CERPEN: Gara-gara Facebook

KRINGG!!!

Anggi terbangun. Untuk kesekian kalinya Ia kesiangan. Ah! Ini semua salahku, semalam nggak sempat benerin beker. Mampus!

“Tuh kan, baru bangun.. Daritadi mama bangunin nggak bangun-bangun..” celoteh mama.

“Nggak dengar, Ma.” Jawab Anggi seadanya sambil berlalu untuk mencuci muka.

“Eeeh, mandi dulu!” tegas mamanya.

“Udah telat nih, Maaaaa..”

“Ya udah, kamu langsung turun, sarapan dulu baru berangkat.”

“Anggi lagi puasa.” Anggi berbohong.

“Bohong.” mamanya memang pandai menebak.

Ooops! Anggi memiliki nama lengkap Ellen Anggita, Ia lahir di Sulawesi Tenggara tepatnya di Kendari. Papa dan mamanya berasal dari Wanci sebuah kawasan yang indah nan luas dengan pemandangan pulau yang eksotis disetiap sudutnya. Tidak heran hampir semua orang yang ditanyainya tentang Sulawesi Tenggara pasti menjawabnya dengan sangat yakin kalau daerah yang dimaksud adalah Wakatobi. Hingga saat ini hal-hal yang paling indah dalam hidupnya selalu terlukis dengan baik ketika bersama keluarga kecilnya, saat duduk di pantai sambil menikmati air kelapa muda ditemani sunset yang keemasan, ketika matahari tak sudi disingkirkan meski malam telah mengintai.

Hari ini di depan gerbang kampus, hari pertama menjadi mahasiswi baru, terlihat beberapa orang sudah ramai berkumpul, dengan almamater kuning yang sama. Anggi ikut bergabung dengan mereka.

“Oh tidak, aku terlambat!” Anggi panik setengah mati.

Seseorang menghampirinya, “Take it easy,” ucap cewek itu. “Kamu kesini dekat aku, supaya nggak ketahuan telat.”

Siapa dia? Anggota MPM, bukan! Teman lama, juga bukan! Sok akrab! “Hhehe iya.” Anggi tersenyum tipis untuk menutupi kepanikannya.

“Dapat kelas berapa?” Dhea memulai percakapan, menatap tajam pada Anggi.

Kelas apaan? Masuk aja belum! Anggi menggerutu, lalu mendesah panjang.

Di balik gerbang utama seseorang menangkap gerak-gerik Anggi, seolah-olah Anggi adalah tawanan yang dicari selama berbulan-bulan.

“Nggi,” ucap sebuah suara tiba-tiba. Suara yang Anggi kenal. “Udah berapa lama kamu disini? Tahun ajaran baru masih aja telat.”

“Barusan, aku kesiangan.” Anggi membalikkan badannya, menatap tajam pada cowok yang disukainya itu.

“Kamu ini ya, masih aja seperti dulu. Ini bukan jamannya esema lagi lho!” Kevin tersenyum, “Sini, kamu bareng aku lewat gerbang darurat. Nanti kamu kena gampar sama senior. Cepaaaatt.”

“Nggak perlu! Makasih!” Anggi menunduk malu-malu namun hatinya tak kuasa menahan kegembiraan atas ajakan Kevin.

It’s okay, dengan terpaksa… sini!” tegas Kevin sambil menarik tangan Anggi lalu membawanya lari menuju fakultas.

Hihihi, aku yakin teman-teman yang lain iri melihatku diperlakukan istimewa sama Kevin, walaupun mereka berusaha menutupi kecemburuan tapi di wajah mereka tampak begitu jelas kecemburuan itu. Kevin memang cool, cakep, tajir, punya kulit yang lebih putih dari Anggi dan otak yang encer, jago nge-band, mantan pemain basket pula. Tidak heran kalo dia ngetop di kalangan siswa, khususnya cewek. Bahkan di kalangan mahasiswa sekarang.

Di parkiran fakultas yang luasnya sama dengan lapangan basket, Anggi mengeluh, “Wait a minute… aku capek.”

Dari ujung jalan, terlihat sekumpulan mahasiswa yang sedang diboyong ke fakultas dengan segala jenis peralatan menggelikan dari ujung kaki sampai kepala. Ospek! Mampus kita! Akal Anggi menyala. Dengan bermodalkan tekad, kini mencoba melakukan hal absurd – penyamaran sebagai senior palsu – yang berpura-pura menyaksikan kegiatan tersebut. Sukses!

Unbelievable! Kevin satu fakultas denganku. Cowok itu cueknya minta ampun! Belum lagi dia ketus dan dingin. Namun dibalik sikapnya itu Anggi menyadari betapa manisnya Kevin saat lagi tersenyum dan tertawa. Anggi tidak bisa menghentikan perasaannya, perasaan yang Ia pendam sejak SMA.

“Habis, sejak esema sih?! Tapi jadian aja belum pernah, apalagi nge-date sama dia. Nggak masuk akal kan!” terang Anggi menggebu-gebu.

“Terlalu cinta ya?” tanya Vilza. Ya, Vilza sudah resmi menjadi sahabat Anggi sekarang.

Soooo…”

Please deh, Nggi. Itu makanya otakmu jadi blur gini. Nggak ada kehidupan!” Hati Anggi mencelos, kemudian spontan menutup mata dengan kedua tangannya.

“Kamu nggak pernah rasain sih!” Anggi membuka matanya, menatap tajam pada sahabatnya itu.

“Hahaha, apa bisa nanti Kevin suka sama cewek sipit dan kurang manis sepertimu??” Vilza merampas buku yang ada di meja lalu memukulkannya tepat di ubun kepala Anggi.

“Yee, sembarangan aja. Aku aja nggak ngerti. Makanya aku galau nih!”

Well, solusinya.. kamu cepetan nembak deh!” Hening cukup lama.

Gila! Nembak? Aku nembak Kevin?! Mau di taruh dimana mukaku nanti? Aku kan cewek! Anggi tak habis pikir solusi Vilza “Aku takut konsekuensinya,” Ia mendesah panjang “Apalagi kalo ditolak!”

Bulan telah datang, namun sinarnya telah gagal terpancar ditelan kegelapan. Redup, mendung. Sepertinya akan turun hujan.

BUGG!!!

Anggi menjatuhkan tubuhnya ke springbed lalu bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya.

Ah, nggak! Nggak! Nggak mungkin! Kenapa aku jadi seperti ini? Bikin badmood aja! Anggi menggerutu. Kejadian di kampus pagi tadi kembali terlintas dalam lamunannya.

Anggi sedang asyik mengutak-atik handphone kesayangannya yang seharusnya memberi kabar kepada mamanya bahwa ia batal ikut ke Wakatobi dan secara tidak sengaja membuka akun Facebook miliknya. Rupanya Kevin, cowok idamannya, sedang melakukan obrolan wall-to-wall di Beranda Facebooknya. Seorang cewek! Siapa? Fotonya kok mirip Dhea?! Dia? Ngapain dia wall-to-wall-an dengan Kevin?? Anggi penasaran lalu membuka satu per satu riwayat obrolan dengan jari-jarinya secepat kilat.

“Ayo dong. Please, Vin…” Dhea memohon. “Luangin waktu buatku ya? Swear, nggak bakalan repotin kamu… I swear!

But…”

“Kamu tega ya biarin cewek semanis, seimut, dan secantik aku jalan sendirian?” Astaga! Manis? Imut? Cantik? Sok manja banget! Emang sih, Dhea terkenal di kalangan mahasiswa karena punya penampilan yang oke dan stylish, tapi nggak segitunya sampai mohon-mohon segala di Facebook! Anggi berkecamuk. Emang dia ada hubungan apa sama Kevin? Sampai minta jalan bareng? Wait… that means, Dhea nembak Kevin?!

“Mau ya? Ya.. ya? Bales dong, Keviiiin.” lanjut Dhea.

“Hum, I will…”

CTARR!!!

Anggi merasa dirinya seperti disambar petir yang sedang berkecamuk melawan dirinya. Kevin? Nggak mungkin! Kevin yang selama ini dianggapnya sebagai cowok idamannya, seseorang yang telah menemaninya sejak SMA, bahkan rela memilih fakultas yang sama dengan Kevin agar bisa bersama dengan cowok yang dicintainya, tiba-tiba saja jadian dengan Dhea di Facebook. Hal itu tentu saja terlalu mengejutkan buat Anggi.

Dengan segala kekuatan yang masih dimilikinya, Anggi melempar handphone kesayangannya tepat di lantai sampai-sampai silicon muda yang menutupinya terlempar hingga menimbulkan kegaduhan di dalam kelas. Hatinya sakit. Cowok yang dekat dengannya selama ini begitu cepat berlalu dari sisinya. Anggi menangis sejadi-jadinya, Ia tidak kuat membendung pahitnya kenyataan yang baru saja diketahuinya. Sebelum sekujur tubuhnya lemas oleh tangis, Anggi berlari sekuat tenaganya dan menghilang dari kelas. Kenapa aku harus online? Kenapa aku harus membuka Facebook? Kenapa aku harus melihat semua obrolan mereka berdua? Kenapa?!

Anggi masih bersandar lemah pada tumpukan bantal di kamarnya bersama Vilza. Matanya kini terpejam. Di hatinya, Ia terus-menerus menyalahkan dirinya. Kejadian itu membuatnya sakit hati. Ah, sial! Aku harap Tuhan membuang jauh-jauh perasaanku ini.

“Udah, Nggi. Soal kejadian tadi pagi nggak usah kamu pikirin, nanti kamu sakit lho!”

“Aduhh! Sebel banget! Sakit, Vilza. Hatiku sakit.” Anggi menendang-nendang bantal guling yang ada di kakinya seperti anak kecil yang sedang merengek meminta sesuatu, dan Vilza cuma bisa melongo melihat kelakuan sahabatnya seperti itu.

TINGTONGG!!!

Terdengar bel pintu berbunyi, seseorang telah datang. Siapa sih?

“Nah, itu pasti mama kamu!” Vilza mendapati dirinya begitu heboh.

“Bukan! Mama lagi keluar kota.” Siapa? Teman Mama?Please, kamu aja yang bukain. Lagi badmood nih!”

Vilza membuka pintu, dan betapa terkejutnya dia. Kevin!Sorry, Anggi lagi sakit, butuh privasi.” Kevin begitu kecewa.

“Sakit? Kamu tahu kan kejadian tadi pagi di kampus? Sampai-sampai handphone Anggi masih tergeletak di lantai. Tolong, biarkan aku masuk.” pinta Kevin. Matanya begitu sayup, Vilza tak tega menahannya lebih lama di luar.

Harusnya aku tahu kalau Kevin benar-benar mengganggapku teman biasa. Nggak lebih! Bego! Bego! Bego!! Kini Anggi duduk di lantai, bersandar pada ranjang tempat tidurnya sambil menghentak-hentakkan kakinnya di lantai.

“Nggi…” terdengar sebuah suara yang tak jauh darinya. “Kamu lagi ngapain? Kamu sakit ya?”

“Kamu sendiri ngapain disini? Pulang sana! Bikin tambah sakit tahu nggak.” Anggi menoleh ke arah Kevin dengan pandangan mata yang tajam. Jelas hal ini membuat Kevin merasa bersalah.

“Lho, aku kan cuma mau tahu keadaan kamu gimana? Trus tadi kamu nendang-nendang gitu ada apa?” Kevin tersenyum, menggoda Anggi.

“Nggak usah sok protective gitu deh! Bukan urusan kamu!”

Fine! Aku cuma penasaran sama apa yang habis kamu lihat di Facebook, yang bikin kamu kalang-kabut nggak jelas setelah ngelempar handphonemu ini sampai aku nggak bisa ngejar kamu lari dari kelas.”

Anggi menoleh dengan ekspresi terkejut mendengar ucapan Kevin. “What?! Jadi kamu tahu kejadian tadi?”

“Nggak sih, aku tahunya dari teman kelas kamu.”

“Kok bisa?”

“Hahaha, Anggi. Ya jelas aku tahu lah, kamu pikir ulah kamu tadi itu nggak bikin gaduh? Lari seperti orang yang kelimpungan gitu, untung aja nggak ada gempa.”

Anggi berusaha menyembunyikan rasa bersalahnya karena telah membuat gaduh, tapi urung. Dia kembali memasang wajah masam saat teringat kejadian tadi.

“Nih, handphone kamu. Jangan cemberut gitu dong? Makanya aku datang kesini buat nanya apa aja yang udah kamu lihat di Facebook? Please, jangan bikin aku merasa bersalah. Aku bisa jelasin.”

“Nggak perlu and not important! Aku udah ngerti. Aku sebel aja, kenapa kamu sampai bisa jalan bareng sama Dhea. Sejak kapan kalian jadian? Dimana? Facebook? Dia nembak kamu? But, well. Itu bukan urusanku lagi, nggak masalah kan? Iya kan?” ucap Anggi galak.

“Haha! Anggi… Anggi…” Kevin tertawa kecil. “Lain kali kalau niat jadi mata-mata di Facebook itu yang bener. Jangan cuma hotnews doang yang dicari. Kebenaran juga perlu.” Anggi mengerutkan dahinya. Bibirnya manyun.

“Iya, emang benar kok, aku bakal jalan sama Dhea…” wajah Anggi memanas, dengan spontan Ia beranjak ingin meninggalkan Kevin di kamarnya.

Stop, Kevin! Aku nggak mau dengar!!!”

You must!” tegas Kevin sambil menarik tangan Anggi, mencegahnya hendak menuju pintu kamar.

“Nggaaaaakk! Lepasin!!” Anggi berteriak, bersikukuh. Berusaha melepas genggaman Kevin. Tapi Kevin menggenggam tangan Anggi kuat-kuat.

Once again! Kamu salah paham. Aku nerima tawaran Dhea untuk nemenin dia ke kost-an si David. Dia lagi ada masalah, udah nuduh David punya pacar lagi. Padahal aku tahu David orangnya setia sama orang yang dia sayangi. Makanya Dhea minta tolong sama aku untuk nemenin dia jalan buat minta maaf. Kan nggak enak cewek jalan sendiri ke kost-an cowok.”

Anggi berhenti meronta-ronta, Ia terduduk kembali. Kevin mengendurkan genggamannya. “Jadi, kamu nggak ada hubungan sama Dhea? Nggak pacaran, Vin?” Kevin terkekeh.

“Gila! David itu sahabatku, aku bisa dibantai satu kost-an nanti!” Kevin tersenyum memandang Anggi, sedang Anggi hanya bisa tertunduk malu atas kesalahpahamannya yang telah menuduh Kevin sembarangan.

“Senyum dong! Jadi kamu udah sembuh kan?” Anggi tetap diam sambil memegangi tangannya yang terasa sakit akibat genggaman Kevin.

“Sakit ya, Nggi? Sorry, aku udah kasar. Aku cuma nggak mau ngelihat kamu sakit gara-gara salah paham.” Kali ini Kevin merasa benar-benar bersalah.

“Bukan itu aja, aku nggak mau kehilangan seorang teman yang selama ini paling dekat denganku.”

Takut ngelihat aku sakit? Salah paham? Teman? Cuma itu?! Anggi kembali mendongkol. Hatinya yang perlahan tenang, kembali bergejolak.

“Ah, pertemanan bisa dibangun lagi, Vin. Sorry, karena aku udah salah paham, nuduh kamu sembarangan.” ujar Anggi asal.

“Kamu nggak ngerti, Nggi. Actually, I’m doing this…” beberapa detik terhenti, Kevin tersenyum lembut.

Lalu Kevin menggenggam tangan Anggi dengan lembut. Tak ingin Ia lepas. Sentuhan ini tak ada habisnya dalam bayangan Anggi. Saat ini adalah waktu yang tepat. Jantung Anggi berdegup kencang.

Kevin ramah sekali. Aku suka pribadinya yang sekarang. Padahal dulu dia hipokrit denganku. Perlahan tapi pasti, genggaman Kevin semakin dalam.

Cuz I’m inlove with you!” Kevin menarik tangan Anggi, kemudian mengecupnya. Wajah Anggi memerah. Senang, bingung, dan kaget telah bercampur menjadi satu. Otaknya terasa ringan sekarang.

“Hey! Nggi… Anggi… kamu ngelamun?”

“Apa sih?! Aku nggak ngelamun kok!”

“Apanya, senyum-senyum nggak jelas gitu.”

“Siapa yang senyum-senyum nggak jelas?”

So, what do you feel?

“Apaan lagi? Feeling apaan?”

“Buset! Ternyata dari tadi aku ngobrol sendiri. Jadi tanggapan kamu gimana?”

“Haha, itu ya. Hum…” Kevin memandang Anggi lekat-lekat, membuat Anggi salah tingkah sendiri. Merasa belum cukup untuk mengerjai Kevin.

“Keviiiin, ih! Jangan melotot gitu kenapa sih?” Kevin tak bergeming. “I feel the ssss…” Ini mulut kenapa sih?!I feel the same!

Kevin menatap bola mata indah cewek di depannya. Begitu jernih, setulus cintanya. Kedua mata mereka bertemu. Anggi memejamkan mata perlahan, Kevin mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir Anggi, lebih tepatnya mereka berciuman. Anggi kaget setengah mati. Vilza tak sengaja menyaksikan momen itu di balik pintu kamar tepat dihadapan mereka.

“Keviiiiiiin! Anggiiiiiiiiiiii!!!”

END

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s