LAPORAN: Performans Reproduksi Sapi Bali di Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara

LAPORAN

KEGIATAN PRAKTIK LAPANGAN ILMU REPRODUKSI TERNAK

PERFORMANS REPRODUKSI SAPI BALI DI KECAMATAN KONDA, KABUPATEN KONAWE SELATAN

OLEH :

IQBAL JALIL HAFID

L1A1 12 102

KELAS B


Diajukan untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh

nilai praktikum pada matakuliah Ilmu Reproduksi Ternak

JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2014

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Ternak sapi sebagai salah satu ternak besar, khususnya di Indonesia telah lama diusahakan oleh petani. Pada peternakan sapi, efisiensi reproduksi sangat penting karena berhubungan dengan keuntungan. Data mengenai penampilan reproduksi pada sapi telah banyak dilaporkan, namun, belum banyak laporan mengenai penampilan reproduksi sapi pada kondisi manajemen yang intensif.

Sapi Bali memiliki keunggulan dibandingkan dengan sapi lainnya antara lain mempunyai angka pertumbuhan yang cepat, adaptasi dengan lingkungan yang baik, dan penampilan reproduksi yang baik. Sapi Bali merupakan sapi yang paling banyak dipelihara pada peternakan kecil karena fertilitasnya baik dan angka kematian yang rendah. Untuk melakukan perbaikan dan peningkatan reproduksi ternak sapi Bali memang tidak mudah karena menyangkut banyak faktor, yaitu: pemilihan bibit atau bakalan (breeding), makanan yang baik (feeding), pengelolaan yang efisien (manajemen), dan juga hal-hal yang berkaitan dengan penanganan terhadap penyakit.

Sulawesi Tenggara sebagai salah satu daerah pemasok sapi potong dan bibit sapi Bali di kawasan Indonesia Timur terus berupaya untuk meningkatkan populasi ternak sapi Bali dengan cara meningkatkan efisiensi reproduksinya. Sapi Bali yang terkenal dengan potensi tingkat fertilitasnya yang tinggi bukan merupakan jaminan utama untuk mendapatkan jarak beranak yang kecil. Hal ini sangat tergantung dari manajemen pemeliharaan ternak yang diterapkan pada daerah tersebut. Selain itu, kurangnya tenaga inseminator terampil dan ketersediaan pejantan merupakan dua kendala yang tidak kalah pentingnya dalam upaya meningkatkan efisiensi reproduksi ternak potong di daerah Sulawesi Tenggara. Oleh karena itu, praktik lapangan mengenai performans reproduksi sapi Bali di Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, sangat perlu dilakukan untuk melibatkan diri secara langsung dalam mempelajari tata laksana yang diterapkan di desa tersebut.

2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang ingin dicapai dalam praktik lapangan ini, yaitu:

  1. Untuk mengetahui karakteristik peternak di Kecamatan Konda.
  2. Untuk mengetahui manajemen reproduksi sapi Bali di Kecamatan Konda.

Manfaat yang dapat diperoleh dari praktik lapangan ini, yaitu:

  1. Mahasiswa dapat mengetahui karakteristik peternak dan manajemen reproduksi sapi Bali di Kecamatan Konda.
  2. Meningkatkan pemahaman mengenai hubungan antara teori dan penerapannya, dan menambah keterampilan kerja tentang manajemen reproduksi ternak sapi Bali dan dapat dijadikan sebagai sarana bertukar informasi, pengetahuan, dan pengalaman dari mahasiswa dengan peternak sehingga dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

 B.TINJAUAN PUSTAKA

1. Sapi Bali (Bos sondaicus)

Sapi Bali merupakan salah satu jenis sapi lokal Indonesia yang berasal dari Bali yang sekarang telah menyebar hamper ke seluruh penjuru Indonesia bahkan sampai luar negeri seperti Malaysia, Filipina, dan Australia. Jenis ini dinamakan sebagai “Sapi Bali” karena memang di propinsi inilah penyebaran utama sapi jenis ini. Sapi Bali (Bos sondaicus) adalah merupakan salah satu bangsa sapi asli dan murni Indonesia, yang merupakan keturunan asli banteng (Bibos banteng) dan telah mengalami proses domestikasi yang terjadi sebelum 3.500 SM di wilayah Pulau Jawa atau Bali dan Lombok. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa sampai saat ini masih dijumpai banteng yang hidup liar di beberapa lokasi di Pulau Jawa, seperti di Ujung Kulon serta Pulau Bali yang menjadi pusat gen sapi Bali (Wikipedia, 2013).

Sapi Bali adalah salah satu plasma nutfah ternak yang mempunyai konstribusi yang cukup besar dalam pemenuhan daging di Indonesia. Menurut data statistik peternakan Indonesia sapi Bali mempunyai konstribusi sebanyak 26,92 persen dibanding bangsa sapi lainnya. Namun demikian kinerja sapi Bali dalam menghasilkan daging belum maksimal sehingga diperlukan berbagai upaya untuk mengoptimalkannya. Usaha-usaha yang sudah dan tengah dilakukan di berbagai daerah antara lain dengan menerapkan berbagai strategi pemberian pakan, manajemen pemeliharaan dan peningkatan genetik melalui seleksi (Supriyantono, 2006) dalam Purwanto (2013).

Sapi Bali memiliki keunggulan dibandingkan dengan sapi lainnya antara lain mempunyai angka pertumbuhan yang cepat, adaptasi dengan lingkungan yang baik, dan penampilan reproduksi yang baik. Sapi Bali merupakan sapi yang paling banyak dipelihara pada peternakan kecil karena fertilitasnya baik dan angka kematian yang rendah (Purwantara et al., 2012).

Sapi Bali mempunyai peranan penting dalam kehidupan masyarakat selain sebagai penghasil daging, petani kecil memanfaatkannya sebagai ternak kerja, penghasil pupuk, dan tabungan. Di Pulau Bali, sapi Bali digunakan untuk pariwisata upacara keagamaan seperti acara “gerumbungan” atau lomba adu sapi dan upacara “Pitra Yadnya” atau sarana pengantar roh ke surga khususnya sapi Bali yang berwarna putih. Bulu sapi Bali dapat dikatakan bagus (halus) pendek-pendek dan mengkilap. Ciri khas pada warna bulu lainnya di bagian punggung terdapat warna hitam yang jelas dari bahu dan berakhir di atas ekor seperti garis lurus (Handiwirawan, 2003).

2. Karakteristik Ukuran Tubuh Sapi Bali (Bos sondaicus)

Bentuk tubuh sapi Bali menyerupai banteng, tetapi ukuran tubuhnya lebih kecil akibat proses domestikasi. Secara umum ukuran badan sapi bali termasuk kategori sedang dengan bentuk badan memanjang, dada dalam, badan padat dengan perdagingan yang kompak, kepala agak pendek, telinga berdiri dan dahi datar. Bulu sapi Bali umumnya pendek, halus dan licin. Sapi Bali betina memiliki tanduk tetapi ukurannya lebih kecil dari sapi Bali jantan. Umumnya tanduk berukuran besar, runcing dan tumbuh agak ke bagian luar kepala dengan panjang untuk sapi jantan antara 25-30 cm dengan jarak anata kedua ujung tanduk 45-65 cm. Sapi Bali jantan dan betina tidak memiliki punuk dan seolah tidak bergelambir (Payne dan Rollinson, 1973; National Research Council, 1983) dalam Wawo (2012).

Ukuran tubuh sapi Bali termasuk dalam kategori sedang dimana sapi Bali betina lebih kecil dibandingkan dengan jantan. Ukuran tubuh sapi Bali juga sangat dipengaruhi oleh tempat hidupnya yang berkaitan dengan manajemen pemeliharaan di daerah pengembangan. Sebagai gambaran umum ukuran tubuh yang dilaporkan Pane (1990) dari empat lokasi berbeda (Bali, NTT, NTB dan Sulawesi selatan) diperoleh rataan tinggi gumba antara 122–126cm (jantan) dan 105–114cm (betina); panjang badan 125–142cm (jantan) dan 117–118cm (betina); lingkar dada 180–185cm (jantan) dan 158–160cm (betina). Rataan ukuran tubuh lainnya tinggi panggul 122cm, lebar dada 44cm, dalam dada 66cm, lebar panggul 37cm (Hendik, 2009).

3. Perkawinan dan Potensi Reproduksi Sapi

Reproduksi pada hewan betina merupakan suatu proses yang kompleks dan dapat terganggu pada berbagai stadium sebelum dan sesudah permulaan siklus reproduksi. Siklus ini dimulai dengan pubertas atau dewasa kelamin yang ditandai dengan berfungsinya organ-organ kelamin betina. Kemudian musim kawin yang ditandai dengan siklus birahi, kopulasi, adanya kelahiran setelah kebuntingan dan anak disapih. Maka ternak betina akan kembali ke masa siklus birahi dan seterusnya (Toelihere, 1981).

Umur dewasa kelamin rata-rata 18–24 bulan untuk betina dan 20–26 bulan untuk jantan (Payne dan Rollison, 1973; Pane, 1991); umur kawin pertama betina 18–24 bulan dan jantan 23–28 bulan; beranak pertama kali 28–40 bulan dengan rataan 30 bulan (Sumbung et al., 1978; Davendra et al., 1973; Payne dan Rollinson, 1973) dengan lama bunting 285-286 hari (Darmadja dan Suteja, 1975) dan jarak beranak 14–17 bulan (Darmadja dan Sutedja, 1976) dengan persentase kebuntingan 80–90% dan persentase beranak 70–85% (Pastika dan Darmadja, 1976; Pane, 1991).

Letak kebuntingan pada ternak sapi biasanya pada daerah perut bagian kanan. Hal ini disebabkan aktivitas ovarium kanan dan kiri tidak sama. Ovarium kanan pada sapi lebih aktif dan besar bila dibandingkan dengan ovarium kiri. Volume uterus mengembang mengikuti pertumbuhan embrio atau fetus yang dikandungnya. Bagian cornu uterus akan berangsur turun, biasanya terjadi pada usia kebuntingan 90 hari. Pada umur 4 bulan ujung uterus sampai ke dasar ruang perut. Pada usia 5 bulan dasar perut dipenuhi oleh uterus yang bunting. Pada usia 9 bulan, dinding uterus bersentuhan dengan dinding rektum (Sugeng, 2003).

Rata-rata siklus estrus adalah 18 hari, pada sapi betina dewasa muda berkisar antara 20–21 hari, sedangkan pada sapi betina yang lebih tua antara 16–23 hari selama 36–48 jam berahi dengan masa subur antara 18–27 jam (Pane 1979; Payne, 1971) dan menunjukkan birahi kembali setelah beranak antara 2–4 bulan (Pane, 1979).

Sapi Bali menunjukkan estrus musiman (seasonality of oestrus), 66% dari sapi Bali menunjukkan estrus pada bulan Agustus–Januari dan 71% dari kelahiran terjadi bulan Mei–Oktober dengan sex ratio kelahiran jantan banding betina sebesar 48,06% : 51,94% (Pastika dan Darmadja, 1976). Persentase kematian sebelum dan sesudah disapih pada sapi Bali berturut-turut adalah 7,03% dan 3,59% (Darmadja dan Suteja, 1976). Persentase kematian pada umur dewasa sebesar 2,7% (Sumbung et al., 1976).

Siklus birahi ternak betina terbagi menjadi 4 fase yaitu proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus. Proestrus ditandai dengan pertumbuhan folikel tersier menjadi folikel de graff. Kelenjar endometrium memanjang, cervix mulai merelaks dan lumen cervix mulai memproduksi lendir. Estrus ditandai dengan adanya kopulasi, ovum telah masak dan dinding folikel menjadi tipis serta terjadi ovulasi (pecahnya dinding folikel dan keluarnya ovum dari folikel). Metestrus ditandai dengan pembentukan corpus hemorragicum di tempat folikel de graff, kelenjar kental disekeresikan oleh cervix untuk menutup lubang cervix. Diestrus ditandai dengan kebuntingan dan adanya sel- sel kuning (luteum) di bawah lapisan hemoragik (Partodihardjo, 1980).

Dalam pelaksanaan inseminasi buatan, bagi para pelaksana (inseminator) maupun pemilik sapi, sulit untuk mengetahui saat dimulainya estrus, lebih-lebih saat ovulasinya. Faktor terpenting dalam petunjuk tersebut adalah pengamatan terhadap birahi. Jika gejala birahi pada pagi ini, maka inseminasi harus dilakukan pada sore hari ini juga, jika sapi terlihat birahi pada sore hari ini maka inseminasi dilakukan esok harinya sebelum jam 12 siang. Pemeriksaan kebuntingan pada sapi selain dapat untuk menentukan usia kebuntingan ternak sapi juga sekaligus dapat untuk menentukan diagnose perbedaan antara kebuntingan dengan kelainan atau gangguan pada organ reproduksi. Pemeriksaan kebuntingan dilakukan secara teratur dengan interval waktu antara 30–40 hari dari inseminasi yang terakhir. Sapi yang kemudian dinyatakan bunting, diperiksa kembali setelah 90–120 hari setelah pemeriksaan kebuntingan yang terakhir. Dengan demikian dapat untuk menghindari inseminasi ulang pada sapi yang sedang bunting (Partodihardjo, 1980).

C. METODOLOGI PRAKTIKUM

1. Waktu dan Tempat

Praktikum lapang ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 1 Juni 2014 pukul 08.00–12.00 WITA dan bertempat di Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

2. Alat dan Obyek

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis-menulis, sedangkan obyek responden warga Desa Alebo, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

3. Metode Praktikum

Praktikum ini menggunakan metode survei. Data yang diperoleh langsung dari responden warga Kecamatan Konda, dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan kapada peternak melalui pendekatan dan observasi langsung di lapangan meliputi identitas peternak, manajemen reproduksi (bibit dan sumber, dan potensi reproduksi) ternak sapi Bali.

4. Prosedur Praktikum

Adapun prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :

  1. Semua mahasiswa yang memprogram mata kuliah Ilmu Reproduksi Ternak berkumpul di fakultas untuk mendengarkan arahan dari dosen yang bersangkutan,
  2. Berangkat ke lapangan (desa Alebo, Kecamatan Konda),
  3. Sesampainya dilapangan, mahasiswa mencari peternak untuk dimintai keterangan,
  4. Mendata/mencatat hasil wawancara dengan peternak setempat.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan yang diperoleh dengan dua orang responden (suami-istri) yang ditemui di Kecamatan Konda, yaitu :

  1. Identitas Responden
    1. Nama
      1. Suami : Supriadi
      2. Istri : Tri Cahyaning Wati
    2. Umur
      1. Suami : 42 tahun
      2. Istri : 37 tahun
    3. Pendidikan Terakhir : SMA
    4. Status Keluarga : Menikah (berkeluarga)
    5. Pekerjaan
      1. Suami : Wiraswasta, Petani
      2. Istri : PNS (Guru SMA)
    6. Pengalaman beternak : 10 tahun (sejak tahun 2004)
  2. Identifikasi Ternak
    1. Jumlah Ternak : Dewasa (♀ 1 ekor)
    2. Bangsa Ternak : Sapi Bali
    3. Umur Ternak : 2–3 tahun
  3. Manajemen Reproduksi
    1. Bibit dan Sumber :
      1. Sapi Bali yang diperoleh berasal dari bibit yang dibeli
      2. Sumber bibit ternak sapi Bali diambil dari dalam provinsi (Sulawesi Tenggara)
      3. Tidak ada kriteria khusus dalam memilih bibit sapi Bali
    2. Perkawinan :
      1. Tidak ada patokan umur betina dikawinkan, tergantung dari kondisi birahi dari ternak yang terlihat
      2. Sistem perkawinan secara kawin alam, biasa juga dilakukan dengan jantan pinjaman
      3. Pernah melakukan IB oleh kerabat dekat atas nama Bapak Sampun (Penyuluh Alebo)
    3. Potensi Reproduksi :
      1. Kawin alam lebih baik dari IB dari segi ekonomi
      2. Dari segi pelaksanaannya, hubungan antara IB dan kawin alam adalah sama saja
      3. Responden mengetahui tanda-tanda birahi ternaknya
      4. Mendeteksi birahi dengan melihat tanda-tanda birahi saja
      5. Tidak bisa diprediksi berapa kali dalam sehari untuk mendeteksi ternak betina kecuali tenaknya sedang diam

B. Pembahasan

Sapi Bali merupakan jenis sapi yang diketahui yang mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi. Fertilitasnya lebih banyak dipengaruhi oleh panjangnya masa birahi daripada pengaruh lingkungan. Secara teori, sapi yang mempunyai masa birahi lebih panjang akan lebih fertil dibandingkan dengan sapi yang masa birahinya pendek.

a. Lokasi Peternakan

Salah satu wilayah pengembangan sapi potong yang cukup prosfektif di Sulawesi Tenggara adalah Kabupaten Konawe, karena disamping potensi luas wilayah, juga merupakan pusat pengembangan tanaman pangan strategis di Sulawesi Tenggara. Wilayah daratan Kabupaten Konawe umumnya berbasis afroekosistem lahan kering, sehingga sapi bali dapat menjadi penopang sistem partanian irigasi dan tegalan. Kecamatan Konda merupakan salah satu sentral pengembangan usaha budidaya sapi potong di Kabupaten Konawe Selatan dikarenakan penduduk disana disamping mempunyai pencaharian bertani juga membudidayakan ternak sebagai usaha sampingan.

b. Populasi Ternak Sapi Bali (Bos sondaicus)

Kegiatan praktik lapangan ini bertujuan untuk melibatkan diri secara langsung dalam mempelajari tata laksana yang diterapkan oleh masyarakat yang berada di desa Alebo. Populasi sapi potong di Kabupaten Konawe 90% adalah sapi Bali, sedangkan khusus untuk wilayah kecamatan konda menurut data statistik setempat, untuk tahun 2000 populasi sapi Bali berjumlah 4.983 ekor, dipelihara oleh petani/peternak dan terintergrasi secara subsistem dengan pertanian pangan. Populasi sapi khususnya sapi Bali 91% dari populasi sapi potong di Sulawesi Tenggara. Selanjutnya dinyatakan bahwa tujuan pemeliharaan sapi Bali di Sulawesi Tenggara adalah untuk penopang kegiatan pertanian dan memenuhi kebutuhan hidup petani (Togatorop, 1995).

c. Karakteristik Peternak

Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kinerja seseorang dalam menjalankan suatu pekerjaan atau usaha, dengan kata lain umur berpengaruh pada produktivitas kerja seseorang. Dari data hasil survei dilapangan diperoleh keadaan umur responden, yaitu suami 42 tahun dan istri 37 tahun. Peternak responden umumnya masih tergolong ke dalan kategori umur produktif, hal ini menunjukkan ketersediaan akan tenaga kerja manusia untuk menjalankan usaha sub sektor peternakan masih sangat tinggi, karena dalam satu rumah tangga, istri dan anak petani/peternak juga ikut berperan sebagai tenaga usaha ternak sapi. Dalam penelitiannya Abet (2001), menyatakan bahwa sebaran umur petani di Kecamatan Konda berkisar antara 21 sampai 60 tahun. sehingga petani/peternak dapat lebih mudah dalam mengembangkan inovasi baru untuk usahanya, meskipun usaha tersebut merupakan sampingan dan masih bersifat tradisional.

Pendidikan pada umumnya mempengaruhi cara berfikir petani peternak. Berdasarkan data hasil yang kami dapatkan pada praktik lapangan didapatkan hasil responden tamatan SMA. Soekartiwi (1996), menyatakan bahwa produktivitas tenaga kerja petani peternak rendah, karena memang latar belakang pendidikannya juga rendah. Namun itu tidak menjadi halangan, karena salah satu anggota keluarga responden ada yang berprofesi sebagai guru juga ikut terlibat dalam usaha ternak sapinya.

Berdasarkan data kuisioner diperoleh tingkat kepemilikan ternak sapi hanya 1 ekor ternak saja, dengan jenis kelamin ternak betina yang dinilai produktif. Hal ini tidak terlepas dari faktor modal yang dimiliki serta kegiatan usaha yang masih bersifat sebagai usaha sambilan, dimana peternak masih berharap kepada sumber pemasukan yang lain dan pendapatan yang rendah dengan kecendrungan sistem pemeliharaan tradisional. PPA (1993), menyatakan usaha peternak sapi potong di Indonesia sebagian besar (99%) merupakan usaha ternak dengan skala usaha 1-4 ekor per-rumah tangga ternak. Pemeliharaan ternak oleh petani ternak masih merupakan usaha pelengkap bagi kegiatan usaha taninya. Demikian pula pendapat Widyastuti (2000), yang menyatakan bahwa salah satu sifat yang menonjol dalam pemeliharaan ternak di Indonesia pada umumnya adalah usaha ini masih dilakukan oleh rakyat dalam skala kecil, bahkan biasanya hanya merupakan usaha tambahan.

d. Manajemen Reproduksi

Keberhasilan usaha perkembang biakan sangat terkait dengan performans reproduksi dan tingkat mortalitas induk dan anak. Faktor performans reproduksi yang penting antara lain adalah: (i) angka kebuntingan, (ii) jarak beranak atau calving interval (CI), (iii) service per conception atau S/C, serta (iv) jarak antara melahirkan sampai bunting kembali (DO).

e. Bibit dan Sumber

Berdasarkan hasil survei, sapi Bali dari pelaku usaha ternak berasal dari bibit yang dibeli, dimana sumber bibit ternak sapi Bali diambil dari dalam provinsi (Sulawesi Tenggara) dan tidak ada kriteria khusus dalam memilih bibit sapi Bali karena dalam pembelian bibit biasanya dilakukan secara langsung. Kondisi di kecamatan yang letaknya dekat dari Kota Kendari (dalam provinsi). Hal ini disebabkan karena kemudahan sarana transportasi dan komunikasi untuk menjangkau daerah penjualan. Sejauh ini, cara yang dilakukan oleh responden berbeda dengan Wawo (2012) dalam laporannya bahwa memilih bibit yang baik merupakan salah satu aspek yang penting di dalam produksi ternak. Hal ini dapat dipahami karena pedet-pedet yang baik hanya diturunkan oleh induk-induk yang baik. Untuk itu, sapi bibit (Bali) sebaiknya dipilih sesuai dengan standar dari bangsa sapi yang dimaksud. Selain standar ukuran dari sapi yang dimaksud, aspek lain yang digunakan di dalam kriteria pemilihan sapi bibit/calon bibit adalah sifat genetis (sifat yang diturunkan), bagian luar, kesehatan, dan ukuran tubuh sapi. hal lainnya yang harus diperhatikan adalah umur ternak, sehingga banyak pertimbangan yang harus diperhatikan dalam memutuskan apakah sapi tersebut layak digunakan sebagai bibit atau tidak.

f. Perkawinan dan Potensi Reproduksi Sapi Bali

Data yang diperoleh, yaitu tidak ada patokan umur betina dikawinkan, tergantung dari kondisi birahi dari ternak yang terlihat, sistem perkawinan yang digunakan oleh responden adalah secara kawin alam, biasa juga dilakukan dengan jantan pinjaman oleh warga setempat. Responden juga pernah melakukan IB oleh kerabat dekat atas nama Bapak Sampun (Penyuluh Alebo). Hal ini berbeda dengan pendapat Wawo (2012) mengenai umur, yang menyatakan bahwa kemampuan reproduksi sapi Bali sangat baik, sapi betina dikawinkan pertama kali pada umur 2-2,5 tahun, dimana perkembangan tubuh dan organ reproduksinya sudah sempurna. Jarak melahirkan anak sapi berkisar 12-14 bulan, tergantung dengan cara pengelolaannya. Indeks kebuntingan sapi bali kira-kira 1,2 yang artinya sapi betina menjadi bunting setelah dikawinkan 1,2 kali (paling tidak sekali). Namun, untuk sistem perkawinannya sependapat dengan Moran (1978), yanh menyatakan bahwa perkawinan sapi Bali biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu secara alami (kawin dengan sapi jantan pemacek) dan inseminasi buatan (IB).

Menurut responden, kawin alam lebih baik dari IB. Dapat dilihat dari segi ekonomi yang menurut beberapa orang bahwa kawin alam tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak (bahkan tidak ada), hanya saja perlu antisipasi dari peternaknya. Jika dilihat dari segi pelaksanaanya, responden mengatakan bahwa hubungan antara IB dan kawin alam adalah sama saja, dikarenakan jika disuntik IB juga kadang ternak betinanya masih tidak bunting. Sejauh ini, pendapat responden sedikit berbeda dengan pendapat Moran (1978), yang menyatakan bahwa perkawinan secara alami biasanya tidak dihasilkan anak yang baik, mengingat sapi jantan pemaceknya tidak cukup baik. Untuk mendapatkan anak sapi yang baik, perkawinan dengan inseminasi buatan lebih menjanjikan mengingat inseminasi buatan menggunakan sperma dari sapi pejantan unggul (pilihan).

Untuk tanda-tanda birahi, responden mengetahui tanda-tanda birahi ternaknya dan mendeteksi birahi dengan melihat tanda-tanda birahi saja, namun tidak bisa diprediksi berapa kali dalam sehari untuk mendeteksi ternak betina kecuali tenaknya sedang diam. Dapat dilihat dari ternak betina yang tidak ingin makan; berputar-putar di tempat jika sedang birahi; dan ketika melihat pejantan, betina akan berlari. Hal ini sesuai dengan laporan Wawo (2012) dan pendapat Moran (1978), yang menyatakan bahwa untuk terjadinya kebuntingan, harus diperhatikan saat perkawinannya. Sapi bali betina tidak dapat dikawinkan setiap saat. Perkawinan dapat dilakukan pada saat sapi betina birahi (minta kawin) yang terjadinya setiap 21 hari (satu siklus). Sapi betina yang sedang birahi akan tetap berdiri ditempatnya apabila dinaiki oleh pejantan. Tanda-tanda sapi birahi lainnya sama dengan ternak lain secara umum, yaitu: (1) Sapi gelisah dan tidak tenang, (2) Sapi sering menguak/melenguh, (3) Sapi mencoba menaiki ternak lainnya dan akan tetap diam kalau dinaiki sapi lainnya, (4) Pangkal ekornya sering terangkat sedikit dan kadang-kadang keluar cairan jernih transparan yang mengalir dari kemaluannya, (5) Sapi dara sering ditunjukkan dengan membengkaknya bagian vulva dan kadang berwarna kemerahan, dan (6) Adakalanya sapi menjadi pendiam dengan nafsu makan yang kurang.

E. PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan praktik lapangan yang telah dikemukakan, dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :

  1. Karakteristik peternak sebagian besar petani/peternak berada pada golongan usia kerja produktif yakni kelompok umur 20–45 tahun dengan tingkat pendidikan masih tergolong rendah yakni pendidikan terakhir para peternak pada tingkat SMA. Responden memelihara ternak dengan sistem tradisional yang jumlah ternak lebih dominan 1 ekor ternak saja, dengan jenis kelamin betina yang dinilai produktif.
  2. Manajemen reproduksi menyangkut sumber dan bibit, khususnya responden diambil/dibeli dari dalam provinsi (Sulawesi Tenggara) dan tidak ada kriteria khusus dalam memilih bibit sapi Bali karena dalam pembelian bibit biasanya dilakukan secara langsung. Dan untuk perkawinan dan potensi reproduksi sapi Bali diketahui dalam pelaksanaannya IB lebih baik dari kawin alam, dikarenakan perkawinan secara alami biasanya tidak dihasilkan anak yang baik, mengingat sapi jantan pemaceknya tidak cukup baik. Untuk mendapatkan anak sapi yang baik, perkawinan dengan inseminasi buatan lebih menjanjikan mengingat inseminasi buatan menggunakan sperma dari sapi pejantan unggul (pilihan).

2. Saran

Saran yang dapat diajukan dalam praktik lapangan ini adalah upaya perbaikan perkawinan dan potensi reproduksi ternak sapi Bali sebaiknya dilakukan pembinaan kepada petani/peternak terkait performans reproduksi.

DAFTAR PUSTAKA

Abet, A. 2001. Studi Kelahiran Bulanan Sapi Bali pada Beberapa Desa Transmigrasi di Kecamatan Konda Kabupaten Konawe. Skripsi Fakultas Pertanian. Universitas Haluoleo, Kendari.

Darmadja. 1976. Berat Sapih Sapi Bali. Pros. Reproduksi dan Performans Sapi Bali. Dinas Peternakan. Daerah Tk I. Bali.

________, S. G. N. D. 1980. Half a century, traditional cattle husbandry within the agricultural ecosystem of Bali. Thesis, Universitas Pajajaran. Bandung.

Handiwirawan, E. 2003. Penggunaan Mikrosatelit HEL9 dan INRA035 sebagai Penciri Khas Sapi Bali. Tesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hendik, S. 2009. Sapi Bali, (online), (http://pentingnya-belajar-bagi-kita.blogspot.com/. Diakses pada hari Kamis tanggal 5 Juni 2014).

Moran, J.B. 1978. Perbandingan “performance” jenis sapi daging di Indonesia. Prosiding Seminar Ruminansia. Ciawi 24-25 Juli 1978. Direktorat Jenderal Peternakan. Depatemen Pertanian. Bogor.

National Research Council. 1983. Little-Konwn Asian Animals with a Promising Economic Future. Washington, D.C. National Academic Press.

Pane, I. 1991. Produktivitas dan breeding sapi Bali. Prosiding Seminar Nasional Sapi Bali. 2-3 September 1991. Fakultas Peternakan Universitas Hassanudin. Ujung Pandang.

Partodihardjo,S., 1980. Ilmu Reproduksi hewan. Mutiara. Jakarta.

PPA, 1993. Komposisi Pakan Ternak, (online), (http://deptan.go.id. Diakses pada hari Kamis tanggal 5 Juni 2014).

Payne, W.J.A. and J. Hodges. 1997. Tropical Cattle; Origin, Breeds, and Breeding Policies. Blackwell Sciences.

_____, W.J.A. and Rollinson, D.H.L. 1973. Bali Cattle. World Anim. Rev. 7, 13–21.

Purwanto, E. 2013. Performans Produksi dan Reproduksi Sapi Bali, (online), (http://2.bp.blogspot.com/. Diakses pada hari Kamis tanggal 5 Juni 2014).

Rollinson, D.H.L. 1984. Bali Cattle. In : Evolution of Domestic Animals. Mason. I.L. (Ed). New York. Longman.

Siregar, S.B., 2003. Teknik Pemeliharan sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sugeng, Y.B., 2003. Pembiakan Ternak Sapi. Gramedia. Jakarta.

Sumbung, F.P. 1977. Performans reproduksi sapi Bali. Prosiding Seminar Ruminansia. Direktorat Jenderal Peternakan, P4 dan Fapet IPB. Bogor.

Sutedja. 1976. Pertambahan lingkar dada, berat badan dan korelasinya pada sapi Bali betina. Pros. Seminar Keahlian di Bidang Peternakan Sapi Bali. Fakultas Kedokeran Hewan dan Peternakan. Univ. Udayana.

___________, 2005. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.

Talib, C., K. Entwistle, A. Siregar, S. Budiarti-Turner, and D. Lindsay. 2003. Survey of population and production dynamics of Bali cattle and existing breeding programs in Indonesia. Proceeding of an ACIAR Workshop on “Strategies to Improve Bali Cattle in Eastern Indonesia”. Denpasar, Bali.

Toelihere, M.R., 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung.

________, 1981. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa. Bandung.

Wawo, A. 2012. Pemeliharaan Sapi Bali, (online), (http://andianjarww2.blogspot.com/. Diakses pada hari Kamis tanggal 5 Juni 2014).

Widyastuti, 2000. Usaha Ternak Skala Kecil. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Wikipedia. 2013. Ternak: Sapi Bali, (online), (http://id.wikipedia.org. Diakses pada hari Kamis tanggal 5 Juni 2014).

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s