MATERI MINI: Perbedaan Tatanan Kehidupan Sosial Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

SOSIOLOGI PERTANIAN

“Perbedaan Tatanan Kehidupan Sosial Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan”

Oleh :

IQBAL JALIL HAFID

O 121 12 094

logo untad

JURUSAN PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN

UNIVERSITAS TADULAKO

2015

 

A. Tatanan Kehidupan Sosial Masyarakat Pedesaan

Masyarakat pedesaan selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Masyarakat pedesaan juga ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yagn amat kuat yang hakikatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebgai masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat.

Adapun yang menjadi ciri masyarakat desa, yaitu di dalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan, sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat, dan sebagainya.

B. Tatanan Kehidupan Sosial Masyarakat Perkotaan

Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap ciri yang menonjol pada masyarakat kota, yaitu kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain, yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu.

Di kota-kota kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan, sebab perbedaan kepentingan paham politik, perbedaan agama dan sebagainya. Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi. Pembagian kerja di anatra warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu.

C. Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

Perbedaan yang lebih menonjol dan seringkali dirasakan oleh masyarakat pedesaan dan perkotaan, dapat dilihat dari aspek:

1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam

Masyarakat perdesaan berhubungan kuat dengan alam, karena lokasi geografisnyadi daerah desa. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam. Berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.

2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian

Pada umumnya mata pencaharian di dearah perdesaan adalah bertani tapi tak sedikit juga yang bermata pencaharian berdagang, sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha.

  • Ukuran Komunitas

Komunitas perdesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan.

  • Kepadatan Penduduk

Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk kota, kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dgn klasifikasi dari kota itu sendiri.

  • Homogenitas dan Heterogenitas

Homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku nampak pada masyarakat pedesaan bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dengan macam-macam perilaku, dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen.

  • Diferensiasi Sosial

Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yang tinggi di dalam diferensiasi sosial.

  • Pelapisan Sosial

Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam bentuk “piramida terbalik”, yaitu kelas-kelas yang tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat. Ada beberapa perbedaan pelapisan sosial yang tak resmi antara masyarakat desa dan kota, yaitu pada masyarakat kota aspek kehidupannya lebih banyak system pelapisannya dibandingkan dengan di desa. Pada masyarakat desa kesenjangan antara kelas eksterm dalam piramida sosial tidak terlalu besar dan sebaliknya. Masyarakat perdesaan cenderung pada kelas tengah. Ketentuan kasta dan contoh perilaku.

  • Mobilitas Sosial

Mobilitas berkaitan dengan perpindahan yang disebabkan oleh pendidikan kota yang heterogen, terkonsentrasi nya kelembagaan-kelembagaan.

  • Pengawasan Sosial

Di kota pengawasan lebih bersifat formal, pribadi dan peraturan lebih menyangkut masalah pelanggaran.

  • Pola Kepemimpinan

Menentukan kepemimpinan di daerah perdesaan cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu dibandingkan dengan kota.

  • Standar Kehidupan

Di kota tersedia dan ada kesanggupan dalam menyediakan kebutuhan tersebut, di desa tidak demikian.

  • Kesetiakawanan Sosial

Kesetiakawanan sosial pada masyarakat perdesaan dan perkotaan banyak ditentukan oleh masingmasing faktor yang berbeda.

D. Hal yang Terjadi Jika Terdapat Perubahan Sosial

Dengan adanya perubahan sosial religius dan perkembangan era informasi dan teknologi, terkadang sebagian karakteristik tersebut sudah “tidak berlaku”. Didalam masyarakat pedesaan kita mengenal berbagai macam gejala, khususnya tentang perbedaan pendapat atau paham yang sebenarnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan–ketegangan sosial. Gejala-gejala sosial yang sering diistilahkan dengan konflik, kontraversi, kompetisi.

  1. Konflik, pertengkaran-pertengkaran yang terjadi biasanya berkisar pada masalah sehari-hari rumah tangga dan sering menjalar ke luar ruamah tangga.
  2. Kontraversi, pertentangan bisa disebabkan oleh perubahan konsep-konsep kebudayaan (adat-istiadat), psikologi atau dalam hubungannya dengan guna-guna (black magic). Para ahli hukum adat biasanya meninjau masalah kontraversi ini dari sudut kebiasaan masyarakat.
  3. Kompetisi (persiapan), masyarakat pedesaan adalah manusia pada biasanya yang antara lain mempunyai saingan dengan manifestasi sebagai sifat ini. Oleh karena itu, maka wujud persaingan itu bisa positif dan bisa negatif.

Berangkat dari kondisi yang sama, yaitu kebutuhan ekonomi, sebagai penyebab perubahan sosial masyarakat kota maupun masyarakat desa. Perbedaan mendasar perubahan sosial pada cara memaknai kebutuhan ekonomi. Masyarakat kota didominasi oleh sifat konsumtif yang menghasilkan konsumerisme, gaya hidup, demi gengsi dan harga diri, dan jaga image. Masyarakat desa didominasi oleh kebutuhan akan asupan gizi dan nutrisi untuk kegiatan sehari. Mereka terjebak dengan kebutuhan kuantitas.

Urbanisasi, terlebih dalam artinya sebagai proses pengotaan, adalah suatu bentuk khusus modernisasi. Dengan kata lain, konsep modernisasi yang sangat luas cakupan pengertiannya itu mendapatkan bentuknya yang khusus di pedesaan dalam konsep urbanisasi. Sebagaimana diketahui urbanisasi adalah proses pengotaan (proses mengotanya suatu desa), proporsi penduduk yang tinggal di desa dan di kota, dan perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanward migration).

Cepat-lambatnya atau besar-kecilnya perubahan dan perkembangan yang terjadi tergantung pada banyak faktor, antara lain tergantung- kepada potensi wilayah yang bersangkutan. Perubahan itu secara umum cenderung mengarah ke sifat-sifat perkotaan. Namun, tidak semua perubahan dan perkembangan yang terjadi di desa itu dapat disimpulkan sebagai proses pengkotaan (proses perubahan desa menjadi kota). Proses perubahan itu seringkali hanya merupakan proses perubahan biasa saja, yang hakekatnya secara umum terjadi di semua kelompok masyarakat.

Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar. Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat pedesaan dan perkotaan itu bisa berupa kemajuan maupun kemunduran.

1). Perubahan sebagai suatu kemajuan (progress)

Perubahan sebagai suatu kemajuan merupakan perubahan yang memberi dan membawa kemajuan pada masyarakat. Hal ini tentu sangat diharapkan karena kemajuan itu bisa memberikan keuntungan dan berbagai kemudahan pada manusia. Perubahan kondisi masyarakat tradisional, dengan kehidupan teknologi yang masih sederhana, menjadi masyarakat maju dengan berbagai kemajuan teknologi yang memberikan berbagai kemudahan merupakan sebuah perkembangan dan pembangunan yang membawa kemajuan. Jadi, pembangunan dalam masyarakat merupakan bentuk perubahan ke arah kemajuan (progress).

 Contoh:

  • Listrik masuk desa;
  • Penemuan alat-alat transportasi, memudahkan dan mempercepat mobilitas manusia proses pengangkutan;
  • Penemuan alat-alat komunikasi yang modern, seperti telepon dan internet, memperlancar komunikasi jarak jauh;
  • Masuknya jaringan listrik membuat kebutuhan manusia akan penerangan terpenuhi;
  • Penggunaan alat-alat elektronik meringankan pekerjaan dan memudahkan manusia memperoleh hiburan dan informasi.

2). Perubahan sebagai suatu kemunduran (regress)

Tidak semua perubahan yang tujuannya ke arah kemajuan selalu berjalan sesuai rencana. Terkadang dampak negatif yang tidak direncanakan pun muncul dan bisa menimbulkan masalah baru. Jika perubahan itu ternyata tidak menguntungkan bagi masyarakat, maka perubahan itu dianggap sebagai sebuah kemunduran.

Contoh:

  • Penggunaan HP sebagai alat komunikasi. HP telah memberikan kemudahan dalam komunikasi manusia, karena meskipun dalam jarak jauh pun masih bisa komunikasi langsung dengan telepon atau SMS. Disatu sisi HP telah mempermudah dan mempersingkat jarak, tetapi disisi lain telah mengurangi komunikasi fisik dan sosialisasi secara langsung.
  • Teknologi telah menimbulkan dampak berkurangnya kontak langsung dan sosialisasi antar manusia atau individu.

3). Perubahan secara lambat (evolusioner)

Perubahan-perubahan ini berlangsung mengikuti kondisi perkembangan masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha-usaha masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dengan kata lain, perubahan sosial terjadi karena dorongan dari usaha-usaha masyarakat guna menyesuaikan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan perkembangan masyarakat pada waktu tertentu.

Contoh:

  • Perubahan sosial dari masyarakat berburu menuju ke masyarakat meramu;
  • Perubahan sosial pada masyarakat tradisional atau primitif.

4). Perubahan secara cepat (revolusioner)

Seringkali perubahan revolusi diawali oleh munculnya konflik atau ketegangan dalam masyarakat, ketegangan-ketegangan tersebut sulit dihindari bahkan semakin berkembang dan tidak dapat dikendalikan.

 Contoh:

  • Perubahan karena revolusi politik;
  • Peristiwa reformasi (seperti pada era runtuhnya rezim Soeharto);
  • Peristiwa Tsunami di Aceh;
  • Semburan lumpur Lapindo (Sidoarjo).

5). Perubahan yang membawa pengaruh kecil dan pengaruh besar

Perubahan yan membawa pengaruh kecil merupakan perubahan sosial yang tidak menyangkut berbagai aspek kehidupan dan perubahan itu tidak menimbulkan perubahan pada struktur sosial. Perubahan yang membawa pengaruh besar merupakan perubahan sosial yang dapat membawa perubahan dalam berbaai aspek kehidupan dan menimbulkan perubahan pada struktur sosial.

Contoh:

  • Perubahan mode pakaian (berdampak kecil);
  • Dampak ledakan penduduk dan dampak industrialisasi bagi pola kehidupan masyarakat (berdampak besar);
  • Sistem kerja, hak milik tanah, hubungan kekeluargaan dan stratifikasi masyarakat.

Referensi:

 Destiara, C. 2013. Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan, (online) (https://ciptadestiara.wordpress.com/). Diakses pada hari Minggu tanggal 8 Maret 2015.

Cristiany, Y. 2013. Sosiologi Pedesaan: Perubahan Sosial yang Terjadi pada Masyarakat Desa, (online) (http://s3.amazonaws.com/). Diunduh pada hari Minggu tanggal 8 Maret 2015.

Sani, D. 2012. Perbedaan Perubahan Sosial pada Masyarakat Kota dan Masyarakat Desa, (online) (http://materikelasxii-sociology-oye.blogspot.com/). Diakses pada hari Minggu tanggal 8 Maret 2015.

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s