EROPA: Perjalanan Panjang Menuju Sujud – Jilid 2: Menjelang Keberangkatan

EROPA: PERJALANAN PANJANG MENUJU SUJUD
Oleh: Wahyu Widodo

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS. 2:115).

Jilid 2: Menjelang Keberangkatan

Pilihan saya untuk mengambil penelitian gender pada Post Doctoral One More Step project Erasmus Mundus Program di Universitas Minho (baca Minyo) kota Braga Portugal dipertanyakan banyak teman. Orang peternakan kok mengambil gender? Jawaban resminya adalah saya mendasarkan pendaftaran ke Erasmus Mundus karena mengajar dan membimbing di S-2 Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan (MKPP) dan S-3 Sosial Politik Pascasarjana UMM. Tidak resminya dalam kalkulasi saya, karena akan lebih mudah diterima kalau penelitiannya dapat dilaksanakan di Host University dan ilmunya menarik banyak kalangan antara lain supervisor dari Eropa. Penelitian saya mau tidak mau ya harus dilaksanakan di Eropa. Sedangkan ketertarikan supervisor dapat saya duga dari cepatnya jawaban Host University atas permohonan saya untuk mendapatkan Erasmus Mundus. Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Bapak Suparto yang memberikan ranking tertinggi pada nilai proposal saya dari Home University. Saya juga belum bisa membayangkan kalau saya harus penelitian tentang peternakan, apakah peluang diterimanya juga sebesar ini?. Namun demikian yang paling memperkuat penerimaan Erasmus Mundus adalah saya satu-satunya orang yang mendaftar program Post Doctoral di One More Step Project Erasmus Mundus Program, sedang jatah untuk program tersebut adalah satu orang. Pas kan?!

Setelah diterima oleh Erasmus Mundus ternyata perjuangan baru dimulai. Mulai urusan administrasi sampai dengan urusan meningkatkan kemampuan berbahasa. Kalau kemampuan berbahasa Inggris setidaknya masih agak lumayanlah (maksudnya ya parah). Tapi kemampuan berbahasa Portugal saya nol besar. Oleh sebab itu dengan kesepakatan teman-teman yang bersama-sama diterima di Portugal (Mas Lazuardi Alif, Mas Rahadi, Mas Achmad Syaiful Badar dan Mas Hanif Falah), akhirnya kami mengadakan kursus sendiri yang dibimbing oleh Mas Costa (mahasiswa FISIP UMM) dari Timor Leste. Ternyata belajar bahasa Portugal jauh lebih sulit daripada bahasa Inggris. Tatabahasanya campuran antara Arab dan Inggris dan diwarnai dengan Latin. Kosakatanya beberapa berbeda dengan ucapannya. Beberapa diantaranya adalah huruf y dibaca h dan sebaliknya. Jadi kalau saya mengucapkan kata “sayang” umpamanya, maka dibacanya “sahang ” kalau kata “bohong” menjadi “boyong”. Ada beberapa huruf yang ditandai seperti bahasa Jawa “e pepet”. Ada huruf seperti dari bahasa Sanksekerta seperti huruf “c” diberi tanda seperti cacing dibawah. Meskipun mas Costa sudah mengajari dengan sungguh-sungguh, ternyata kemampuan saya menangkap pelajaran sama sekali tidak dapat diandalkan. Akhirnya diakhir kursus, kata yang paling diingat hanya satu yaitu “Obrigado” alias terima kasih. He he ..

IRO UMM juga berperan membantu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris juga. Saya harus mengucapkan terimakasih karena mereka berupaya mendatangkan native speaker. Upaya yang sangat saya hargai, karena bagi teman-teman yang diterima Erasmus Mundus sebelumnya tidak ada persiapan seperti ini. Nama gurunya adalah Lucie Sabanova dari negeri Cheko, Eropa sana (Thanks for your teaching Lucie). Salah seorang yang sedang berkarya di UMM karena mendapatkan beasiswa. Orangnya smart dan helpful. Sayangnya itu tidak dapat diimbangi oleh saya, terutama kemampuan berbahasa Inggris saya yang memang masih lemah bin payah. Kelemahan terbesar saya dalam penggunaan bahasa Inggris adalah listening. Setiap kali kursus, guru (maksudnya Lucie) yang sedang berbicara panjang lebar, yang saya dengar seperti orang yang sedang mendesah, menderu dan mendesis. Ini bicara apa, saya tidak paham Tapi demi menjaga nama baik diri sendiri dan gengsi di depan peserta kursus yang lain (ternyata penguasaan bahasa Inggris peserta lainnya cas cis cus) ya saya pura-pura mengerti. Saya berusaha untuk diam, supaya tidak ketahuan kalau tidak dapat berbahasa Inggris dan tidak perlu ditanyai sehingga harapan saya ya selamatlah saya dari rasa malu binti gugup. Tapi pada akhirnya, kalau guru bertanya pada saya, maka saya menjadi gelagapan. Saya kemudian meminta diulang pertanyaannya dengan menyatakan “pardon?”, Akhirnya gurunya mengulang pertanyaannya lagi, saya kemudian menjawab “pardon?”, guru kemudian mengulang lagi pertanyaannya, saya kemudian menjawab lagi “pardon?’. Lha wong saya bingung dan tidak mengerti bahasa Inggris, kok ditanyai, akhirnya jawaban saya ya tetap satu itu “pardon?”. Maaf.. Apa?!

Urusan administrasi juga menyita waktu tersendiri, terutama dalam upaya mengurus visa. Persyaratan untuk visa memerlukan banyak dokumen seperti surat keterangan sehat dalam bahasa Inggris, letter of acceptance (LOA), booking ticket, asuransi dan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK). Mengurus SKCK di Indonesia butuh perjuangan tersendiri. Panjang urusannya sama seperti panjangnya Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bayangkan saja mengurusnya mulai dari surat pengantar RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Koramil, Polsek, Polres, dan setelah itu ke Polda di ibukota Propinsi (Surabaya). Di setiap tingkat pengurusan (dimulai dari kecamatan), apabila saya tanya berapa biayanya?, maka jawabannya adalah terserah bapak. Lho berarti ada dua kemungkinan, boleh membayar dan tidak membayar. Tapi sebagai orang Jawa saya ya mengerti, ini isyarat untuk tetap harus membayar. Tinggal berapa rupiah yang pantas menurut kita untuk dibayarkan pada petugas. Ternyata jaman reformasi sudah merubah budaya aparat pemerintahan (dalam arti cara mendapatkan uang), bila jaman Orde Baru aparat meminta imbalan untuk segala sesuatu yang diurusnya (terang-terangan), maka pada jaman reformasi, aparat sudah tidak meminta imbalan untuk segala sesuatu yang diurusnya, hanya “terserah Bapak” (lebih halus dan sungkan). Beda kan?

Sampai disini belum selesai. Langkah selanjutnya adalah pergi ke Mabes Polri, setelah itu harus dilegalisir oleh Kemenkumham dan Kemenlu (di ibukota negara, Jakarta). Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia maupun pemerintah asing yang akan dituju tidak percaya pada rakyat yang mengurus SKCK. Apa mabes Polri tahu secara detail, rakyat yang sedang mengurus SKCK itu tersangkut perkara kriminal atau tidak?. Khan tahunya dari SKCK yang dikeluarkan Polda? Sepertinya kok tidak ada pekerjaan yang lebih penting saja. Rakyat Indonesia itu lho baik-baik semua, kecuali yang tidak baik. Mbok sudah, diurus sampai di Polres, atau di Polsek saja. Pemerintah asingpun sangat tidak percaya pada rakyat Indonesia semuanya. Barangkali mereka khawatir karena menganggap Indonesia merupakan sarang teroris (kata media Barat lho!). Bayangkan sudah capek-capek mengurus ke Mabes Polri, masih meminta untuk dilegalisir di dua kementerian. Apa maksudnya, saya tidak paham. Hanya sekedar untuk mendapatkan tandatangan dan stempel dari pejabat yang berwewenang. Betapa panjang birokrasinya. Apa tidak dapat diringkas ya. Mbok ya diurus dalam satu atap saja supaya sederhana dan cepat selesai. Ini gambaran betapa ruwetnya birokrasi di negeri kita. Mengurus SKCK saja seperti itu, apalagi urusan yang lebih penting. Saya khawatir panjangnya melebihi keliling dunia. Saya saja yang dari Jawa Timur menghabiskan banyak hari dan biaya untuk mengurus SKCK itu. Akhirnya demi meringkas hari dan biaya, saya menggunakan tenaga calo untuk urusan legalisir di Jakarta (harus kita akui dan syukuri ini merupakan salah satu keunggulan Indonesia, karena dapat meningkatkan kesempatan kerja). Saya tidak dapat membayangkan kalau ada yang ingin studi keluar negeri tapi asal daerahnya dari pegunungan Jayawijaya Papua sana. Kemungkinan yang terjadi adalah, masa berlaku beasiswa sudah habis tapi SKCK masih diurus di tengah jalan. Kasihan ..

Setelah urusan persyaratan selesai, saya kemudian pergi ke Jakarta untuk mengurus visa ke Portugal. Salahnya saya sendiri, saya ketinggalan dalam kepengurusan visa dibandingkan teman-teman. Pasport saya digunakan untuk bepergian dulu ke China bersama dengan teman-teman Jurusan Peternakan UMM. Kalau mengurus visa bersama dengan teman-teman, saya menduga tidak akan kesulitan dalam mengurusnya. Apabila diwawancarai, saya tinggal bilang, “saya minta visa sama seperti kepunyaan teman-teman”, beres. Sayangnya dan sekali lagi sayangnya, saya sendirian mengurusnya. Pada saat mengurus, saya kemudian dipanggil untuk wawancara di ruang dalam. Pewawancara saya, perempuan muda Portugal dengan menggunakan bahasa Inggris. Saya kemudian ditanya sesuatu hal, dengan mantap saya menjawab “yes”, ditanya lagi sesuatu hal, jawaban saya lebih mantap “yes”. Orangnya mulai bingung, saya ditanya lagi, jawaban saya tetap mantap “yes”, berkali-kali selalu jawaban saya “yes” dengan intonasi yang semakin menurun. Kepercayaan diri saya runtuh, kok nggak jelas ya orangnya ngomong, maka sebagai jalan akhir, budaya Jawa saya gunakan, apapun pertanyaan dan pernyataan yang keluar dari lawan bicara selalu akan mendapat jawaban “inggih” dari orang Jawa yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris adalah “yes”. Akhirnya orangnya menyerah, dia kemudian mengajak saya dengan bahasa isyarat untuk kembali ke tempat semula, sambil mengomel panjang pendek, akhirnya beliau berkata “wanman” sambil mengacungkan satu jari. Sayapun dengan mantap mengikuti mengacungkan satu jari sambil ikut bilang “wanman”. Saya pikir itu merupakan isyarat bahwa saya harus siap menghadapi resiko apapun dan sikap saya ya … siap grak! Maka selesailah wawancara tersebut. Sayapun kemudian pulang ke Malang kembali. Sambil pulang saya berpikir keras, mengapa orang tersebut menunjuk satu jarinya ya. Apa beliau tidak puas dengan wawancara saya sehingga mengacungkan jarinya sambil bilang kalau dalam bahasa Indonesia “awas kamu”. Apa beliau memperingatkan saya karena jawaban saya selalu positif “yes”. Atau apa ya. Akhirnya setelah di Malang saya baru sadar dan tahu (setelah diberi tahu teman-teman yang lebih dulu mengurus visa), ternyata beliau mengingatkan saya bahwa visa saya akan selesai dalam waktu “one month” bukan “wanman”. Oalah ..

Akhirnya visa selesai dan kami berlima sepakat untuk berangkat bersama-sama. Permintaan kami pada koordinator program adalah transit melalui Amsterdam. Setidaknya dengan transit di salah satu negara Eropa, kami pernah menginjaknya. Kami bisa bilang ke teman-teman, kami sudah pernah ke Belanda he he, meskipun hanya menginjak airportnya. Namun demikian ternyata koordinator program tidak dapat menepati janji. Seharusnya penerbangan diurus mulai kota Malang, Indonesia sampai kota Braga, Portugal dan kemudian kembali, ternyata mereka hanya memberi tiket mulai Kuala Lumpur sampai Porto. Lha dari Malang ke Kuala Lumpur bagaimana?. Masak kami harus mengurus sendiri, disangkanya Kuala Lumpur itu dekat Sidoarjo tha? (maaf teman-teman dari Sidoarjo, bukan bermaksud menyindir lumpur Lapindo). Akhirnya saya menghubungi pak Suparto. Jawaban beliau, nanti IRO UMM yang akan mengurus hal tersebut. Hati agak tenang mendengarnya. Tapi setelah itu saya berpikir dan kami rundingkan dengan teman-teman seperjalanan, kemudian pak Suparto saya hubungi lagi, intinya minta penerbangannya yang “layak” (maksudnya yang fasilitasnya lumayan), jangan “Air Asia”, maklumlah pembaca sekalian. Beliau langsung menyetujui. Setelah menunggu beberapa hari, ternyata beliau membelikan tiket – “Air Asia”. Lho, kamipun bertanya kepada beliau, mengapa? Ternyata perjalanan kami berada pada peak season penerbangan. Jadi semua tiket penerbangan sedang mahal, yang paling terjangkau ya hanya Air Asia. Oh begitu. Itupun kami masih diberi bonus bagasi tambahan dan sajian makan, Alhamdulillah. Akhirnya kami pasrah. Problem belum berakhir pembaca, menjelang berangkat, pada satu pertemuan, pak Suparto kemudian mengumumkan bahwa ternyata tiket Air Asia yang dibeli, melebihi plafon yang ditentukan oleh koordinator program. Jadi kesimpulannya, kami berlima harus menanggung kelebihan tersebut, namun demikian beliau memberikan keringanan dengan dapat dibayar setelah pulang dari Eropa. Lho belum berangkat kok sudah punya utang. Nasib ..

Eropa kami akan menaklukkanmu (bukan dalam arti harfiah). Bukan maksud kami untuk menjajah, tidak. Maksud kami adalah ternyata akhirnya insya Allah akan menginjak tanahmu. Kami sadar bahwa engkau adalah lambang peradaban masa kini. Kami paham bahwa engkau merupakan pintu gerbang ilmu. Kami mengerti bahwa engkau adalah jaminan kekayaan duniawi. Dengan segala keterbatasan, kami akan tunjukkan bahwa perjalanan kami tidak sia-sia. Kami akan berbuat yang terbaik disana. Bukan kami tidak beradab, bukan kami tidak berilmu dan bukan kami tidak kaya. Kami memiliki peradaban yang adiluhung, kami memiliki ilmu yang waskita dan kami memiliki kekayaan lahiriah dan batiniah. Kami ingin, apabila kami pulang kembali ke Indonesia nanti, akan banyak hal positif yang akan kami bawa. Akan kami ambil peradaban yang sesuai dengan kami, yang akan membuat budaya kami semakin berwarna, akan kami bawa ilmu yang bermanfaat bagi kami, yang akan membuat rakyat kami semakin sejahtera dan akan kami tinggalkan kekayaan duniawi yang tidak berguna untuk kami, karena kami ingin kekayaan kekal di kehidupan alam lain mendatang. Mohon maaf, bukan kami sombong. Kami harus tetap menyadari bahwa masih banyak perbedaan diantara kita. Namun bukan berarti kita harus berdebat dan berkonflik. Marilah kita hargai perbedaan kita sebagai suatu hal yang lumrah, sunatullah. Mudah-mudahan perbedaan itu merupakan awal untuk mengajarkan saling pengertian, saling toleransi dan saling memahami. Percayalah kami bermaksud baik, saling mengenal, saling bersilaturahmi dan saling berbagi pengalaman. Kami punya kekurangan, maka kami belajar darimu untuk menambalnya. Kami punya kelebihan, kami tidak keberatan membaginya denganmu. Eropa, yang semula terasa jauh, mulai hari ini terbayang semakin dekat. Eropa yang terasa asing, mulai sekarang tertanam disanubari. Bagi kami, engkau tetaplah sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang membuat kami terkagum-kagum. Sesuatu yang membuat kami merasa kecil dan minder. Itulah ungkapan hati kami. Ah ..

Namun demikian engkau tetap milik Allah. Kami akan tetap merasakan ini adalah bumi Allah. Tempat dimana kami bisa bersujud. Karena kami tahu, menghadap kemanapun, kami tidak dapat berpaling dari-Nya. Pada akhirnya kami akan tersungkur memuji-Nya. Berharap dapat kembali dengan fitri pada-Nya. Ya Allah ya Rabbi, hambamu hanyalah sesuatu yang laiknya debu, tapi ingin berarti dalam kehidupan ini. Kepergian kami ke Eropa merupakan bagian dari upaya untuk mengisi arti hidup. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi. Hambamu hanya menyandarkan diri pada rahmat-MU. Eropa kami akan datang. Mohon sambutlah kami dengan keramahtamahan seperti orang Indonesia, kelembutan seperti orang Thailand, kewibawaan seperti orang Amerika, keanggunan seperti orang Arab dan kejantanan seperti orang Afganistan. Kami datang Eropa. Bom dia!

Bersambung ke jilid 3 ..

emundus1

Teman-teman UMM yang menjadi “gila” karena dapat beasiswa Erasmus Mundus ke Eropa!

emundus2

Gembira.. Gembira! Semua dapat beasiswa Erasmus Mundus!

Tulisan ini telah mendapat persetujuan dari Mas Wahyu Widodo, jadi bagi siapa saja yang ingin re-post silahkan langsung berhubungan dengan beliau dengan email: wahyuwidodohandayani@yahoo.co.id xx

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s