TEATER: 77.7 FM CAMPUS RADIO

We’re the 3rd! Proud to be the first and only one title in one of category that was never thought before. เชียร์ทีมของฉัน, yay!

PENOKOHAN :


Kabul Budiansyah
as Bara

(Setia kawan tinggi namun tidak berpendirian tetap)


Andi Alif A.
as Ricky

(Berambisi dan terlalu memaksakan kehendak)


Indra Muhamad
as Luwiss

(Sombong namun setia kawan, peduli kepada teman)


Iqbal Jalil Hafid
as VJ Bale

(Seorang music director sekaligus penyiar apa adanya)


Sitti Izyqzamiyah
as Yunna

(Keras kepala, mudah tersinggung)


Melly Pratiwi S.
as VJ Clara

(Keras kepala, angkuh, sombong)


Taufik
as Pak Robin

(Seorang dosen yang mudah terbawa suasana)

PROLOG :


Hikmawati

SUTRADARA :


Iqbal Jalil Hafid

77.7 FM CAMPUS RADIO

Jangan terlalu mencintai seseorang karena mungkin suatu saat kita akan sangat membenci orang tersebut atau teman baik kita bisa menjadi musuh terbesar kita. Mungkin dua kalimat itu cocok menggambarkan hubungan Bara dan Ricky. Mereka adalah teman baik sejak semester pertama di universitas, tapi dibilang teman baik juga sepertinya kurang cocok, karena sebenarnya Bara-lah yang benar-benar ingin dekat dengan Ricky, ia sangat mengagumi Ricky yang mempunyai ambisi kuat dalam mengejar impiannya, menjadi seorang penyiar radio. Maka dari itu ia selalu mengikuti ke manapun Ricky pergi. Namun sikap Ricky tiba-tiba berubah kepada Bara. Apa yang telah terjadi sebenarnya?

ADEGAN 1

Sore hari sejak tadi siang hujan tak kunjung reda. Bara berteduh dan menunggu mobil angkutan umum yang lewat. Di halte bukan hanya dia saja yang berteduh, ada seorang dosen yang sedang melindungi buku-buku mata kuliah yang dipakainya ketika mengajar. Dan beberapa mahasiswa yang tengah asyik berbincang dan tertawa cekikikan.

Bara: “(bergumam) bohama, coba pi kalo kakak da jemput beh, sa
nda perlu menunggu dan berebut pete-pete seperti ini kasian. Mana hujan mi
pwa.”

Tiba-tiba datang seorang mahasiswi menghampiri Bara. Dari sekian banyak orang yang berteduh, hanya mahasiswi itu yang mau menawarkan payungnya untuk Bara.

Yunna: “Hai, belum dapat pete-pete ya?”

Bara: “Iye, kita bemana?”

Yunna: “Sama ji. Bemana…, kalo kita pakai payungku saja?”

Bara: “(heran) ta…, tapi…, kita siapa dan kapan sa kasih kembali payung ta’ ini?”

Yunna: “Sudah mi, nanti pi
sa cerita. Kita tahu ji nanti itu. Oh, payungnya besok saja kasih kembali, kalo nda bisa besok ya kapan-kapan. Hehehe. (beranjak pergi)”

Bara: “Eh…, eh…, tapi….”

ADEGAN 2

Minggu lalu Bara memutuskan untuk ikut mendaftar ke salah satu radio station bersama Ricky untuk menjadi seorang penyiar. Campus Radio adalah sebuah radio kampus bergengsi yang telah banyak menghasilkan penyiar yang multi talenta. Tidak sembarang orang bisa masuk studio itu, siapapun harus melalui serangkaian tes dulu, dan yang lolos tes otomatis diterima. Hari ini di depan fakultas, Bara terlihat sedang menunggu seseorang yang penting.

Bara: “(bergumam) siapa-kah itu cewe di’? (menggaruk-garuk kepala)”

Ricky: “(menoleh ke arah Bara) bro! (menghampiri Bara)”

Bara: “(menoleh ke sumber suara dengan gaya kaget yang dibuat-buat) bemana dengan pengumuman? Sudah ko liat mi?”

Ricky: “Hah, sudah ko liat mi pengumuman-kah? Lulus ji?”

Bara: “Belum pi-lah.”

Ricky: “Sama ji peng itu.”

Bara: “Sini mi kita liat dulu. (menarik lengan Ricky kemudian berlari menuju Mading fakultas)”

Sementara di Mading fakultas yang sejak tadi telah dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi yang ikut mendaftar di Campus Radio sebagian ada yang terlihat kecewa dan sedikit yang gembira karena lolos di stasiun radio bergengsi tersebut. Bara menerobos masuk ke dalam kerumunan untuk melihat pengumuman.

Yunna: “(mencari-cari dengan seksama selembar kertas yang terpampang di Mading) mana, namaku mana? Jangan-jangan nda lolos kasian beh.”

Bara: “(menepuk pundak Yunna) tabe, kita yang waktu itu toh?”

Yunna: “(menoleh ke Bara dan Ricky, alis kanannya terangkat) he’eh, iya.”

Ricky: “(tersenyum) komorang sudah baku kenal? Dia ini mi yang sa cerita minggu lalu, yang mo kenalan.”

Yunna: “(mengulurkan tangannya) Yunna.”

Bara: “(menjabat tangan Yunna) ohaha, kita paeng yang dimaksud. Bara. Payung ta’ bemana mi?”

Ricky: “(mencari-cari nama kedua teman bicaranya) eh, ketemu! Komorang lolos pwa.”

Bara: “Betul ko, bro? Ko iya?”

Ricky: “(tampak kecewa) sa nda lolos, bro. Eh, sa bru-buru mo balik dulu, dipanggil sama nenekku bela. (lari meninggalkan teman bicaranya)”

ADEGAN 3

Di Perpustakaan fakultas, Pak Robin sedang sibuk sendiri karena mendapat amanat untuk memindahkan beberapa jurnal dan buku-buku edisi baru perpustakaan dari lemari satu ke lemari yang lain.

Pak Robin: “(memegang tumpukan buku-buku lalu memberikannya kepada Yunna) Yunna, ke sini dulu, bantu bapak bawa buku-buku ini, taruh buku ini dan buku yang di sana itu ke lemari dekat pintu masuk.”

Yunna: “Yaaah, Pak Robin. (mengeluh)”

Pak Robin: “Jangan mengeluh seperti itu. Mau nilai kamu jelek? (kemudian menunjuk Bara) ohya, dan kamu, tolong bantu bapak ke rektorat buat ambil buku-buku yang baru datang.”

Bara: “Baik, Pak. (pergi bersama Pak Robin meninggalkan Yunna)”

Yunna: “Sial betul pwa, kita mo jalan tadi. (merasa keberatan dengan buku yang dibawanya kemudian tidak sengaja menjatuhkannya, berusaha berlari namun menabrak seseorang)”

Clara: “(terjatuh dan merintih) ouch!”

Yunna: “Maaf di’, sa
nda sengaja. Aduh.”

Clara: “Maaf? Cuma maaf ko bilang?! Lain kali kalo jalan itu liat-liat. Jangan asal lari. Punya mata tapi nda digunakan, percuma ji!”

Yunna: “Ih, sa sudah minta maaf mi
nah, ko itu kenapa-kah?! Mulut dijaga pi baik-baik.”

Clara:Ko diam kurang ajar! Sudah nyatanya ko salah, ko kasih begitu lagi saya. Edede.”

Yunna: “Pelan saja….”

Clara: “Ko itu…, alay deh! Kampungan, ih!”

Yunna: “(teriak) eh, itu mulut!”

Pak Robin: “(berlari melerai keduanya) sudah…, sudah. Kalian kenapa-kah?”

Bara: “(memegang tangan Yunna) sudah mi, jangan diteruskan.”

Pak Robin: “Ayo, saling bermaafan dulu. Tidak bagus mahasiswi seperti kalian berkelahi seperti anak kecil.”

Clara: “Ish. (beranjak meninggalkan Yunna dengan penuh amarah dan menendang salah satu buku yang tergeletak di lantai)”

Pak Robin: “(menunjuk Clara karena emosi) hei, kamu! Jangan kurang ajar ya, jaga sikap kamu.”

Clara: “(cuek dan berlalu begitu saja) nggak sengaja.”

Pak Robin: “Dasar nggak punya etika hidup.”

ADEGAN 4

Ricky yang sejak tadi terdiam di bawah pohon rindang belakang kantin, terpaku menatap kemalangannya, kini tak ada yang bisa ia perbuat. Kecewa menyelimutinya, hingga seseorang datang menghampirinya, seseorang yang asing.

Ricky: “(menelungkupkan kedua tangannya ke dagunya, sesekali menggaruk kepala penuh kecewa) harus ada yang sa bikin ini, nda bisa begini. Sa nda terima. Aaah!”

Luwiss: “(menghampiri Ricky) permisi, bro. Kenalin gue Luwiss, mahasiswa yang baru aja integrasi.”

Ricky: “(heran) iye…, saya Ricky. Salam kenal.”

Luwiss: “Elo kenal sama Clara, nggak?”

Ricky: “(mencari tahu) Clara…, Clara…, kalo nda salah dia anak kelas A, bro. Pacarnya?”

Luwiss: “Hahaha…, bukan, dia itu sepupu gue di sini. Oh iya, tadi gue liat elo lagi bete gitu. Ada apa?”

Ricky:Nda ji, ada something tadi itu.”

Luwiss: “Pacar elo minta putus?”

Ricky:Bohama, bukan. Ada temanku yang nda setia kawan kasian. Kemarin itu…,”

Ricky menceritakan detail kejadian mulai dari awal hingga akhir yang membuatnya begitu emosi, Luwiss serius mendendengarkan. Sesekali ia terlihat emosi, sesekali itu pula Luwiss memberi arahan yang masuk diakal Ricky. Dan kesepakatan pun terjadi, disahkan oleh pikiran mereka masing-masing.

Luwiss: “Kalo gue jadi elo, gue nggak bakalan tinggal diam. Elo musti datang ke studio dan klarifikasi bahwa elo yang pantes jadi penyiar. Itu kan impian elo!”

Ricky:Nda tau mi ini…, kek-nya ada nepotisme.”

Luwiss: “Nepotisme? Nggak bisa dibiarin tuh! Temen elo juga nggak setia kawanan banget sih. Siapa sih…, Bar…, Bara. Kalo emang dia merasa sahabat elo, pasti sekarang dia udah ngundurin diri.”

Ricky:Iye, bro. Harusnya sa nda ajak juga dia ikut seleksi. Dan sa masih tunggu apa reaksinya temanku itu.”

Luwiss: “Ayo, gue temenin elo ke studio deh. Tinggal tunjukin di mana letaknya. (menarik tangan Ricky) sini, mobil gue di depan.”

ADEGAN 5

Luwiss tetap tidak menerima keputusan Ricky yang harus berdiam diri karena ketidaklolosannya, ia menganggap bahwa Ricky lebih pantas untuk lolos audisi. Bukan karena baru kenal tapi karena ia merasa iba dengan nasib sahabat barunya. Bahkan Ricky semakin bersemangat karena dukungan Luwiss. Hari ini mereka mendatangi Campus Radio. Di tempat itu, mereka mendapati Bara keluar dari ruang siaran. Namun, ia tetap menjalankan aksinya untuk mengklarifikasi segala hal yang berbau audisi.

Bara: “Bang, saya mau klarifikasi. Tolong dipertimbangkan baik-baik.”

VJ Bale: “Apa yang pengin kamu klarifikasi? Ceritalah…, kamu ‘kan sudah menjadi bagian dari Campus Radio.”

Bara: “Rasanya…, saya nggak pantas siaran di sini, karena saya orangnya biasa saja, dan saya punya teman yang memang bagus passion-nya tapi dia nggak lolos audisi.”

VJ Bale: “Nggak apa-apa, kita udah milih kok! Nanti juga kamu bakal dapat passion yang pas kalo udah on-air. Jadi penyiar itu asik lho!”

Bara: “Tapi, bang…, keputusan saya udah jelas. Saya mengundurkan diri.”

VJ Bale: “(berpikir) hum…, gimana ya? Oke, nama teman kamu siapa tadi?”

Bara: “(memberikan selembar kertas bertuliskan nama Ricky) ini, bang. Thanks banget, saya pamit dulu. (berjabat tangan dengan VJ Bale kemudian ke luar ruang siaran)”

VJ Bale: “(memanggil Clara dan memberikan selembar kertas dari Bara) dek, ini ada rekomendasi penyiar baru, si Bara mengundurkan diri tadi. Nanti kamu handle ya?”

Clara: “Kok bisa, bang?”

VJ Bale: “Katanya dia belum bisa jadi penyiar, gitu…, oh, iya, entar kamu calling Yunna ya, buat training jam empat. (memeriksa mixer tool dan microphone)”

Clara: “Oke. (menelepon Yunna) halo, kamu ke studio ya, ada training sore ini. Jam empat, jangan telat oke?”

Luwiss: “(muncul bersamaan dengan Ricky) selamat sore. Sorry nge-gganggu sebelumnya…, (kalimatnya terpotong)”

Clara: “(terkejut dan berteriak) Luwiss! Ngapain elo di sini?”

Luwiss: “Elo…, nyiar di sini? Kebetulan banget!”

Clara: “Iya…, kebetulan apanya sih? (menoleh dan menunjuk Ricky) trus, ini siapa?”

Luwiss: “Ini temen baru gue…, kenalan dong?!”

Ricky: “Halo, saya Ricky.”

Clara: “VJ Yoo Na. Gue tinggal bentar ya! Duduk dulu. (berlalu)”

VJ Bale: “Oh iya, kalian ada perlu apa ke sini? Kalian baca ‘kan kalo yang nggak berkepentingan dilarang masuk.”

Luwiss: “Oh, sorry. Nih temen gue pengin klarifikasi tentang audisi Campus Radio kemaren. Tolong deh dipertimbangin baik-baik.”

Ricky: “Nama saya Ricky. Penyiar baru anda yang bernama Bara itu…, adalah teman saya. Dia itu nggak pintar nyiar dan bakatnya lebih lower dibanding saya.”

VJ Bale: “Tapi…, (omongannya terpotong)”

Ricky: “Kemarin itu dia minta saya ke sini untuk memberitahu hal ini, dia ingin mengundurkan diri dari audisi ini.”

Dengan sengaja Bara mendengarkan percakapan yang tak pernah ia duga sebelumnya dari luar. Mendengar itu semua keluar dari mulut Ricky membuat Bara shock berat karena selama ini orang yang ia anggap sebagai sahabat ternyata menganggapnya serendah itu. Lain halnya dengan Yunna, kali ini bernasib buruk, ia kembali dipertemukan oleh Clara yang beberapa hari lalu sempat beradu mulut di perpustakaan fakultas.

Bara: “Astaga, Ricky!”

Yunna: “(baru saja datang dan memergoki Bara) hei, bemana training ta’ sudah mi?”

Bara: “Ricky…, sa nda sangka betul itu ana’.”

Yunna: “Kenapa?”

Clara: “(melangkah ke depan pintu ruang siaran dan bertemu dengan Yunna) astaga! Ko bikin apa di sini cewe?”

Yunna:Sorry
nah, ada namaku!”

Clara: “Oh, jangan sampe ko mi yang namanya Wa…, siapa pi? Yunna. Tabe, kita batal terima penyiar kurang ajar seperti kau!”

Yunna: “(bersedih) eh, mba! Jaga dong tuh mulut!”

Bara: “(teriak melerai) sudah…, sudah…, kenapa-kah ini?”

Clara: “Tanya temanmu itu. Ih, kasian!”

Yunna: “Saya ini orang yang punya hati ya, mba. Jadi jangan bikin saya jadi orang jahat, karena saya itu bukan mba. Tidak berperasaan sama sekali! (berlari karena sedih dan merasa kalah)”

Bara: “Hei, mo ke mana?! (mengejar Yunna)”

Ricky: “(membuka pintu kemudian keluar ruangan disusul Luwiss untuk mencari tahu keributan apa yang sedang terjadi) Bara! (mengejar Bara) Min Hoo, tunggu!”

Luwiss: “(menggenggam pergelangan tangan Clara) elo itu kenapa sih? Kalian itu sesama cewe, berantem nggak jelas gitu. Kek-nya elo musti minta maaf deh!”

Clara: “(melepas keras genggaman Luwiss dan berlalu) nggak!”

ADEGAN 6

Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, Ricky merasa telah melakukan kesalahan terbesar sepanjang jalannya pertemanan mereka. Kebaikan mampu mengalahkan kejahatan, dan untuk menghapus kesalahan itu, Ricky memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Bara. Dia sudah tahu kalau orang yang direkomendasikan dalam selembar kertas waktu itu adalah namanya. Sementara Clara, lebih memilih untuk mengundurkan diri dari dunia siaran dan digantikan oleh Luwiss, ia masih dihantui oleh rasa bersalah terhadap Yunna. Lain halnya Bara dan Yunna, mereka memutuskan untuk tidak mengambil tawaran menjadi penyiar di Campus Radio lagi tapi memilih station radio luar universitas. Dan akhirnya tibalah saat yang dinanti-nanti, Ricky dan Luwiss yang sejak awal pertemuan mereka telah terikat pertemanan yang kuat, kini siap untuk mengudara.

VJ Bale: “Oke, saya pengin dengar kalian duet on-air malam ini. Coba opening kalian gimana?”

Luwiss: “Assalamu’alaikum, wr., wb.”

Ricky: “Dan selamat malam listeners di manapun kalian berada…,”

VJ Bale:Cut! Chemistry kalian udah dapat ya, tapi kurang semangat aja. Ikutin ya, gini…, Assalamu’alaikum, wr., wb., and good evening for all listeners seventy seven poin seven FM Campus Radio, blablabla…, nanti kalian sebutin edisi siarannya. Dan jangan lupa buat yang pengin gabung ya?! Oke, serius nih!”

Luwiss: “Assalamu’alaikum, wr., wb…,”

Ricky:And good evening for all listeners seventy seven poin seven FM Campus Radio…,”

Luwiss: “Balik lagi dalam ajang special request and…,”

Ricky:New chart edition for this week on November, seventeen 2013. Bareng kita berdua, saya Ricky…,”

Luwiss: “Dan saya Luwiss, bakal nemenin malam kalian dari sekarang sampe pukul 10 nanti. Oke, buat listeners seventy seven poin seven FM Campus Radio yang pengin join, gimana nih caranya Ricky…,”

Ricky: “Langsung aja join di dua line kita yang berbeda, line telepon 085255995777, dan di line sms 081241341777…,”

Luwiss: “Dengan format, hashtag special request spasi nama, alamat, request-an dari daftar chart yang kita umumin, and…, special music-nya buat siapa.”

Ricky:For opening music, we have one of special music for all
listeners yang lagi fun happening banget malam ini.”

Luwiss & Ricky: “This is Katty Perry with Firework…. Feel this song! (menaikkan volume mixer dan memulai opening
music)”

THE END

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s