Contoh Kelembagaan Kemasyarakatan dalam Bidang Peternakan Secara Umum

SOSIOLOGI PERTANIAN

“Contoh Kelembagaan Kemasyarakatan dalam Bidang Peternakan Secara Umum”

Oleh :

IQBAL JALIL HAFID

O 121 12 094

logo untad

JURUSAN PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN

UNIVERSITAS TADULAKO

2015

Kelembagaan merupakan wadah organisasi bagi peternak untuk melakukan aktifitas usaha agribisnis peternakan, mulai dari hulu sampai hilir, membangun koordinasi dengan stake holder terkait.

Peranan kelembagaan peternak sangat penting dan strategis dalam rangka mewujudkan hubungan antara peternak dalam jaringan kerja sama dengan para stake holder untuk membangun dan memperkuat kelembagaannya, guna mendorong tumbuhnya usaha agribisnis peternakan yang lebih efisien, efektif dan berkelanjutan.

Adanya peluang untuk memfasilitasi pelaku agribisnis peternakan agar mampu meningkatkan produktifitas dan nilai tambah usaha yang lebih optimal. Kemudahan akses informasi, teknologi, sarana dan prasarana, lembaga keuangan dan promosi untuk mendukung pengembangan usaha agribisnis peternakan.

Kelembagaan masyarakat peternakan memiliki nama khas untuk masing-masing daerah, beberapa contoh kelembagaan masyarakat petani-peternak, antara lain:

  1. International Association of Student in Agricultural and Related Sciences merupakan asosiasi keprofesian dibidang pertanian secara luas yang merupakan wadah bagi mahasiswa agrokompleks diseluruh dunia (internasional). IAAS di dalam PBB dikenal sebagai y-NGO (youth Non Govermental Organization), yaitu organisasi yang tidak terikat oleh negara atau badan international manapun, bersifat non profit dan tidak dicampuri oleh masalah politik.
  2. FOCIL adalah lembaga non profit, non politik yang berkantor di Kendari, Sulawesi Tenggara, Indonesia. FOCIL melakukan kerja-kerja memperomosikan Pendidikan Lingkungan Hidup, Pertanian Organik, Pemberdayaan Masyarakat dan mata pencaharian berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.
  3. Candoli; lembaga ini bersifat lokal terdapat di wilayah Priangan Timur Jawa Barat (Ciamis, Tasikmalaya, Garut, dan Sumedang). Lembaga ini diakui eksistensinya sebagai penentu waktu panen komunal dan dibutuhkan karena penguasaan akan informasi terkait perkembangan fisik padi (fenomena pertumbuhan) di lahan sawah.
  4. Kepunduhan di Jawa Barat; yang merupakan suatu lingkup kehidupan bertetangga (neighborhood) yang meliputi areal fisik dan populasi di bawah desa. Kepunduhan diketuai oleh seorang punduh yang berfungsi sebagai penyalur informasi dan mediator dengan punduh-punduh lain dan dengan kepala desa setempat.
  5. Otini-tabenak atau dewan adat di wilayah pegunungan tengah Papua, yang berfungsi sebagai penyaring dan penyalur informasi dari dunia luar.
  6. Subak di Bali; Kelembagaan/organisasi petani pengguna air. Kelembagaan ini sebagai contoh yang mampu beradaptasi dan berintegrasi dengan lembaga eksternal. Subak merupakan kelembagaan tradisional unik yang berbentuk organisasii formal di hierarki pemerintah daerah tingkat kabupaten, namun di tingkat lapang (daerah aliran sungai) tetap berbentuk organisasi non-formal.
    Struktur organisasi subak terdiri atas: Sedahan Agung yang merupakan posisi kepemimpinan formal (official position) tingkat pemerintah daerah kabupaten, yang dikepalai oleh pejabat yang mendapat gaji sebagai pegawai negeri. Sedahan Agung membawahi seluruh pekaseh (ketua) subak gde yang berada di wilayah kabupaten tersebut. Subak gde berupa organisasi non-formal dengan seorang seorang pekaseh sebagai ketua yang tidak mendapat gaji atau imbalan dari pemerintah. Subak merupakan contoh terlengkap kelembagaan petani yang memiliki keterkaitan lintas sektor. Kegiatan produksi pertanian dalam konteks subak merupakan suatu kegiatan sosio-tekno-religius daripada sebagai kegiatan tekno-ekonom.
  7. Mayorat di Jawa Barat; merupakan organisasi nonformal yang bertugas mengelola dan mengatur pembagian air guna memenuhi kebutuhan kelompok petani setempat. Mayorat diketuai oleh seorang mayor atau ulu-ulu dan bertugas mengatur penggunaan air dari sumber air komunal di lokasi desa atau kampung. Eksistensi mayorat kini telah dievolusikan menjadi organisasi formal Kelompok Petani Pengguna Air (KPPA).
  8. Plong dan Sonor di Sumatera Selatan. Oragnisasi ini bersifat temporer di lokasi pemukiman transmigrasi pasang surut. Plong adalah kelembagaan normatif gotong royong yang menyediakan pelayanan pengolahan lahan secara bergilir antar anggota, Sonor adalah organisasi gotong royong penanaman padi pada lahan kosong yang dikuasai keluarga petani transmigran dan hanya dilakukan saat kemarau panjang yang terjadi 5 tahun sekali.
  9. Kelompok Ternak di Yogyakarta. Kelompok yang terdiri dari ketua dan terdapat anggota, yaitu para peternak maupun petani yang memiliki ternak, seperti Kelompok Ngudi Makmur, Kelompok Lestari Sewon Bantul, Kelompok Andhini Rahayu Moyudan Sleman, Kelompok Ngudi Mulyo Ganjuran Srihardono Pundong Bantul. Kelompok ini memiliki kegiatan rutin dalam sebulan.
  10. HMP Appaloosa adalah organisasi kemahasiwaan dipimpin oleh mahasiswa peternakan yang ditunjuk dalam rapat anggota dan dibimbing oleh dosen yang ditunjuk oleh jurusan untuk mengarahkan pelaksanaan program-program kerja yang telah dirancang jauh-jauh hari. Ranah kerja HMP Appaloosa adalah bergerak pada bidang peternakan, yang organisir oleh mahasiswa peternakan dari berbagai angkatan. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh organisasi senantiasa behubungan dengan peningkatan kualitas bidang peternakan. Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan antara lain adalah pengembangan desa binaan dan bakti sosial.
  11. Kelompok Tani Marena di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kelompok ini memberdayakan ekonomi masyarakat yang berjangka dibawah naungan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) dengan tujuan untuk mendukung kegiatan usaha para anggota kelompok tani, seperti pengembangan komoditas pertanian, perkebunan dan kehutanan maupun kelompok ternak, seperti peternakan itik.
  12. Sumbar Breeder Club (SBC) berdiri sejak 3 tahun lalu tepatnya tahun 2009. Asosiasi ini berkecimpung di bidang pembibitan sapi Simmental. Produk yang dihasilkan adalah sapi Simmental Tropis. Asosiasi ini belum berbadan hukum dan saat ini masih membutuhkan sekretariat pengelola. SBC sudah bekerjasama dengan LIPI untuk pengembangan dan penelitian. Dan telah membuat pasar lelang khusus untuk bibit sapi Simmental. Pelaksanaan lelang ternak dilakukan setahun dua kali. Dinas Provinsi Sumatera Barat sangat mengapresiasi SBC sebagai asosiasi percontohan perbibitan sapi Simmental.
  13. Asosiasi Sarjana Membangun Desa (SMD) didirikan untuk mewadahi para SMD yang ada di wilayah Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan asosiasi SMD dilaksanakan di masing-masing Kabupaten/Kota dimana SMD berada. Asosiasi SMD berperan sebagai wadah untuk koordinasi dan konsolidasi sesama SMD dimana setiap informasi yang berkembang selalu di sampaikan kepada setiap anggota. Dengan adanya penerimaan SMD setiap tahun, maka asosiasi juga berperan membantu kepada SMD-SMD baru untuk transfer pengetahuan dan pengalaman serta membantu dalam pengadaan ternak. Dengan demikian SMD-SMD baru tersebut dapat membeli ternak langsung ke asosiasi. Ini sangat membantu dalam memulai usaha untuk kelompok peternak baru.
  14. Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) di Sumatera Barat didirikan pada tahun 2011 dengan tujuan untuk mendekatkan hubungan antara peternak kambing/domba dengan Dinas Peternakan. Kegiatan HPDKI diarah untuk mendukung peternak-peternak di setiap kabupaten/kota. Sekretariat HPDKI saat ini berada di Kabupaten Tanah Datar. HPDKI Sumatera Barat saat ini telah berperan dalam membantu anggotanya untuk mendapatkan akses permodalan seperti KUR. Sudah ada empat kelompok peternak yang difasilitasi oleh HPDKI untuk mendapatkan KUR. Selain itu melihat potensi bisnis yang besar, HPDKI juga mendekatkan diri dan bekerjasama dengan BAZ (Badan Amil Zakat) untuk pemenuhan kebutuhan ternak qurban dan aqiqah. HPDKI mengambil peran untuk menumbuhkan kelompok-kelompok baru dan menyampaikan informasi-informasi dari Pemerintah ke peternak. Saat ini anggota HPDKI Sumatera Barat terutama di Kabupaten Tanah Datar sebagai besar adalah peternak kambing perah (PE) dengan produksi rata-rata per ekor per hari adalah 1 liter.

REFERENSI

Anonim. 2012. Informasi Daftar Kelompok Ternak di Yogyakarta, (online), (http://fapet.ugm.ac.id/home/). Diunduh pada hari Minggu tanggal 22 Maret 2015.

_______. 2012. Jenis dan Fungsi Lembaga Kemasyarakatan, (onlin), (http://info-peternakan.blogspot.com/). Diakses pada hari Minggu tanggal 22 Maret 2015.

_______. 2012. Pembinaan Kelembagaan dan Asosiasi Peternakan, (online), (http://budinak.blogspot.com/). Diakses pada hari Minggu tanggal 22 Maret 2015.

_______. Tanpa tahun terbit. FOCIL Foundation Indonesia, (online), (https://blogfocil.wordpress.com/). Diakses pada hari Minggu tanggal 22 Maret 2015.

_______. ___________________. The International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS), (online), (http://www.iaasworld.org/). Diakses pada hari Minggu tanggal 22 Maret 2015.

Masa, A. 2014. TNLL Bantu Kelompok Tani Marena Ternak Itik, (online), (http://sulteng.antaranews.com/). Diakses pada hari Minggu tanggal 22 Maret 2015.

Syamsuharlin, E. 2012. Model Kelembagaan Lokal Masyarakat, (online), (http://iniblog-koe.blogspot.com/). Diakses pada hari Minggu tanggal 22 Maret 2015.

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s