Genggam Tanganku, Jane.

“Thank’s ya, Bob, Rose,” kata Jane pada sepasang remaja di mobil. Lalu dibukanya pintu dan keluar.

“Jane!” panggil Bob dari balik kemudi. Jane urung melangkah. “Bagaimana dengan acara ulang tahun Lulu nanti sore? Jam tiga lho.”

“Kurasa aku nggak bisa, Bob,” sesal Jane.

Rose menatapnya agak cemas. “Apa karena kau belum punya pasangan? Ayolah, itu cuma pesta antar teman sekelas, bukannya acara pamer pacar.”

Pipi Jane memerah. “Bukan karena itu kok. Seminggu yang lalu tante Laura minta tolong padaku untuk menjaga anak-anaknya, karena beliau mau menjenguk Oma Hilda. Maklumlah, nenekku itu sekarang sering sakit-sakitan. Dan aku sudah menyetujuinya.”

“Cobalah untuk bicara pada Adam,” usul Rose. “Abangmu itu pasti mau membantu menjaga sepupu kalian.”

“Kurasa itu bukan ide jenius, Rose. Adam tidak suka anak kecil.”

“Wah, sayang sekali,” komentar Bob. “Tapi kalau kau berubah pikiran, telepon saja aku, oke? Kami akan menjemputmu.”

“Baiklah. Thank’s before ya, Bob?”

Bob dan Rose melambaikan tangan, perlahan mobil cowok itu bergerak menjauh. Jane memandanginya sampai lenyap di ujung jalan, baru menuju pintu rumahnya.

Ketika tiba di ruang tamu, gadis berlesung pipi itu melihat Papa Mamanya sudah berpakaian rapi seperti sedang bersiap-siap untuk pergi. Selain itu ada sepasang tamu berusia sebaya dengan orang tuanya. Jane mengenali mereka sebagai keluarga Wijaya.

Mendadak Jane merasa gerah dan senewen. Kenapa mereka ada di rumahnya? Memang, bertamu itu tidak dilarang, apa lagi Om dan Tante Wijaya adalah teman baik orang tuanya selama puluhan tahun. Tapi…

Jane sedikit panik. Apakah manusia satu itu ikut juga?

“Selamat siang, Om, Tante,” sapanya sambil mengulas senyum ramah.

“Kami mau mengajak Papa dan Mamamu ke rumah seorang teman lama,” kata Om Wijaya. “Teman kami tiu sedang sakit parah sekarang.”

“Lho,” Jane menatap Mamanya, “Jadi, siapa yang jaga rumah? Jangan harap Adam mau, acaranya tidak boleh diganggu.”

“Kan ada kamu, Jane,” kata papa.

“Papa mulai pikun nih. Jane harus ke rumah tante Laura untuk menjaga trio matsuda mereka.” Tante Laura memang menikah dengan pria Jepang yang sudah menjadi WNI. Saat ini Om Kakei sedang di Hokkaido untuk urusan bisnis. “Jane udah janji, Mama sendiri udah bilang boleh.”

“Tenang, nona Ragil,” celutuk mamanya. “Mama tahu, sebenarnya kau sendiri ingin sekali menjaga mereka. Jangan khawatir keinginanmu tidak akan dikorbankan. Papa sudah menelpon Tante Laura untuk memberi tahu keprgian kami, dan dia tidak keberatan untuk membawa anak-anaknya kemari. Mereka akan datang setengah jam lagi. Kau senang?”

Jane mengangguk sambil menghembuskan nafas lega.

“Kalau begitu, kami pergi sekarang. Jaga rumah baik-baik.”

“Kami akan pulang secepat mungkin,” tambah Mama.

Jane melambai pada keempat orang itu, lalu menghembuskan nafas lega. Untunglah, batinnya, ternyata manusia yang dikhawatirkannya tak ikut datang. Bergegas ia menukar seragam putih abu-abunya denag pakaian rumah, lantas ke dapur untuk makan siang. Piring-piring kotor segera dicuci selesai makan. Semuanya selesai dalam setengah jam.

Tepat pada saat kakinya menginjak ruang tamu, terdengar bunyi klakson mobil menjerit-jerit dengan nada amburadul seperti dibunyikan oleh beberapa tangan secara bersamaan. Gadis itu segera maklum kalau yang ditunggu sudah datang.

Dengan riang dibukanya pintu an…

Tiga bocah lelaki berusia dua tahun segera menggayuti kakinya. Mereka langsung merengek minta gendong, membuat Jane kelabakan. Ia mengulas senyum pada Tante Laura yang baru turun dari mobil.

“Halo, Tan… aduh!” Jane tak sempat menyelesaikan sapaannya, salah seorang dari ketiga bocah berpenampilan sama persisi itu menggigit jari tangannya. “Astaga, Tante, yang ini seperti orang yang kelaparan. Apa Tante belum memberinya makan?”

Tantenya tersenyum, lalu melebarkan mata kearah bocah yang menggigit jari Jane. “Suisei Matsuda, salam sayangmu buruk sekali.”

Kamaimasen.” kata Jane mengelus kepala Suisei. ”Jadi ini si Merkurius ya? Wah, Tante, gimana sih caranya membedakan mereka?”

Tante Laura mengedikkan bahu. ”Naluri seorang ibu, mungkin. Suisei, Kasei, Mokusei, bilang apa sama Jane?”

“Kami mau main, Janeeee,” sahut ketiga kembar itu serempak. Mereka suka memanggilnya dengan nada mengalun panjang.

Mama mereka melotot, Jane hanya tertawa tanpa suara. Anak kembar Tantenya memang menggemaskan: putih, sipit, gempal, cerdas, lincah.

“Baiklah, Jane, Tante titip Trio Matsuda ini ya?” Lalu beliau mencium dahi ketiga putranya satu persatu.

“Bilang da-dah sama Mama,” kata Jane.

Sayonara, Mama…!” seru Trio Matsuda.

“Ayo masuk, Jane riang setelah adik Papanya lenyap dari pandangan. Dia senang sekali kalau disuruh menjaga ketiga bocah ini.

Anak-anak lucu ini putra pertama Tante Laura dengan Om Kakei Matsuda. Begitu mereka lahir, otomatis keduanya tidak berniat menambah anak lagi. Trio Matsuda diberi nama yang berarti planet : Suisei si Merkurius. Kasei si Mars. Dan Mokusei si Jupiter.

Mereka menuju ruang bermain dengan langkah setengah melompat. Walaupun di rumah ini tidak ada anak kecil lagi (Jane anak bungsu keluarga Lukas), tapi Papa ‘menyulap’ satu kamar kosong menjadi miniatur bermain. Sebagian besar isinya adalah mainan Adam dan Jane saat mereka balita.

Jane meraih sesuatu dari laci mejanya dan mengeluarkan tiga permen loli dengan diameter hampir lima centimeter. Trio Matsuda menatapnya penuh rasa ingin.

“Nah,” Jane menatap mereka bergantian dengan sorot sayang, “Jane akan mencoba menebak nama kalian, oke?”

Ketiganya mengangguk.

Jane mengulurkan sebatang permen loli pada bocah yang ada di tengah sambil menyebut sebuah nama, “Mokusei?”

“Kasei,” ralat yang ditanya sambil menyambar permen itu.

Jane mengulurkan permen kedua pada bocah di kiri, “Suisei?”

“Mokusei!” seru anak ketiga sebelum ditanya, sambil merampas permen terakhir.

Jane mengedikkan bahu. “Yah, rupanya Jane harus menyerah. Sejak dulu aku belum pernah bisa menandai kalian dengan tepat. Orang tua kalian hebat, tidak pernah salah memanggil.”

Lalu mereka mulai membongkar dan mengacak-acak semua mainan yang ada di kamar itu. Jane merasa masa kanak-kanaknya yang manis seolah terulang kembali. Dia melompat dengan riangnya bersama Trio Matsuda, padahal dia sudah kelas satu SMU.

Tanpa disadari Jane, sepasang mata tengah mengamati tingkah uniknya sambil tersenyum kecil. Mokusei-lah yang pertama kali melihat pemilik mata itu. Dia berlari memeluk Jane sambil berbisik,

Sore wa dare de su ka.

Jane menoleh cepat dan… rona merah segera menjalari pipi halusnya. Saat itu sedang memakai topeng belakang Ksatria Baja Hitam yang terbuat dari plastik transparan, salah satu mainan favoritnya dulu. Perlahan dilepasnya topeng di wajahnya.

“Lagi, Jane…,” rengek Trio Matsuda.

“Sebentar, ada teman Jane.” Pipinya memerah saat melambaikan tangan memanggil sesosok di pintu. ”Masuk, Ken.”

Cowok berkulit bersih itu mendekat dan mengambil tempat di depan. Si kembar menatapnya penuh tanya.

“Kok bisa masuk?” tanya Jane langsung.

“Kau sudah berbuat lalai, little Jane,” sahut cowok itu. “Asal tau aja, pintu depan nggak terkunci. Untung aku bukan bandit.”

“Iya deh, makasih,” ketus gadis itu. “Tapi jangan panggil aku seperti itu, umurku sudah empat belas. Aku bisa marah tau?”

“Dia jahat, Jane?” tanya salah seorang dari ketiga sepupunya. Mata sipit itu menatap Kenny tak suka.”Aku bisa menggigitnya.”

“Ha, kau pasti Suisei,” tebak Ken dengan nada yakin.

Anak itu mengangguk, membuat Jane penasaran.

“Bagaimana kau…”

“Bisa tahu pasti?” sambung Ken. Jane mengangguk. “Aku selalu mencermati penjelasan Tante Laura kalau beliau bercerita tentang mereka. Jadi, meski belum pernah ketemu, aku bisa mengenali anak-anaknya. Suisei punya watak pelindung dan pemimpin. Yang paling memudahkan untuk mengenalinya adalah… Suisei suka menggigit.”

Jane terbengong. Mudah sekali, tapi dia tak pernah tahu, padahal anak-anak ini sepupuya. Sedangkan Kenny cuma anak Om dan Tante Wijaya, yang kebetulan memang akrab dengan kaluarga Jane maupun keluarga Matsuda.

Ken melanjutkan penjelasannya, “Kasei paling agresif dari mereka bertiga. Kalau sejak tadi ada yang pernah capek melompat, pasti itu Kasei. Mokusei agak pendiam. Sesuai dengan sifat planet Jupiter, yaitu menaungi kecerdasan, Mokusei nampaknya lebih suka berpikir dari pada berbicara.”

Jane makin terbengong mendengar ulasan Ken.

“Tapi ada cara yang paling mudah menandai mereka,” kata Ken, lalu tertawa sesaat. “Kasei punya tanda lahir warna merah di leher sebelah kiri atas, Mokusei punya tahi lalat di dahi kanannya, dan Suisei tidak punya tanda apa-apa di sekitar wajah. Paham, little Jane?”

Jane merasa wajahnya memanas.

“Kenapa kau kemari?” Jane mengalihkan pembicaraan.

“Aku ditelepon Om Lukas. Kata beliau, kau sedang sendirian di rumah bersama tigah bocah nakal. Kata beliau, mamamu khawatir kamu kerepotan.”

”Pulang aja deh,” ketus Jane, “Aku masih sanggup kok.”

“Jane…” Ken melirik sekilas. “Apakah… rencana orang tua kita sangat menyusahkan hatimu?”

Jane menggumam tak jelas.

“Kuharap kau tidak terlalu terbebani. Kau bisa menolak kalau memang tidak suka.”

“Soal menolak sih gampang, tapi jad sulit karena kau menerima.”

“Apa tidak boleh?” gumam Ken.

Jane menoleh, mata mereka bertemu. Sesuatu yang lembut dan hangat menjalari dadanya, buru-buru dia berpaling.

Keluarga Lukas dan keluarga Wijaya pernah berencana mempererat tali persahabatan. Mereka ingin menjodohkan Kenny dan Jane.

“Jane?” Gadis itu tertegun menatap tangan Ken yang terulur. ”Keinginan orang tua kita bukanlah vonis mati. Kalau keberikan tanganku setulus hati, maukah kau menggenggamnya?”

Jane merasa waktu berhenti bergulir. Tangannya terangkat membalas uluran tangan Kenny. Ketika ibu si kembar datang menjemput buah hatinya, tangan sepasang insan saling berpegangan erat seolah hari esok tak ada lagi.

***

By: Arm pada sebuah majalah tahun 90-an dikutip sesuai dengan teks aslinya. xx

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s