CERPEN: Another Love Story


Musim semi telah berlalu, tanda-tanda akan datangnya musim hujan mulai nampak. Beberapa orang dewasa terlihat buru-buru menjemput buah hati mereka dari sekolah, dan beberapa tetangga berdesak-desakan mengambil jemuran mereka yang telah kering di halaman belakang rumah masing-masing. Hari ini jelas berbeda dengan hari kemarin, di dekat jendela Nita melihat sekeliling sudut kamarnya, semuanya berubah.

Ah…, benda itu sama sekali tak berubah.

Tak ada yang peduli dengan apa yang ia rasakan. Matanya nyaris tak menoleh, berusaha keras menjemput kenangan indah kala musim hujan seperti saat ini. Berharap Tuhan memberikan waktu untuknya, semenit atau bahkan sedetik saja untuk mengingatnya. Kemudian matanya terpejam. Kenangan setahun yang lalu kembali terlintas di kepalanya.

Libur semester awal telah berlalu dan hujan mendadak deras. Nita melihat Roni duduk sendiri di sudut kantin. Tidak ada yang tahu pasti semua teman mulai menjauhinya. Tidak ada yang berani mengajaknya berbicara, bahkan berjalan di dekatnya pun mereka takut.

“Kamu curang makan sendiri! Kamu pikir meja ini milikmu?!” teriak Nita tiba-tiba sambil meletakkan buku-buku dan juga semangkuk bakso ayam yang telah dipesannya tadi. Sementara Roni serius mengetik note yang ada handphone miliknya, mengabaikan tatapan semua orang yang ada di kantin.

Nita tidak pernah berbicara langsung dengan Roni sebelumnya, namun diam-diam ia sering memerhatikan Roni di sekitaran kampus sepanjang waktu. Mereka berada di kelas yang sama sejak SD dan sekarang satu fakultas di universitas yang sama. Roni memiliki tinggi dan berat rata-rata, dan lens mata khas biru cerah yang menakjubkan. Itu membuatnya terlihat berbeda. Namun, Nita ragu apakah Roni pernah mengenalnya.

Roni mengubah posisinya seraya mendekat pada Nita, “Apa kamu nggak takut duduk di sampingku?” tanya Roni, matanya terlihat menggoda.

Should I be?” tanya Nita sarkastik, “Hiii, aku takuuutt…!” lanjutnya dengan nada mengejek. Roni tertawa. “Jadi apa yang membuatmu di…jauhi sepanjang hari?”

Roni mengangkat bahunya perlahan, “Maybe aku pernah… berkata buruk. Atau… kelakuan yang nggak baik sama mereka.” jawabnya sambil tertawa, “You’re very funny ya! Hahaha…”

HAH?! Apa kamu tau siapa aku? Bahkan namaku aja kamu nggak tau! Nita menggerutu.

“Nama kamu Netta kan?”

“Nita.”

“Netta aja deh?”

“Nita! Gimana kamu tau namaku?”

Lagi-lagi Roni tertawa dengan senyum yang menggelikan, “Kita adalah pasangan yang serasi lho sejak SD! Yah, memang sih aku nggak tau semua tentang kamu, at the very least aku tau dong nama kamu.”

What?! Nita menggigit bakso yang sejak tadi disendoknya, “Kamu lagi bikin apa?”

“Oh, nggak…” buru-buru Nita merampas handphone milik Roni. Roni terlihat gugup sementara Nita mulai membuka flip atas dari handphone yang dirampasnya.

“Hei, jangan dibuka! Kamu nggak berhak membacanya. Give it back!!”

Sebelum Roni merampasnya kembali, Nita mulai membaca sebuah note rahasia milik Roni. “Well, tiga bagian dari diriku,” Nita melirik Roni sambil menyeringai dengan alis terangkat, kemudian melanjutkan membaca, “Tubuhku, akan kuberikan untuk Mama, agar Mama lebih leluasa memelukku dengan erat setiap saat. That’s why I love about you, Mama!”

Are you kidding me, Ron? Catatan apa ini?” Nita tertawa. Roni menyerah dan kembali duduk, menangkupkan kedua pipinya di tangannya seolah-olah mencibir, “Mudah-mudahan kamu nggak baca kalimat itu…” batin Rino.

Ada secercah kesedihan di mata Roni. Nita tak bisa membantu tetapi ada rasa iba di hatinya. Roni sebenarnya cowok yang baik meskipun ia terlihat angkuh dihadapannya. Segala sesuatu tentang dirinya sangat menarik hingga membuat Nita terpesona.

Nita terus membaca note-nya, “Tanganku, biarlah hujan memilikinya agar tak akan ada lagi air mata yang jatuh dan aku yakin hujan mampu mencuci bersih semua kesalahanku. I love the way it falls.” Nita menoleh ke luar kantin, memandang hujan sejenak dan tidak sengaja ia mendapati Roni tersenyum padanya.

“Keren ya!” sela Nita penuh dukungan, membiarkan Roni menghela napas panjang. “Hatiku, untuknya. Aku bosan bersikap angkuh padanya, aku juga ingin memiliki dia sepenuhnya untuk bertahan hidup. Can you let me in your heart,…” Nita berhenti.

“Oh, God!” Roni panik sejadi-jadinya. Dia mulai menarik-narik handphone miliknya akan tetapi Nita menahan dengan mantap di genggamannya. Roni tampak malu, namun ada rasa puas di hatinya.

Me?” tanya Nita penuh harap, dan Roni mengangguk pelan.

DEG! Wajah Nita terasa panas, memerah, dan ia tak kuasa membendung perasaannya. Senang, bingung, kaget bercampur menjadi satu. Otaknya berputar sangat cepat. Ternyata selama ini Roni menaruh hati padanya, berpura-pura angkuh dihadapannya agar tak menaruh rasa simpati untuknya. Dengan seluruh kekuatan, Nita berlari ke luar kantin. Roni mengejarnya. Basah!

Hujan masih deras, tetesan tebal berdebar seperti hati Nita saat melihat Roni. Mereka tersenyum, tak pernah sesaat begitu sempurna. Saat itu juga mereka adalah sepasang kekasih yang sedang basah dalam drama bumi yang menakjubkan. Roni memeluk Nita lebih erat, guntur mengaum selaras dengan detak jantung mereka. Hujan ikut bersaksi.

Nita masih terduduk di dekat jendela kamarnya. Mencoba menerawang ke luar jendela. Matanya terpejam, lalu mendesah panjang. Nita bangkit dan meraih benda yang sejak tadi diperhatikannya, handphone milik Roni yang tetap dijaganya dan inhaler yang mungkin saja telah melewati masa expired. Kemudian kakinya beranjak meninggalkan ruangan itu dan beralih ke teras rumah. Di hati yang sinkron dengan otaknya, Nita berusaha mengukir kembali kenangan selanjutnya.

Nita berlari menelusuri lobi-lobi rumah sakit menuju ruang ICU. Terlihat seorang wanita dewasa tengah lesu berdiri di sana menanti kabar baik. Itu Mama Roni. Nita segera menghampirinya.

“Tante, gimana keadaan Roni?” ucap Nita.

Mama Roni membalikkan wajah ke arah Nita sambil mengusap air mata di pipinya dengan selembar tissue yang terlihat basah. Tiba-tiba memeluk lalu mengusap punggung Nita, seolah-olah mencoba untuk membuatnya merasa lebih baik. “Nita sayang,” ucapnya lirih, “Roni menderita penyakit asma kronis.” Dokter mendatangi mereka dan menceritakan semuanya.

Roni! Mama kamu bercanda kan? Bersekongkol dengan dokter hebatmu itu?

Begitu banyak impus di tangan Roni. Wajah tampannya tertutup oleh pucat yang menjalar di tubuhnya. Tapi ia tetap manis dengan senyum tenang seperti itu. Tubuhnya lemah, Electrokardiogram Ambulatory yang berada tepat di samping tempat tidurnya menunjukkan bahwa ia sedang tak stabil. Nita sadar bahwa Roni hanya bisa terbaring di atas ranjang dan menggantungkan seluruh kehidupannya dengan bantuan orang di sekitarnya. Matanya berkaca-kaca.

“Nit…” lirih Roni. Ia terbangun dari tidurnya. Tidak banyak yang bisa dia lakukan.

Gangguan kronis paru-paru membuat Roni begitu pasrah. Saluran udara dari paru-parunya semakin membengkak dan tentu saja meyebabkan batuk, nyeri di dada, dan sesak napas yang berirama pilu. Penyakit yang diderita Roni adalah asma tingkat kronis yang sensitif terhadap perubahan cuaca. Kata dokter, hujan adalah pemicunya. Dia tidak boleh terlalu dingin dan suhu sekitarnya harus seimbang. Dokter juga menyarankan untuk mengikuti terapi alternatif farmakologi, tapi itu hanya akan membuat hidupnya sedikit lebih lama, dan Roni akhirnya menolak.

“Kamu harus ikut terapi ya? Itu bisa membuatmu bertahan sedikit lebih lama.”

Roni menatap Nita dengan senyum, ia mencium ujung jari kekasihnya, “Ini udah cukup bagiku. Aku nggak butuh yang namanya terapi. Ah, kamu sama saja dengan Mama yang terus-terusan memaksaku untuk berobat. Tapi aku bahagia memiliki kalian.”

Nita tersentak, keringat dingin bercucuran di wajahnya. Ia dapat merasakan betapa Roni kesepian seorang diri dalam kesakitannya. Nita berusaha menahan tangis. Ia mendengus panjang.

“Jangan nangis. Aku nggak apa-apa. Tiga bagian dari diriku udah ada yang mengambilnya, aku senang. Untuk pertama kalinya Mama memelukku sangat erat hingga aku sendiri menjadi cengeng dibuatnya. Untuk pertama kalinya hujan membiarkan diriku bebas memelukmu di bawahnya. Dan untuk pertama kalinya kamu mau menjadi bagian dari diriku, rela menemaniku saat orang lain menjauhiku meskipun aku tau aku benar-benar sekarat. Apa kamu nggak menyesal telah mengenalku?”

Bibir Nita gemetar tanda ia tak mampu berkata hal yang romantis lagi, “Aku menyesal!” ia menggeleng kaku memaksanya berterus terang melalui air matanya. “Aku menyesal membiarkanmu melewati semua ini sendiri. Maafkan aku…”

Dan meskipun Roni tersenyum, senyum yang sama selalu membuat Nita tersenyum bahagia. Kali ini, Nita tidak bisa tersenyum. Oh, Tuhan, biarkan dia terlihat lebih sehat.

Roni sesekali menarik napas panjang melalui alat bantu pernapasan. Mencoba menghirup udara penenang dari asthma spray jenis inhaler-nya. Gangguan kontraksi dan penyumbatan pada pembuluh darahnya membuat dadanya nyeri. Sulit baginya untuk bernapas dengan normal, denyut jantungnya tak teratur. Roni memiringkan kepalanya kembali, membelai rambut Nita dengan damai. “Aku pergi ya?”

“Jangan pergi pengecut.” jawab Nita khawatir, namun Roni hanya tersenyum. Perlahan-lahan tangannya melepas rambut Nita hingga takdir kematian menjemputnya.

Sekujur tubuh Nita yang lemah akhirnya terseret arus yang deras. Matanya yang sejak tadi berkaca-kaca kini pecah menjadi tangis pilu yang menderu. Ia menggenggam handphone dan inhaler terakhir milik Roni erat-erat, membenamkan wajahnya dalam dekapan dan menyebut nama Roni berkali-kali. Seluruh tubuhnya memberontak. Ia membiarkan isakannya, pasrah dengan air mata yang terus mengalir. Dia tidak bisa menahannya walau ia ingin menahannya. “Ah, hujan. Apa kamu melihatnya, Roni?” ucapnya di tengah-tengah sedu-sedan tangisnya yang masih terdengar. Baginya, semua adalah tentang waktu, hujan, dan cowok yang dicintainya. Musim hujan…, telah di sini.

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s