses pengenalan induk–anak.

  1. Pengaruh Pelebaran Vagina

Stimulasi vagina dapat dipergunakan sebagai stimulasi penerimaan anak yang dipelihara oleh induk lain.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :

  1. Beberapa induk terutama babi yang baru beranak pertama kali cenderung memakan anaknya (kanibalisme) selama atau segera setelah beranak. Apabila diganggu dengan anak babi yang sedang menjerit atau diganggu dengan suara lain, induk babi segera menyentak anak babi yang baru lahir; pada kondisi demikian anak babi harus dijauhkan dari induk dan dikembalikan ke induk hanya setelah induk mengembangkan naluri keibuannya. Apabila induk tidak tenang dan tetap jahat, dapat disuntik dengan obat penenang. Setiap induk yang tetap bersifat ganas terhadap anak-anaknya pada setiap kali melahirkan, induk tersebut harus diafkir.
  2. Membudidayakan babi telah menjadi bagian dari peternakan dasar yang telah dilakukan sekian lama. Seiring waktu hal bisa berubah sehingga alasan asli yang jauh dari praktik saat ini. Pada beberapa peternakan yang terlalu banyak mempunyai babi sedang bergerak terlalu sering dan di peternakan lain pembinaan semakin dalam efektifitas yang dilakukan dengan cara pengendalian penyakit yang efektif pula. Mekanisme bersarang dapat meningkatkan resiko kematian anak akibat tertndih induknya di sarang sebesar 20%. Terdapat beberapa kasus induk kanibal yang memakan anaknya. Jalinan induk–anak pada babi tidak sebaik ungulata, sehingga memungkinkan pemeliharaan anak oleh induk lain (fostering) pada induk babi yang melahirkan bersamaan tetapi terpisah apabila pengaturan jumlah anak dilakukan sebelum anak berumur 1 minggu dan sebelum susunan anak pada putting terbentuk.
  3. Seleksi genetik terhadap regulasi endokrine dan penginderaan tingkah laku keindukan pada ungulata (babi), dapat dilihat dari peranan hormon yang kemudian dijadikan acuan dalam seleksi.

B. Saran

Salah satu saran yang dapat dikemukan oleh penulis, yaitu meskipun ternak babi secara alami merupakan ternak yang ramai dan gaduh terutama pada waktu mau makan, seekor induk memerlukan lingkungan yang tenang pada waktu beranak. Pengaruh kebisingan cenderung menyebabkan perpanjangan waktu atau lam melahirkan atau reaksi akan beranak. Dengan demikian, disarankan supaya tidak mengganggu induk pada saat beranak kecuali terjadi kesulitan dalam melahirkan anak.

DAFTAR PUSTAKA

Dayanti, M. 2013. Tingkah laku Hewan induk-Anak, (online), (http://maulidayanti1.blogspot.com/2013/05/tingkah-laku-hewan-induk-anak.html. Diakses pada hari Sabtu tanggal 14 desember 2103).

Wipra, V.D. 2010. Tingkah Laku dan Fostering, (archive), (http://vdwipra.blogspot.com/2010_11_01_archive.html. Diakses pada hari Sabtu tanggal 14 desember 2103).

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s