Cerpen: (Bukan) Salah Cinta

(Bukan) Salah Cinta

By: Iqbal Jalil Hafid


Hari ini adalah hari pertama aku berada di sekolah baru, sebagai murid transfer. Sebenarnya di sekolahku dulu, dengan modal keberanian aku ikut program Transfer Student yang bekerja sama dengan sekolah baruku ini. Sekedar iseng-iseng dan akhirnya aku yang terpilih.

“Yup, selesai!” aku melompat penuh kemenangan.

“Asik, peer lo udah selesai kan ya?! Kerjain peer gue dong bro!” bujuk Jimmy.

“Gue jitak baru tau rasa lo. Enak aja! Harusnya elo yang ngebantu gue.”

“Badewe, di sekolah lo yang lama… elo punya cewek nggak?” Tanya Ian. “Punya twitter nggak?”

“Kenalin ke kita napa sih..” sambung Jimmy.

“Kepo banget lo berdua. Gue nggak punya cewek tau!” jawabku jujur.

“Jiah! Cewek mana yang nggak bakal klepek-klepek ama lo, Dex.” Ian menggodaku.

“Maksud lo apaan, Yan?”

“Secara lo cakep, murid transfer yang pinter, dalam hal ini lo rajin kerja peer. Bodi kurus tapi stylish. Elo baik, apalagi kalo lo ngejain peer gue.”

“Jangan bilang lo nggak suka cewek,” mata Jimmy sinis menatapku. “Jangan.. jangan..”

Yah, memang sih aku akui kalau aku cukup terkenal di sekolah lamaku. Terkenal bukan karena cerdas atau tampan, tapi aku terkenal sebagai siswa ternakal. Aku curiga kok bisa Kepala Sekolah menerima berkas dan meloloskanku sebagai penerima program itu? Aku yakin para guru sudah kehabisan kertas dan tinta untuk mencatat kelakuan burukku selama bersekolah waktu itu. Bayangkan saja, hampir tiap hari aku telat dan sering lupa pakai dasi. Tidak salah kalau para siswi menjauh dariku. Dan aku harap dapat merubah itu semua di sini.

“Oh, kalian cari mati ya?! Oke, siapa cewek yang paling cantik di sekolah ini?” ancamku asal.

“Emma! Murid kelas 2-1. Kita lihat, apa lo bisa dapat tuh cewek.” tantang Jimmy.

“Tunggu saja…” gumamku.

*****

“Em… Emma!” sahutku sok akrab memanggil Emma yang sedang santai duduk di bawah pohon belakang sekolah.

“Elo siapa?” Tanya Emma heran, dan herannya makin bertambah ketika aku duduk di sebelahnya.

“Eh… eh… apa-apaan sih lo! Siapa yang nyuruh lo duduk di samping gue? Hah!”

Cantik? Dia biasa-biasa aja tuh! Manis sih dengan rambut lurus di kepang, pipi chubby, dan berkacamata. Lumayan juga, tapi bukan ini yang aku cari.

“Hey, makhluk aneh! Pergi lo!” teriaknya membuyarkan lamunanku.

“Gimana sih, orang barusan duduk di suruh pergi.” keluhku.

“Mau ngapain lo? Gue teriak nih!” ancamnya.

“Haissh, gue b.u.k.a.n m.a.l.i.n.g tau! Gue cuma pengin jadi temen lo. Bisa nggak?”

Emma berdiri seraya meninggalkanku sendiri, namun segera kucegah hal itu terjadi. Kutarik tangan Emma mendekat padaku.

“Auch! Kasar banget sih lo!” memegang tangannya yang sepertinya lebam akibat genggamanku yang begitu kuat.

“Maaf, jadi gimana?”

“Gimana apanya, makhluk aneh?!” Emma serius memerhatikan gelagatku. “Nama lo siapa?! Murid baru?? Tau nama gue dari siapa?”

“Itu nggak penting. Gue Dexter, murid transfer dari Bandung.”

“Oh, maaf! Gue nggak tau kalo lo murid transfer. Mau nggak gue ajak keliling sekolah?” ajaknya.

“Mau… mau…” jawabku tanpa ragu.

*****

Sudah dua minggu aku jalan bareng Emma. Penampilan awalnya sekarang berubah, dia tampak lebih cantik dengan rambut lurus dan tanpa kacamatanya. Dia teman yang baik, pengertian, dan penuh tanggung jawab. Tiap minta tolong pasti ada buatku. Datang ke kost, bersihin kost, bawain makanan, dan segala macam informasi sekolah yang menunjang prestasiku.

Hari ini di Kafe Bon Pierre …


Sialan! Apa gue harus jadian sekarang? Masa bodoh ah!

“Em, lo pesen apa?”

Forret Noiré dan Café Crème.”

Excusez-moi,” aku memanggil salah satu pelayan kafe yang berada di sudut.

“Pesen Café Crème-nya dua, satu Choux à la Crème dan satu Forret Noiré.

“Tunggu sebentar ya, Monsieur… Mademoiselle…” ucap pelayan tersebut.

Sekitar sepuluh menit kemudian …

Allô, ini pesanannya.” seraya meletakkan pesanan kami berdua.

Merci!

“Sejak kapan lo belajar bahasa Prancis? Nggak cocok…” ledekku.

“Huh, gue baca novel tau!”

“Prancis itu… Paris! Shopping, Eiffel, Romantic, and cool city! Hehehe”

“Gitu ya… kapan-kapan kita ke Paris deh! Hehe. Badewe, lo keliatan cantik hari ini,” pujiku. “Nggak salah kalo lo jadi icon di sekolah.”

Icon apaan, Dex??”

Perlahan kukeluarkan sebuah kotak berisi liontin yang sengaja kubeli kemarin. “IconMost Female!

“Dex… Dex… lo salah orang. Yang jadi Most Female Icon di sekolah itu Ingrid, bukan gue. Sama kayak lo murid transfer, dia dari Paris. Papanya seorang Patissier di kafe ini.”

Aku terdiam sejenak …

“Nah, itu dia!”

“Ingrid!” sahut Emma kepada seorang cewek yang baru saja membuka pintu dari luar. Ia membalas panggilan Emma, lalu menghampiri kami berdua.

Allô, Emma!” balas Ingrid. Buru-buru kumasukkan kembali kotak berisi liontin ke dalam saku celanaku.

Hah! Cewek ini terlihat cantik dan menawan dibanding Emma. Jauh lebih tinggi dari Emma. Tapi kenapa Jimmy dan Ian bilang kalau Emma adalah satu-satunya siswi tercantik di sekolah? Sial!

“Ini pacar lo, Em?”

“Bu… bukan… kita temenan kok! Yah, temenan.” jawabku terbata-bata.

“Iya, kita temenan.” sambung Emma dengan wajah masam.

Bonjour, je m’apelle Ingrid. Et vous?

“Hah? Je m’apelle De… Dexter.” aku gugup setengah mati. Jimmy dan Ian berbohong padaku.

“Gue keluar bentar ya! Ada yang manggil.”

Di samping kafe, kudapati Jimmy dan Ian sedang tertawa terbahak-bahak.

Well, well, well… Apa ada yang gue lewatin barusan?” mereka berdua tak henti-hentinya tertawa. “Gila lo berdua! Jadi selama ini elo berdua bohongin gue? Damn it! Yang jadi ikon tercantik itu bukan si Emma, ternyata Ingrid. Teman jalan dia selama ini. Tega lo!”

“Bhahaha! Elo sih keburu pergi sebelum gue jelasin.” Jimmy makin tertawa saat aku menunjukkan ekspresi heran yang sejadi-jadinya.

“Ini sama sekali nggak lucu! Untung liontinnya belum gue kasih ke Emma, lo berdua udah gila. Kelewatan tau nggak!”

“Gini… Emma itu siswi yang paliiiiiing pendiam di sekolah, nggak ada temennya. Makanya kita saranin lo nge-date ama dia. Tapi kita kasihan ama lo, yang udah temenan baik sama tuh anak. So, kita batal deh jujurnya!” jelas Ian.

“Emma itu nggak can…” kalimatku terpotong.

BRUKK!!

Terdengar suara tong sampah terjatuh. Di balik tembok, sosok Emma terlihat. Ia menangis kemudian berlalu begitu saja. Bagaimana perasaannya? Apa yang gue katakan barusan? Emma pasti marah dan nggak mau lagi berteman ama gue?

“Emma! Emma! Tunggu!!”

Aku mengejarnya, namun itu hanya sampai pertigaan jalan. Langkahku terhenti. Aku dikejutkan oleh kerumunan orang yang ada di sana. Baru saja terjadi kecelakaan, sebuah pengendara sepeda motor menabrak seseorang. Siapa itu? Emma?! Nggak mungkin!!

Kulihat sosoknya di balik kerumunan orang, “Ingrid?! Hah!” aku menerobos masuk meraih tubuh Ingrid yang tak berdaya dengan darah yang mengalir lepas dari pergelangan kakinya.

“Ingrid. Bangun, Ing! Toloooong…”

Apa yang terjadi? Bukankah tadi Emma ke arah sini? Kenapa Ingrid ada di sini? Kemana Emma pergi?

“Tolong siapa saja hubungi Ambulance!” teriak salah satu pengunjung kafe yang turut menyaksikan kecelakaan itu.

*****

Tubuh Ingrid kini terbaring lemah di Rumah Sakit. Selama tiga hari tak ada yang bisa dia lakukan. Aku menyesal telah menyeretnya ke dalam peristiwa di kafe waktu itu. Kakinya terancam tak bisa normal kembali, hingga ia beristirahat penuh di rumah sakit.

“Ingrid…” ucapku pelan. Mata Ingrid perlahan terbuka.

“Mmm, Dexter? Sejak kapan lo disini? Emma mana? Gue nggak pernah liat lo berdua jalan bareng jenguk gue.” keluhnya.

“Ayolah, jangan ngebahas hal itu dulu. Kesehatan lo lebih penting. Sekarang gue butuh penjelasan.” aku mulai serius. “Waktu lo ketabrak…” Ingrid memotong kalimatku.

“Oke, waktu kejadian itu… gue ngikutin Emma keluar kafe. Emma ngikutin lo yang lagi buru-buru, trus gue nggak sengaja denger apa yang kalian bicarain ama dua orang temen lo itu di samping kafe. Gue ngeliat jelas Emma lari sambil nangis gitu, pas gue kejar, dia udah nggak ada di jalan. Abis itu boom! Gue nggak tau lagi kejadian selanjutnya.”

“Apa yang lo denger?” tanyaku penasaran.

Ingrid menggenggam tanganku. Kurasakan aliran darahku mengalir begitu cepat, jantungku berdegup tak karuan. Dug… dug… dug…

“Dex, gue sering merhatiin elo di sekolah. Gue suka sama lo. Sejak saat itu gue nggak pernah berhenti ingat senyum lo dalam lamunan gue. Tapi…” kulihat tetesan air dari mata Ingrid jatuh tepat di atas punggung tanganku.

“Tapi kenapa, Ing?” mataku sayup, berusaha menahan luapan air mataku. “Gue baru ketemu lo di kafe.”

“Emma sahabat gue, dia yang jadi temen setia saat gue baru datang dari Paris. Dia pernah cerita banyak tentang cowok yang dia suka di sekolah, cowok yang bikin dia merasa lebih baik. Dan itu elo, Dex!”

“Cukup, Ingrid…”

“Gue nggak peduli salah cinta… yang penting elo ada di hati gue. Gue udah terlanjur cinta sejak pertama kali ngeliat lo. Gue mohon, elo bisa jaga perasan kita berdua. Jaga perasaan Emma, dia pantes dapetin lo. Dia selalu ada kan buat lo? Nah, gue? Gue cuma bisa ada di belakang lo berdua.” Ingrid tak kuasa menangis sejadi-jadinya. Kusandarkan kepalanya di bahuku.

Kenapa baru sekarang? Perasaan apa ini? Ini bukan perasaan yang sama ketika aku bersama Emma. Perasaan yang dalam, seakan aku terhanyut mengikuti arus kehangatan. Aku… sekedar iba.

KREKK!

Seseorang masuk menjenguk Ingrid. Aku bersembunyi di balik pintu setelah mendengar aba-aba darinya. Emma datang!

“Emma, comment ça va?” tanya Ingrid.

“Harusnya gue yang nanya kabar lo. Comment ça va? Maaf atas kejadian waktu itu.” Emma penuh sesal.

“Udah baikan kok, merci! Kejadian waktu itu nggak usah diungkit. Elo sih larinya cepet banget. Huh!”

“Hahaha… siapa juga yang nyuruh buntutin gue.”

“Hahaha…”

“Ing, besok gue pindah. Pengin ikut papa ke Batam.”

Aku terkejut bukan main. Emma bakal pindah?

“Akting lo le magnifique, Em! Gue hampir percaya tau! Hehe”

“Serius, Ing. Gue benar-benar bakal pindah.” Ingrid sontak kaget lalu mencoba bangkit dari ranjangnya.

What?! Emma!”

“Gue udah tau semuanya. Ingrid, elo harus janji, terima cinta Dexter. Elo udah denger kan penjelasan dia waktu itu? Dia cinta ama lo. Bukan gue!” Emma berlari sambil menangis. Air matanya jatuh bersama keputus-asaan. Cinta yang tulus darinya begitu mudah aku patahkan.

“Emma!” teriak Ingrid. “Dexter! Kejar Emma, Dexter! Cepat!”

Emma tetap berlari sekencang-kencangnya, tak peduli siapa yang memanggilnya. Aku keluar dari tempat persembunyianku sejak tadi, lalu kukejar dia. Kulewati lorong-lorong rumah sakit, tidak terhitung sudah berapa banyak orang yang aku tabrak.

“Ah, sial! Hujan!” gumamku.

Di tengah-tengah lapangan hijau yang lumayan jauh dari rumah sakit kulihat bayang Emma tengah berlari. Sesekali ia berhenti dan sesekali ia berlari kencang. Aku menerobos melawan derasnya hujan, hingga kugenggam tangannya.

“Emma!”

“Lepasin, Dex. Lepasin!” rontanya. “Gue nggak butuh bantuan lo. Gue pengin pulang…”

“Biar gue yang anter!”

“Nggak, Dex! Lepasin gue, gue pengin pulang! Gue sa… sakit, Dex…” ia menjatuhkan tubuhnya, terlihat jelas kesedihannya sangat dalam. Aku sadar bahwa perkataanku waktu itu sangat melukai hatinya. Bisakah itu di ulang? Gue nggak mau dia seperti ini, tersiksa. Gue menyesal!

“Lepasin gue, Deeeex.” suara Emma melemah dan terdengar sendu. Bego banget gue!

Aku terduduk mengikuti irama hujan yang sejak tadi berpihak padanya. Tertunduk dalam penyesalan. Kupeluk dia dan aku berjanji. Gue yang salah bego! Dasar gue-nya aja yang terlalu sayang sama elo.

“Maafin gue, Em. Bukan salah cinta kita jadi begini, ini salah gue yang terlalu bodoh. Menilai cinta itu gampang gue rebutin.” kukeluarkan liontin yang gagal aku perlihatkan waktu itu. Kemudian kulingkarkan di leher Emma. Ia tersedu-sedu.

“Dexter…” ucap Emma lirih.

“Gue sayang elo, Emma. Jangan lari seperti itu lagi. Gue nggak bisa ngejar tau!”

Kubiarkan Emma menangis di pelukanku, tetap hangat dalam kedinginan hujan yang menyentuh tubuh. Aku ingin dia menangis dalam dekapanku, memelukku dalam-dalam, seolah-olah membalut tubuhnya dengan penuh kasih sayang. Kuizinkan tangisnya bergemuruh melawan deras hujan, mereka tak akan menegurnya. Aku tahu cinta ini berawal dari kesalahan, tapi aku senang akan hal itu. Aku bahagia telah mengenalnya lebih dulu, dan tahu-tahu cinta ini datang begitu saja.

____________________________________________________________

  • (Non) la faute de l’amour : (Bukan) Salah Cinta
  • Kafe Bon Pierre : Kafe ala Paris dengan menu Cake dan Coffee
  • Forret Noiré : Black Forest (Cake)
  • Café Crème : Kopi dengan krim lembut
  • Choux à la Crème : Kue Sus (Indonesia)
  • Excusez-moi : Permisi/maaf
  • Monsieur : Tuan (muda)
  • Mademoiselle : Nona (muda)
  • Allô : Halo/hai
  • Merci : Terima kasih
  • Patissier : Pembuat Kue
  • Bonjour, je m’apelle …. Et vous? : Hai, nama saya …. Kalau Anda?
  • Comment ça va? : Apa kabar?
  • Le magnifique : Hebat/luar biasa

2 thoughts on “Cerpen: (Bukan) Salah Cinta

  1. tansianhwa berkata:

    Bagus…#jadi mikir : generasi Lupus sudah bergeser…hiks…Semua orang tau twitter, Lupus taunya permen karet…

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s