CERPEN: Cerita Singkat Ketika Merpati Itu Terbang …

Cerita Singkat Ketika Merpati Itu Terbang …

By: Iqbal Jalil Hafid


Terungkaplah perasaan ini pada diriku sendiri, mengawali hari ini yang terasa sulit dijalani. Izikan aku melihat matahari itu, matahari yang sedang bersandiwara. Serukanlah cahaya kuningmu yang mampu bersolek menggugah hamparan hatiku.

Hatiku tak berwarna, tak bersahabat pada impianku, masa lalu itu.. ya masa laluku! Masa lalu yang membisik di telingaku telah merebah ke urat-urat syarafku. Seketika terjalin suatu pembaharuan yang terasa asing menjadi asing bagiku menampar memori lama yang terpendam dalam batinku.

Angin senja yang masih termenung tak tahu arah dan tujuan hembusannya tiba-tiba melangkah perlahan menghampiriku, kurasakan itu.. dan ia berbisik padaku.

Yakinkan dirimu pasti kau bisa lalui semua ini. Karena semua ini berawal dari mimpi..!

Angin itu.. kemana angin itu?! Tak terlihat lagi. Aku harap kita bertemu lagi di lain senja.

Kini angin itu telah berlabuh pada impiannya, terbang dalam angan-angan yang sejak tadi iba padaku. Tapi, aku? Aku seorang diri disini dan beginilah diriku, diam membisu. Belum cukupkah goresan takdir yang pekat menantangku? Ataukah hidup ini hanya lintasan semata?! Masih adakah yang bisa aku harapkan?! Siapa itu? Siapa itu?!!

Aku cukup tegar menghadapi permainan ini. Kurasakan wajahku yang sejak tadi terdiam, mata yang sejak tadi menemani cahaya langit itu kini menjadi dambaan pemandian para dewa-dewi langit, mataku yang pucat sedang menuju peraduan. Luapan air tiada henti terbuai membentuk butiran-butiran bening namun berbahaya bagi keselamatan dewa-dewi langit.

Apa ini? Seperti ada yang hendak berbisik padaku? Suara yang terdengar samar, kuketahui bukan telingaku namun impuls saraf yang membawanya keotakku.

Kemana diriku berlabuh? Hapus kesedihanmu, karena kesedihanmu membuatku tahu apa arti hidup yang sebenarnya bagimu?

Ah, suara itu.. aku tahu darimana asalnya. Jangan memohon padaku..

Tolong hentikan sandiwara ini, aku muak dengan semua ini! Kehidupan yang tak berarti bagiku.. jika begini terus, aku ingin MATI!

Jelas ada yang beda pada diriku, bisikan itu perlahan-lahan mengembalikkan bagian diriku yang hilang dua tahun lalu. Sebuah cerita singkat yang sangat sulit kulupakan ketika diriku dihadapkan pada kenyataan bahwa Aku memang tak pantas memiliki apalagi dimiliki. Jangan hukum Aku seperti ini.

Tuhanku, Aku tidak bisa! Aku tidak bisa menunggu terlalu lama

Andai saja Merpati itu punya sayap indah yang bisa ia kepakkan kapanpun dan kemanapun ia inginkan layaknya seekor burung di langit pada umumnya, leluasa memandangku di bumi ini. Andai saja Merpati itu seimbang dalam tujuannya ke Hongkong melewati awan-awan yang kurang bersahabat di langit ia pasti bangga menjadi sebuah burung reformasi. Andai saja awan-awan itu tetap tenang setenang mantelnya yang berwarna putih-abu, aku pasti takkan seperti ini. Ini masalahku dengan dan tentang burung itu.

Akan tetapi, Merpati itu sendiri membawa cerita singkat yang sangat sulit kuduga dan kuterima sebagai suatu kesalahan kecil. Kecilkah itu?! Merpati yang Take Off sehari sebelum peringatan kejayaan tiba, Merpati itu merelakan segalanya yang Aku miliki. Merpati itu bernasib sial dengan Landing yang tragis! Kakinya patah, kuku uniknya telah lepas dari kulit kakinya, sayapnya yang utuh dan indah telah beterbangan saling menghambur mencari tempat yang tak layak lagi ditopangi sesaat menjadi keping-keping kemalangan,

Telah kulihat pula kepala dan sebagian paruh Merpati itu retak dengan ganasnya, perut Merpati itu tak henti-hentinya mengeluarkan darah panas hingga merenggut nyawa orang-orang yang Aku cintai lebih dari apapun.

Tuhan, Bisakah engkau menolongku? Sampaikan maaf kepada mereka, tunjukkan letakku, aku kesepian saat ini. Ayah dan Ibu telah pergi jauh meninggalkan diriku serta kehidupanku. Betapa sedihnya diriku!

Kelopak mataku benar-benar perih saat ini, menjadi ragu tuk menoleh menatap kembali Indonesia di depanku. Senja telah menyatu dalam hidupku, senja yang telah kukenal sebagai tradisi terpanjang bersama tulus dan hangatnya pelukan kasih sayang Ayah dan Ibu, kini benar-benar membuatku lebih tenang bereaksi kepada kawalan Merpati yang pernah menggerogotiku, mana kala kudapatkan diriku sedang menggantung nyawa.

Jika wajahku menoleh ke langit, maka terbalaslah sayatan yang digoreskan padaku kala itu. Goresan takdir itu telah kuhapus dalam senja ini, bayang pelukan Ibu samar-samar telah hidup diduniaku sekarang, bukan dunia dimana aku harus pasrah.

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s