MAKALAH: Kontribusi Ternak dan Hasil Ternak Terhadap Kehidupan Umat Manusia

TUGAS FINAL MATA KULIAH PENGANTAR ILMU PETERNAKAN

“KONTRIBUSI TERNAK DAN HASIL TERNAK TERHADAP

KEHIDUPAN UMAT MANUSIA”

MAKALAH

OLEH:

IQBAL JALIL HAFID

L1A1 12 102

PETERNAKAN B


FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2012

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penulis tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar peran kontribusi ternak dan hasil ternak terhadap kehidupan umat manusia yang disajikan berdasarkan pengamatan dan referensi dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penulis dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penulis maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Kontribusi Ternak dan Hasil Ternak Terhadap Kehidupan Umat Manusia” dan sengaja dipilih untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Peternakan pada Ujian Final Semester 1 dalam lingkup Fakultas Peternakan Universitas Haluoleo, dan sangat menarik perhatian penulis untuk dicermati, serta perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia peternakan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Terima kasih.

Kendari, 14 Januari 2013

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul ….….…………………………………………………………….    1

Kata Pengantar    ..……………………………………………………………..    2

Daftar Isi     ..……………………………………………………………………    3

BAB I. PENDAHULUAN     ..…………………………………………………    4

  1. Latar Belakang    ..………………………………………………………..    4
  2. Rumusan Masalah     ..……………………………………………………    5
  3. Tujuan dan Manfaat     ..…………………………………………………..    5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………    6

  1. Ternak Digunakan Untuk Beternak dan Kontribusinya Begitu

    Menjanjikan …….…………………………..…………………………….    6

  2. Kontribusi Ternak Dalam Kaitannya dengan Nutrisi Manusia

    dan Kesehatan    …………………………………………………………    11

BAB III. PENUTUP     ……………………………………………………….    13

  1. Kesimpulan    ..…………………………………………………………    13
  2. Saran    .………………………………………………………………..    13

Daftar Pustaka    ………………………………………………………………    15

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Sejak ribuan tahun yang lalu, hewan yang dijadikan sebagai sumber makanan (ternak) telah memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia, termasuk kontribusi di awal evolusi penggerak bipedal dan pengembangan otak yang lebih besar pada manusia. Kemudian, domestikasi hewan dan tumbuhan membantu menstabilkan persediaan makanan yang memberikan kontribusi energi untuk pembangunan sosial. Dengan mempopulerkan argumen bahwa kontak dekat dengan hewan ternak secara diferensial dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit zoonosis, selain itu memberikan keuntungan dalam bidang sosial–budaya. Hingga saat ini, ternak dan hasilnya menempati posisi yang baik untuk terus berkontribusi terhadap transformasi sosial sebagai aset strategis masyarakat yang tergolong miskin.

Upaya pengembangan ternak di negara-negara berpenghasilan rendah terutama ditujukan untuk menghasilkan pendapatan dan memenuhi permintaan dari berbagai usaha peternakan di seluruh dunia. Upaya ini sering memberikan prioritas tinggi terhadap teknologi yang memaksimalkan produktivitas hewan, yang mungkin tidak cocok dalam konteks negara berkembang. Hoffman et al. (2003) mempertanyakan kelayakan strategi ini untuk negara-negara yang ada di Asia, dia mencatat dan memperkenalkan beberapa contoh keturunan hewan yang buruk disesuaikan dengan kebutuhan dan kendala petani usaha kecil. Namun para pemerhati dunia peternakan mulai menyoroti kesalahpahaman ini, kemudian membimbing para pelaku peternakan untuk mendesain ulang intervensi positif masyarakat dalam pengembangan ternak. Melalui makalah ini, penulis fokus pada kontribusi ternak dan hasil ternak yang memberikan kesejahteraan finansial hingga kesehatan yang lebih baik. Salah satu tujuannya adalah untuk menggambarkan seberapa besar bentuk kontribusi dari ternak dan hasil ternak dengan mengeksplorasi sejumlah kesalahpahaman yang menghambat upaya untuk memanfaatkan manfaatnya terhadap kehidupan umat manusia.

2. Rumusan Masalah

Dari penjambaran latar belakang diatas, dapat dirumuskan suatu masalah, yaitu “Bagaimanakah bentuk kontribusi ternak dan hasil ternak terhadap kehidupan umat manusia?”

3. Tujuan dan Manfaat

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kontribusi ternak dan hasil ternak terhadap kehidupan umat manusia.

Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai bahan informasi bagi para pembaca agar dapat mengetahui bentuk kontribusi ternak dan hasil ternak terhadap umat manusia.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Ternak Digunakan Untuk Beternak dan Kontribusinya Begitu Menjanjikan

Ternak ada dimana-mana, dalam masyarakat golongan miskin negara berkembang di seluruh dunia. Diperkirakan dua pertiga sumber daya rumah tangga pedesaan menyimpan beberapa jenis ternak. Beternak dipraktekkan oleh masyarakat miskin yang memiliki produktivitas per satuan lahan hewan atau jauh di bawah orang-orang di negara-negara industri maju. Ada banyak alasan untuk ini, terutama pola produktivitas yang rendah. Sistem manajemen rakyat biasanya rendah atau tidak ada masukan, beternak hewan hijauan untuk diri mereka sendiri, kemudian mengkonsumsinya. Dalam banyak kasus, harga produk pakan ternak yang relatif mahal meresahkan sebagian peternak, namun dapat memberikan pencapaian yang cukup intensif dalam mengembangkan sistem produksi yang intensif pula. Keberhasilan suatu usaha peternakan ditentukan oleh ketersediaan pakan disamping pemuliaan dan tata laksana. Untuk memperoleh keuntungan yang memadai, maka seseorang dapat beternak hewan kecil, seperti kelinci, ayam, itik, cacing, disaat hewan tersebut sedang populer, hingga beternak hewan yang besar, seperti sapi atau kerbau yang bukan saja memiliki keuntungan dari dagingnya tapi hasil output dari ternak tersebut juga lebih menjanjikan (misalnya, sapi perah dan kerbau bisa menghasilkan susu yang dapat dijual dengan rasio harga yang tinggi) (Rueda et al, 2003). Masyarakat miskin sering menyimpan campuran jenis ternak yang berbeda, sistem beternak masyarakat miskin mencerminkan keterbatasan sumber daya yang mereka hadapi menjadikan mereka kurang mengetahui bentuk kontribusi dari ternak maupun hasil ternak mereka. Hal ini disebabkan masalah keuangan, akses terhadap informasi dan layanan yang terbatas, dan tanah.

Namun ada beberapa alasan yang bervariasi seseorang beternak, karena mereka telah mengetahui kontribusinya yang begitu menjanjikan, meliputi:

a. Memproduksi Makanan

Ternak disimpan oleh masyarakat dapat menghasilkan pasokan rutin yang kaya nutrisi ASF yang dimana di dalamnya menyediakan suplemen kritis dan keragaman pokok pola makan nabati (Murphy dan Allen, 2003). Hal ini berlaku terutama untuk susu dan telur, yang dapat membantu mengurangi dampak dari fluktuasi musiman yang sering terjadi dalam ketersediaan gabah (Wilson et al., 2005). Dalam banyak sistem, menyembelih hewan untuk daging adalah jarang, meskipun, terjadi hanya ketika ternak tersebut sakit atau tidak produktif lagi, atau untuk acara-acara khusus seperti upacara keagamaan atau perhotelan (Scoones, 1992). Misalnya saja daging kerbau muda yang cukup empuk. Rendang  yang dimakan di Rumah Makan Padang biasanya lebih banyak daging kerbau daripada daging sapi. Ternak pun digunakan sebagai hewan kurban di beberapa daerah, selain sapi dan kambing. Telur dari ayam petelur, serta ayam lainnya yang meghasilkan telur yang bermutu.

b. Membangkitkan Penghasilan

Dalam beberapa kasus, seseorang memiliki ternak dengan tujuan dapat diproduksi di pasaran. Dalam kasus lain, penjualan ternak mungkin sesekali dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mendesak dalam urusan uang tunai, seperti biaya sekolah atau membayar biaya medis (Kitalyi et al., 2005).

c. Menyediakan Pupuk

Limbah ternak sering menjadi masukan penting untuk menjaga kesuburan tanah, sehingga memberikan kontribusi untuk produksi tanaman yang lebih besar untuk makanan dan pendapatan (Powell et al., 1998). Di beberapa daerah, kotoran ternak juga digunakan sebagai bahan bakar. Misalnya kotoran kerbau dapat digunakan sebagai pupuk atau bahan bakar jika dikeringkan. Semasa booming ternak cacing tanah, kotoran kerbau dicari peternak cacing untuk media tumbuh cacing tanah. Orang berebut kotoran kerbau berbahan hijauan alami. Kotoran ternak untuk pupuk, bahan bakar, dan sering digunakan sebagai bahan bangunan merupakan komoditas berharga yang ramah linkungan dibanding pupuk anorganik (pupuk kimia) (Wilson et al., 2005).

d. Memproduksi Daya atau Tenaga Kerja

Dalam sistem beternak, hewan yang lebih besar berfungsi sebagai peralatan pertanian, menyediakan tenaga traksi untuk produksi transportasi dan tanaman (Powell et al., 1998). Ternak dipelihara oleh masyarakat Indonesia  secara turun temurun. Pada masyarakat pulau Jawa, ternak yang lebih besar digunakan sebagai hewan yang digunakan tenaganya untuk mengolah sawah sejak dulu kala.  Sebelum ada traktor, ternak sapi dan kerbau memiliki fungsi amat besar dalam produksi padi.   Meskipun ada mekanisasi pertanian menggunakan traktor, penggunaan sapi dan kerbau masih diperlukan untuk sawah dengan terasering yang berundak-undak. Pemanfaatan ternak sebagai alat transportasi diperkirakan berkaitan dengan pengangkutan hasil-hasil pertanian seorang petani.

e. Menjabat sebagai Instrumen Keuangan (Tabungan Berjangka)

Masyarakat golongan miskin biasanya tidak memiliki akses ke pasar keuangan standar, termasuk bank. Ternak menawarkan alternatif untuk menyimpan tabungan mereka atau modal yang terakumulasi sebagai “rekening tabungan hidup”, meskipun tanpa risiko, perlindungan nilai terhadap inflasi cukup kuat (Moll, 2005). Selain itu, mereka dapat dijual dan diubah menjadi uang tunai yang diperlukan dan begitu juga menyediakan alat likuiditas dan smoothing konsumsi. Demikian pula, ternak menjaga dianggap alternative sebagai bentuk asuransi, menyediakan kesejahteraan keluarga dengan aset yang dapat dijual pada saat krisis (Hoddinott, 2006). Di beberapa desa, ternak digunakan untuk alat menabung. Peternak maupun non peternak yang memiliki ternak menyimpan uangnya dengan membeli ternak yang baru, lalu menjualnya jika sedang membutuhkan uangnya.

f. Menghasilkan Susu dan Bahan Tekstil (Industri)

Banyak ditemui ternak besar seperti kerbau, sapi penghasil susu, kambing, domba dan onta.  Di  Minangkabau, susu kerbau juga diolah menjadi dadiah (sejenis yoghurt) dan juga digunakan sebagai bahan keju Mozzarella. Selain dapat diolah menjadi keju, susu juga dapat diolah menjadi mentega (mentega susu, butter), krim, dan sebagai makanan kaya protein, energi, vitamin, dan mineral. Kulit ternak sering digunakan juga sebagai bahan sepatu, wayang kulit, wool, bahan bulu pada shuttlecock bulu tangkis dan helm sepeda motor. Konsumen papan atas menghendaki bahan-bahan asli yang bernilai tinggi.

g. Meningkatkan Status Sosial

Norma-norma budaya Enduring di banyak masyarakat menempatkan nilai yang cukup signifikan pada ternak sebagai indikator penting sosial dalam masyarakat, baik berdasarkan ukuran kepemilikan ternak keluarga, atau berbagi ternak mereka dengan orang lain, untuk memperkuat ikatan sosial, termasuk penggunaan ternak sebagai mas kawin atau mahar (Kitalyi et al, 2005). Status sosial yang lebih tinggi dapat diterjemahkan ke dalam akses atau otoritas atas dasar yang lebih luas dari sumber daya dalam masyarakat. Sejak dahulu, masyarakat berpendapat bahwa apabila seseorang memiliki ternak maka dianggap sebagai orang yang memiliki harta banyak dan berderajat tinggi. Sehingga beberapa ternak dimanfaatkan pada acara-acara tertentu sebagai simbol kebesaran seperti acara perkawinan yang dilaksanakan secara adat setempat.

Beberapa jenis ternak disimpan oleh seseorang dalam rumah tangga untuk mengatasi tujuan yang berbeda, kadang-kadang bersamaan. Dengan demikian, manajemen tidak selalu fokus memaksimalkan produktivitas dari hewan ternak individu atau kawanan. Para ekonom telah menghargai kontribusi yang beragam untuk membantu memahami inefisiensi yang jelas. Misalnya, Moll (2005) telah menyarankan pendekatan untuk menilai ternak sebagai instrumen keuangan dan untuk status sosial dan menunjukkan bagaimana peran ternak serta menjelaskan mengapa pemegang ternak Zambia memelihara ternak jauh melampaui usia optimal untuk pembantaian komersial. Demikian pula, sebuah penelitian terbaru menemukan kurang dari 15% dari nilai tahunan yang dihasilkan dengan beternak di peternakan kecil di zona kapas yang tumbuh di Afrika Barat, manfaat utamanya adalah traksi bukan hewan (Affognon, 2007).

Banyak orang menganggap dengan beternak menunjukkan bahwa itu adalah hal yang menyesatkan, dengan melihat ternak sebagai kegiatan kurang bermutu, produksi konvensional independen. Sebaliknya, kegiatan ternak terintegrasi dalam produksi rumah tangga dan keputusan konsumsi, sehingga peran yang dimainkan ternak dalam rumah tangga menghasilkan kontribusi yang sangat penting dalam menciptakan kesejahteraan yang kompleks seperti yang telah digambarkan menurut kerangka konseptual Sustainable Livelihoods Framework (SLF) dengan kontribusi ternak untuk memperkuat basis aset umat manusia (Carney, 1998).

Di SLF ini, ternak menjadi aset fisik kritis yang dapat meningkatkan saham atau kualitas dari aset rumah tangga, sebagai kunci dalam mengurangi kerentanan, memperluas alternatif mata pencaharian, dan meningkatkan hasil. Penggunaan pupuk kandang sebagai amandemen kesuburan tanah dapat meningkatkan modal alam. Kepemilikan ternak dapat meningkatkan modal sosial. Sebuah ternak kawanan yang lebih besar merupakan peningkatan modal fisik, dan gizi yang lebih baik dan kesehatan yang berasal dari ternak meningkatkan modal manusia.

2. Kontribusi Ternak Dalam Kaitannya dengan Nutrisi Manusia dan Kesehatan

Dinamika antara beternak dan fisik kesejahteraan keluarga sangat kompleks. Dimana “yang memiliki ternak” dan “hasil ternak” menunjukkan bahwa dengan memiliki ternak akan meningkatkan hasil ternak. Sebuah hubungan sinergis ditunjukkan antara kesehatan manusia dan status gizi. Beternak mempengaruhi status gizi dan kesehatan manusia melalui beberapa rantai-hubungan kausal menunjukkan bahwa ternak yang dimiliki untuk meningkatkan hasil ternak, penjualan hasil ternak, dan pendapatan rumah tangga. Pendapatan dari penjualan hasil ternak dapat digunakan untuk membeli segala kebutuhan, dan memungkinkan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas atau lebih baik atau produk yang akan dibeli oleh rumah tangga.

Selain menyiratkan efek positif dari kepemilikan ternak terhadap kesehatan manusia dan status gizi. Namun, ternak juga bisa memperburuk kesehatan manusia dan gizi melalui berbagai hubungan. Pertama, alokasi sumber daya rumah tangga seperti tanah dan tenaga kerja terhadap ternak, dalam kondisi tertentu, mengurangi produksi, konsumsi, dan penjualan makanan. Hal ini dapat memiliki efek perubahan yang terhenti seketika pada konsumsi makanan dan pendapatan rumah tangga. Kedua, penyakit zoonosis terkait dengan beternak dapat ditularkan dari hewan ternak atau hasil ternak kepada anggota keluarga, namun secara tidak langsung baik melalui pencemaran lingkungan oleh limbah ternak (khususnya sumber daya air), konsentrasi racun lingkungan. Akhirnya, keterkaitan mewakili interaksi antara status gizi dan kesehatan dapat meningkatkan atau memperburuk kesehatan tergantung pada faktor-faktor lain.

Ternak secara keselruhan/sebagian berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk menunjang kehidupan umat manusia yang terdiri dari sangang, pangan, papan, bahan bakar, dan kesejahteraan rohaniah telah dijelaskan sebelumnya. Selain itu, ternak juga dapat digunakan sebagai hewan percobaan dalam dunia kesehatan, pengobatan, sampai kosmetika dengan mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebelum ditujukan kepada manusia secara langsung. Hewan kecil seperti anjing, kucing, ikan hias, burung, hamster, hewan sirkus, dan ayam ketawa pada umumnya dijadikan hewan penghias halaman rumah dan sebagai hewan kesayangan (Pet Animal) penghilang stress dikala penat datang.

Secara umum dari pandangan etnik dan agama, ada salah satu ternak yang mendapat tanda halang untuk dikonsumsi oleh umat muslim, yaitu babi. Namun, babi masih dipelihara secara tradisional oleh rakyat pedesaan di daerah yang minoritas muslim, misalnya Sumatera Utara, Nias, Bali, NTT, Papua hingga negara-negara maju, seperti Amerika, Inggris, dan Afrika. Bahkan oleh suku tertentu, hewan ini mendapat tempat tersendiri. Babi dinilai sangat tinggi dalam adat budaya Batak, Toraja dan beberapa suku lain di dunia.

Dalam hal inilah, ternak mempunyai potensi untuk dikembangakan baik di negara berkembang maupun di negara maju dengan menerapkan sistem peternakan modern. Dengan demikian pengembangan usaha peternakan dan wilayah agribisnisnya sangat luas, hampir meliputi seluruh agroekosistem dan sosial-budaya yang ada sehingga hampir semua ternak mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai penghasil daging. Ternak dianggap memiliki kontribusi tinggi dan cukup banyak menginspirasi untuk memperbaiki keamanan pangan dan mata pencaharian umat manusia.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Ternak digunakan untuk beternak dengan hasil ternak yang kontribusinya begitu menjanjikan, dalam memproduksi makanan, membangkitkan penghasilan, menyediakan pupuk, memproduksi daya atau tenaga kerja, menjabat sebagai instrumen keuangan (tabungan berjangka), menghasilkan susu dan bahan tekstil (industri), dan meningkatkan status sosial. Selain itu kontribusi ternak sangat penting dalam kaitannya dengan nutrisi manusia dan kesehatan. Dimana “yang memiliki ternak” dan “hasil ternak” menunjukkan bahwa dengan memiliki ternak akan meningkatkan hasil ternak. Sebuah hubungan sinergis ditunjukkan antara kesehatan manusia dan status gizi. Selain itu, ternak juga dapat digunakan sebagai hewan percobaan dalam dunia kesehatan, pengobatan, sampai kosmetika dengan mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebelum ditujukan kepada manusia secara langsung. Dan sebagai hewan kesayangan (Pet Animal) penghilang stress dikala penat datang.

2. Saran

Telah disadari bahwa dampak peternakan terhadap kesehatan manusia dan nutrisi telah diabaikan, dan bahwa ternak menawarkan kesempatan dieksploitasi untuk menambah nilai intervensi ternak dan meningkatkan potensi hasil ternak untuk mengurangi kemiskinan. Untuk mencapai hal ini diperlukan apresiasi yang lebih mendalam untuk kompleksitas yang terkait dengan kontribusi bahwa ternak bermain di strategi mata pencaharian masyarakat miskin dan gizi dalam rumah tangga dan dinamika kesehatan. Sebuah pelajaran penting yang muncul dari penulisan makalah ini mengenai kontribusi ternak dan hasil ternak terhadap kehidupan umat manusia telah membahas kesadaran terbatas pentingnya antarmuka ternak – kesehatan manusia – kemiskinan, serta kesalahpahaman tentang pengelolaan ternak, serta masalah yang berhubungan. Kurangnya pengetahuan kita menyiratkan perlunya hati-hati dirancang, penelitian empiris, termasuk pertimbangan lingkungan dan sosial. Beberapa pelajaran telah dipelajari dan keberhasilan itu ada. Sistem perspektif dan lensa kemiskinan untuk penelitian tentang seberapa besar kontribusi ternak dan hasil ternak terhadap kehidupan umat manusia di negara berkembang-maju yang seluas-luasnya sangat diperlukan agar masyarakat tidak takut untuk beternak. Apalagi ternak dianggap memiliki kontribusi tinggi dan cukup banyak menginspirasi untuk memperbaiki keamanan pangan dan mata pencaharian umat manusia.
DAFTAR PUSTAKA

Affognon, HD 2007. Ekonomi analisis penggunaan trypanocide di desa-desa di bawah risiko resistensi obat di Afrika Barat. PhD Diss. University of Hannover, Hannover, Jerman.

Bamualim, A. dan M. Zulbardi. 2007. Situasi dan Keberadaan Kerbau di Indonesia. Pros. Semiloka Usaha Ternak Kerbau. Puslitbang Peternakan, Bogor.

Berlian, J. 2002. Evolusi, konsekuensi dan masa depan domestikasi tanaman dan hewan Nature 418.

Carney, D. 1998. Menerapkan pendekatan mata pencaharian pedesaan berkelanjutan: Apa Kontribusi Bisa Kita Lakukan?. Departemen Pembangunan Internasional, London, Inggris.

Federasi Internasional Produsen Pertanian (IFAP). 2000. IFAP survei milenium tindakan-tindakan untuk mengurangi kemiskinan pedesaan dan peran organisasi petani. http://www.ifap.org/develop/surveygen.html. Diakses pada hari Sabtu tanggal 12 Januari 2013.

Hoddinott, J. 2006. Guncangan dan konsekuensinya mereka menemukan dan dalam rumah tangga di pedesaan Zimbabwe. J. Dev. Studi 42: 301 -321.

Hoffman, D., P. Riethmuller, dan D. Steane. 2003. Beberapa isu yang terkait dengan industri ternak negara-negara berkembang di Asia: Membuka Kotak Pandora J.. Makanan Agric. Environ 1 (3 & 4).

Journal of Animal Science. 2013. Role of Livestock. http://www.journalofanimalscience.org/. Diakses pada hari Sabtu tanggal 12 Januari 2013.

Kitalyi, A., L. Mtenga, J. Morton, A. McLeod, P. Thornton, A. Dorward, dan M. Sadullah. 2005. Mengapa tetap ternak jika Anda miskin? Halaman 13-27 dalam Penciptaan Ternak dan Kekayaan: Meningkatkan Peternakan Hewan Disimpan oleh Sumber Daya Buruk Orang di Negara Berkembang. EA Owen, A. Kitalyi, N. Jayasuriya, dan T. Smith, ed. Nottingham Univ. Tekan, Nottingham, Inggris.

Moll, HAJ 2005. Biaya dan manfaat dari sistem peternakan dan peran pasar dan hubungan non-pasar. Agric. Ekon.

Murphy, SP, dan LH Allen. 2003. Gizi pentingnya makanan sumber hewani. J. Nutr 133 (11s-II).

Rueda, BL, RW Blake, CF Nicholson, DG Fox, LO Tedeschi, AN Pell, ECM Fernandes, JF Valetim, dan JC Carneiro. 2003. Produksi dan potensi ekonomi ternak di padang rumput berbasis sistem Wilayah Amazon Barat Brasil. J. Anim. Sci.

Scoones, I. 1992. Nilai ekonomi ternak di daerah-daerah komunal Selatan Zimbabwe. Agric. Sys.

Wilson, T., A. Pearson, N. Bradbear, A. Jayasuriya, H. Laswai, L. Mtenga, S. Richards, dan R. Smith. 2005. Ternak-produk berharga dan lebih berharga. Halaman 109-126 dalam Penciptaan Ternak dan Kekayaan: Meningkatkan Peternakan Hewan Disimpan oleh Sumber Daya Buruk Orang di Negara Berkembang. EA Owen, A. Kitalyi, N. Jayasuriya, dan T. Smith. ed. Nottingham Univ. Tekan, Nottingham, Inggris.

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s