EROPA: Perjalanan Panjang Menuju Sujud – Jilid 1: Upaya ke Eropa

EROPA: PERJALANAN PANJANG MENUJU SUJUD
Oleh: Wahyu Widodo

Pengantar dari Penulis

Catatan ringan yang saya susun untuk pembaca yang lagi punya waktu senggang, atau yang lagi sedih, bingung dan galau. Saya berharap pembaca kemudian kembali semangat menatap kehidupan. Cerita ini sebagai dokumentasi perjalanan saya selama enam bulan di Eropa. Bukan bermaksud untuk sombong, mudah-mudahan saya dijauhkan dari sifat itu, aamiin. Disamping itu juga untuk memenuhi permintaan pak Suparto (tokoh penting dibalik kepergian saya ke Eropa) untuk selalu menceritakan pengalaman di Eropa. Namun demikian, saya mohon maaf, cerita ini sebagian jujur dan sebagian saya lebih-lebihkan atau saya dramatiskan (biar seperti novel begitu). Jadi pembaca, silakan membaca, kalau puas tolong ceritakan atau sebarkan pada yang lain (saya ijinkan), kalau tidak puas mohon disimpan dihati atau maksimal memaki-maki dalam hati saja. Siap!

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (Qur’an.22:18).

Jilid 1: Upaya ke Eropa

Saya kenal benua Eropa sewaktu ada pelajaran Ilmu Bumi di SD. Masih teringat di memori saya betapa jauhnya Eropa dan saya tidak dapat membayangkan akan sampai disana. Salah satu yang diterangkan oleh ibu guru adalah perbandingan peta benua Eropa dengan Indonesia. Apabila peta Indonesia diletakkan di atas Eropa akan terlihat betapa panjang Eropa hampir sama dengan Indonesia, Sabang-Merauke hampir sama dengan London-Moskow. Bayangan masa kecil itu hanya sebatas pengetahuan untuk dihafalkan saja dan akhirnya berlalu bersama waktu. Saya tidak pernah berfikir untuk sampai di Eropa nantinya. Itu sesuatu yang jauh, asing dan berbeda. Itu terlalu muluk untuk dimimpikan, diharapkan dan dinyatakan. Ya harap dimaklumi, saya hanya anak dari Bapak dan Ibu yang bekerja sebagai guru SD di kota kecil Trenggalek di pojok selatan Jawa Timur, yang waktu kecil hanya dapat makan tiwul (ketela pohon yang dijadikan semacam nasi) dan setelah pindah ke kota Surabaya kehidupan “meningkat” dengan makan nasi (karena tidak ada tiwul) dengan lauk garam dan sayur minyak jlantah (minyak sisa menggoreng). Bertahun-tahun kami jalani dan bertahun-tahun kami syukuri. Nikmatnya ..

Pada akhirnya saya mengikuti jejak Bapak dan Ibu (keduanya almarhum) menjadi guru. Sejak tahun 1989, saya diangkat menjadi dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Malang. Bertahun-tahun saya jalani kehidupan selaku guru (atau dosen) dengan normal. Tidak ada yang istimewa dalam kehidupan saya, saya orang biasa dan menjalani kehidupan dengan biasa saja. Saya kemudian menikah dengan sesama dosen UMM dan dikaruniai tiga orang putra putri. Menjelang usia setengah abad saya tetap mengabdi dengan setia di UMM, dan belum ada bayangan akan ke Eropa dalam jangka waktu lama. Bagi saya, Eropa masih tetap benua yang terlalu jauh untuk dijangkau. Meskipun saya pernah pergi keluar negeri, itu hanya di negara-negara yang dekat saja dan dibiayai oleh kampus (terima kasih Pak Rektor). Saya pernah membiayai perjalanan keluar negeri dengan hasil keringat sendiri yaitu dengan pergi ke Tanah Suci (namun itupun dibantu sepererempatnya oleh kampus, terima kasih Pak Rektor dan Pak PR II). Hal itupun sudah saya syukuri. Rasa syukur itu tidak berhenti saya ucapkan karena sedemikian banyak limpahan nikmat yang sudah saya terima. Keluarga yang berkembang secara alami. Satu persatu anak-anak mulai meninggalkan rumah. Anak tertua sudah membangun keluarga sendiri. Anak terakhir mulai kuliah di luar kota. Apalagi yang harus difikirkan. Enaknya ..

Rumah mulai terasa sepi setelah anak kami satu persatu keluar kota. Sampai akhirnya hanya tinggal kami berdua. Seolah-olah kami seperti berpacaran kembali. Kemana-mana berdua, melakukan pekerjaan bersama, istirahat berdampingan, semuanya seolah-olah kembali seperti awal perkawinan. Rasanya rumah kami terlalu besar untuk ditinggali berdua. Ruangan atas yang berisi tiga kamar tidur untuk anak-anak senyap dan sepi. Sering pada malam-malam sepi, berdua bersama istri merancang kehidupan setelah anak-anak meninggalkan rumah. Tugas kami untuk mengantarkan putra-putri kami menuju ke kehidupan yang lebih baik, satu persatu Alhamdulillah terwujud. Kami bayangkan nantinya tinggal sesekali menimang cucu kalau datang kerumah, atau kami yang ke rumah mereka. Ah kehidupan yang sederhana. Namun betapa cepatnya waktu berlalu. Kewajiban kami sebagai orangtua mendekati selesai. Sudah kami antarkan satu putri dan insya Allah akan kami antarkan dua putra kami menuju kehidupan baru. Leganya ..

Kehidupan tiba-tiba menuju titik yang tidak terbayangkan sebelumnya. Tahun 2010, UMM mengadakan kerjasama dengan universitas di Uni Eropa yang diwadahi dalam bentuk Program Erasmus Mundus. Pada kesempatan pertama, sang istri selaku salah satu dosen yang berhak mengikuti, mendaftar untuk memperoleh beasiswa Erasmus Mundus program post doctoral. Alhamdulillah aplikasi sang istri diterima. Negara tujuan penelitian adalah Austria di University of Innsbruck, di kota Innsbruck selama enam bulan. Terasa sepi saat sang istri ada di Eropa. Namun demikian, menjelang berakhirnya kegiatan di Eropa, saya berkesempatan pergi ke Eropa untuk menjemput sang istri. Hampir satu bulan saya menikmati Eropa berdua, seperti bulan madu saja (atau bulan madu kedua ya). Kami susuri jalan-jalan tua di centrum Innsbruck sambil menguyah almond, ditengah ramainya manusia menyambut Natal. Kami daki puncak Alpen dan kemudian turun dengan kereta luncur sambil terbanting-banting dan bergulung-gulung sampai ke lereng. Kami tertawa berdua. Kami jelajahi metro di Paris, berdampingan menyaksikan masa lalu di museum Louvre, melangkah bersisian di trotoar Elysse, dan menatap turunnya salju di puncak menara Eifell. Salju dimana-mana, putih disetiap permukaan tanah, beku disetiap hembusan nafas. Kami memandang berdua. Indahnya ..

Setelah sampai di Indonesia, saya banyak merenung. Istri saya dapat meraih impian dengan menetap di Eropa selama enam bulan dengan biaya Uni Eropa. Mengapa saya tidak bisa? Barrier psikologis saya adalah kemampuan berbahasa Inggris yang pas-pasan (tolong dibaca “nol besar”). Ucapan yang paling lancar yang pernah saya sampaikan pada sang istri adalah “I love you” (bagi yang belum mengerti, itu artinya “aku …. padamu”), itupun masih dengan logat Jawa Timuran atau malah Sunda barangkali karena sering keseleo menjadi “I lop yu” atau kadang “I lopiu”. Namun apabila istri bisa pergi ke Eropa dengan bekal bahasa Inggris yang dikuasainya, mengapa saya tidak?. Sang istri mendorong saya supaya dapat meraih impian ke Eropa. Akhirnya saya bulatkan tekad untuk dapat meraihnya. Saya rancang program untuk menuju kesana. Ada tiga program besar yang harus saya persiapkan untuk itu, pertama meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya dan kedua mempersiapkan persyaratan admnistrasi yang diminta oleh Erasmus Mundus. Sedang ketiga adalah meningkatkan keberanian saya. Ayo!

Jujur saya akui, saya kurang termotivasi untuk dapat menguasai bahasa Inggris dalam jangka waktu yang lama. Masih teringat sewaktu SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi, nilai bahasa Inggris saya tidak dapat dibanggakan, dan selalu saya meringis apabila melihatnya. Saya malu pada orangtua yang telah membiayai dan mendorong untuk belajar. Tapi saya menyia-nyiakan harapan orangtua. Maafkan saya Bapak Ibu, anakmu tidak berbakti. Untuk itu saya perlu berjuang keras untuk menguasainya. Saya perkuat kemampuan berbahasa Inggris dengan banyak membaca apapun dalam bahasa Inggris. Biasanya saya membaca dalam bahasa Inggris sambil lalu saja. Namun setelah itu saya memaksakan diri untuk lebih memahami. Apabila saya tidak tahu, saya akan mencari kamus, mencari di Google terjemahan (istilahnya bertanya pada mbah Google) ataupun bertanya pada orang-orang yang tahu. Menjelang deadline pendaftaran, saya memperkeras upaya untuk dapat berbahasa Inggris. Saya meminta bantuan Bu Harti (Staf pengajar bahasa Inggris dan Kepala UPT Kursus Bahasa Asing UMM) untuk dapat mengikuti kursus bahasa Inggris. Beliau mengijinkan saya untuk mengikuti kursus dengan beberapa teman. Betapa malunya saya, ketika dites kemampuan TOEFL untuk pertama kali hanya mendapatkan nilai 415. Aduh, seorang dosen yang sudah guru besar hanya mempunyai kemampuan berbahasa asing yang tidak layak dipampang di papan pengumuman. Layaknya otak ini ditaruh di tong sampah dan ditenggelamkan ke got, dan dialirkan ke penampungan kotoran untuk biogas, hah. Rasakan!

Sejak kejadian memalukan itu saya mencoba rajin mengikuti kursus yang dibimbing oleh Bu Harti dan Pak Masduki (staff pengajar bahasa Inggris dan Kepala Language Center UMM). Setelah satu bulan lebih saya mengikuti kursus, saya meminta ijin pada pak Masduki untuk diperbolehkan mengikuti test TOEFL yang diadakan secara regular oleh Lembaga tersebut. Betapa tidak percaya dirinya saya pada saat test akan berlangsung. Peserta yang mengikuti kebanyakan adalah mahasiswa pascasarjana UIN Malang dan UNIBRAW, sisanya adalah Bapak Aris Winaya (kolega dari Jurusan Peternakan FPP UMM). Apalagi salah satu peserta dari UIN Malang yang juga salah satu kolega saya (Mas Saadih Sidik) membuat perjanjian di kelas bahwa peserta yang nilainya lebih rendah harus memberikan hadiah pada peserta dengan nilai tertinggi. Satu minggu setelah test, pada saat saya sedang berjalan menuju kantor saya, Pak Masduki melambai-lambaikan tangan kepada saya. Sayapun menghampiri beliau yang dengan wajah gembira memberitahu bahwa nilai TOEFL saya bagus dan tertinggi di kelas tersebut. Saya tidak percaya, paling pak Masduki hanya menggoda saya saja, supaya saya senang saja. Namun dengan tertawa beliau meyakinkan saya. Betapa takjub saya, rasanya melayang. Alhamdulillah, ternyata kursus yang saya ikuti tidak sia-sia. Horee!

Tiga bulan sebelum pendaftaran Erasmus Mundus program One More Step dibuka, saya mencoba untuk membuat proposal dalam bahasa Inggris. Mulanya saya buat dengan bahasa Indonesia dan setelah selesai baru saya terjemahkan dalam bahasa Inggris. Penerjemahan itu memerlukan perjuangan tersendiri bagi saya. Dengan grotal-gratul saya ketik terjemahan tersebut. Sekali-kali meminta tolong mbah Google, meskipun mbah Google juga sama ngawurnya dalam menerjemahkan. Saya saja yang bahasa Inggrisnya pas-pasan malu dengan terjemahan beliau. Masak beliau yang berasal dari Amerika dan setiap hari anak kecilpun berbahasa Inggris disana, masih kalah dengan terjemahan saya, meskipun juga masih sama memalukannya dan tidak patut dibaca. Akhirnya, meskipun dengan penuh kesulitan, saya dapat menyelesaikannya (namun demikian saya akui, terima kasih mbah Google atas bantuannya). Saya hitung proposal saya ternyata berjumlah sembilan halaman. Saya geleng-geleng kepala, ternyata saya dapat juga membuat proposal sebanyak itu tanpa bantuan orang lain kecuali mbah Google. Lumayan ..

Proposal tersebut saya buat dengan mempertimbangkan persyaratan yang ditentukan oleh Uni Eropa. Persoalan terbesar saya adalah bagaimana mengerti apa yang dimaksudkan program tersebut. Dengan kemampuan berbahasa Inggris saya yang cekak ini, saya khawatir terjemahannya malah salah. Salah satu yang paling saya ingat adalah ketika membaca bagian paling bawah dari pengumuman pendaftaran tersebut “Do not hesitate to contact us if any problems”. Saya pikir ketika itu terjemahannya adalah “jangan pernah menghubungi kami apabila ada problem”. Bayangan saya, kalau ada kata “Do not”, berarti tidak membolehkan sesuatu. Oleh sebab itu saya takut untuk bertanya sesuatu pada panitia program Erasmus Mundus apabila tidak tahu dan ragu. Nanti saya malah didiskualifikasi kalau menghubungi mereka. Akhirnya ya saya coba untuk menyelesaikan problem sendiri, padahal banyak persyaratan yang tidak saya mengerti. Ealah ternyata setelah agak lama dan dong, baru jelas maksud terjemahannya “jangan ragu untuk menghubungi kami apabila ada problem”. Tahu begitu sudah sejak lama saya hubungi. Saya tahu terjemahannya malah setelah pendaftaran ditutup, walah ya salah saya sendiri tidak tanya pada mbah Google. Ya inilah korban salah pendidikan dan salah kaprah. Salah satu yang saya cermati adalah proposal tersebut harus dapat dan layak dikerjakan di Universitas yang dituju (host university). Maka saya membuat judul yang mau tidak mau harus dikerjakan disana. Judulnya adalah Comparison of Gender Profiles of Students Academic Activities between University of Minho and Muhammadiyah University of Malang. Judulnya hebat juga karena baru pertama ini proposal saya berjudul dengan menggunakan bahasa Inggris, bahasa internasional rek. Keren ..

Setelah proposal selesai, saya meminta bantuan Ibu Fardini (Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UMM) untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proposal tersebut. Dengan percaya diri, saya menemui beliau dikantornya, ternyata beliau sedang keluar. Maka dengan gayanya, saya menitipkan proposal saya pada staf yang berada disitu sambil menuliskan pengantar dalam bahasa Inggris “Bu Fardini I hope you help me to revised my files”. Setelah waktu berlalu beberapa hari saya baru sadar, kalau diterjemahkan khan “Bu Fardini saya minta tolong untuk memperbaiki file-file saya”. Dalam hati saya merasa, paling Bu Fardini tertawa membacanya. Beliau pasti juga bingung, mana file-file yang harus diperbaiki, yang ada hanya proposal. Alhamdulillah beliau bersedia dan tidak berapa lama proposal saya sudah dikembalikan. Harap dimaklumi kalau perbaikan beliau itu menyeluruh. Maksudnya menyeluruh itu artinya ada dua, pertama proposal saya bahasanya amburadul. Kedua Bu Fardini terpaksa memperbaiki dan merombak ulang semuanya. Setelah proposal saya perbaiki sesuai saran beliau, maka saya kirimkan langsung malalui internet pada website One More Step Erasmus Mundus. Disamping proposal, saya lampirkan juga beberapa persyaratan yang ditentukan oleh pihak Uni Eropa. Beberapa kali saya memperbaiki lampiran yang harus disertakan karena ada beberapa kelemahan dan kekurangan yang harus saya penuhi. Akhirnya setelah beberapa kali memperbaiki, beberapa hari menjelang penutupan saya putuskan untuk memfinalisasi segala persyaratan. Beratnya ..

Tugas saya selesai. Setelah itu, usaha saya hanya berdoa. Menunggu merupakan pekerjaan yang membosankan. Akhir Desember 2011 pendaftaran ditutup, pertengahan Maret 2012 hasilnya diumumkan. Selama menunggu waktu pengumuman itu, saya berkonsultasi dengan Bapak Suparto (Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri UMM) sambil mencari bocoran pengumuman, karena beliau adalah salah satu pihak yang berwewenang untuk penerimaan peserta. Sambil tertawa beliau selalu bilang peluang saya diterima adalah 50%. Menjelang pengumuman, saya mendapat kabar kalau beberapa orang yang mendaftar, sudah mendapat pemberitahuan dari program tersebut. Saya penasaran karena belum mendapatkan email pemberitahuan. Oleh sebab itu saya hubungi Bapak Suparto untuk memastikan berita tersebut. Sambil tertawa beliau hanya menyatakan peluang diterimanya saya adalah 60%. Saya bingung, maksudnya apa? Kalau hanya 60% berarti masih besar peluang saya untuk ditolak. Beberapa hari kemudian saya juga mendapatkan kabar kalau beberapa orang lagi mendapatkan email pemberitahuan dari program tersebut. Sayapun penasaran. Saya hubungi lagi pak Suparto, sambil tertawa lagi beliau menjawab peluang saya diterima meningkat menjadi 90%. Lho kok 90% bukan 100%. Sayapun bingung. Apabila saya desak untuk menjelaskan lebih lanjut, beliau hanya tertawa. Beberapa hari kemudian di akhir Maret, akhirnya email dari program Erasmus Mundus sampai kesaya. Isinya menyatakan bahwa saya diterima. Ternyata peserta yang mendapat email pertama kali adalah peserta yang ditolak. Peserta yang mendapatkan email kedua adalah peserta yang mendapat status cadangan. Sedangkan peserta yang mendapatkan email pada periode ketiga adalah peserta yang diterima. Alhamdulillah, akhirnya impian saya untuk ke Eropa tercapai. Terima kasih ya Allah. Hanya atas kehendakMu semua ini terjadi. HambaMu hanya dapat bersyukur. Berita ini kemudian saya konfirmasi pada Pak Suparto. Sambil tertawa beliau menyatakan bahwa peluang diterimanya saya menjadi 99%. Lho!

Bersambung ke Jilid 2 ..

publikasi emundus

Salah satu publikasi Erasmus Mundus

pertemuan emundus

Pertemuan Erasmus Mundus di Jakarta

Tulisan ini telah mendapat persetujuan dari Mas Wahyu Widodo, jadi bagi siapa saja yang ingin re-post silahkan langsung berhubungan dengan beliau dengan email: wahyuwidodohandayani@yahoo.co.idxx

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s