Si Kancil

Gue masih ingat betul, pas jamannya esema kemarin, ada guru baru yang ngasih kita (Renvils) peer nerjemahin fable, dongeng, atau cerita rakyat sesuai dengan Ejaan Bahasa Inggris yang Disempurnakan. Ga tau benar apa salah, soalnya nerjemahin ceritanya rada-rada susah dan agak ga nyambung, jadi milih ceritanya ya si Kancil. Yok, simak ceritanya, sambil flashback ke masa bodoh (kanak-kanak maksudnya..) *peace* ^^v

Si Kancil

Pada suatu hari si Kancil nampak ngantuk sekali. Matanya serasa berat sekali untuk dibuka. “Hoaaammm…”, si kancil nampak sesekali menguap. Karena hari itu cukup cerah, si kancil merasa rugi jika menyia-nyiakannya. Ia mulai berjalan-jalan menelusuri hutan untuk mengusir rasa kantuknya. Sampai di atas sebuah bukit, si Kancil berteriak dengan sombongnya, “Wahai penduduk hutan, akulah hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar di hutan ini. Tidak ada yang bisa menandingi kecerdasan dan kepintaranku”.

Sambil membusungkan dadanya, si Kancil pun mulai berjalan menuruni bukit. Ketika sampai di sungai, ia bertemu dengan seekor siput. “Hai, Kancil!”, sapa si Siput. “Kenapa kamu teriak-teriak? Apakah kamu sedang bergembira?”, tanya si Siput. “Tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada semua penghuni hutan kalau aku ini hewan yang paling cerdas, cerdik dan pintar”, jawab si Kancil dengan sombongnya.

“Sombong sekali kamu Kancil, akulah hewan yang paling cerdik di hutan ini”, kata si Siput. “Hahahaha! Mana mungkin” ledek Kancil. “Untuk membuktikannya, bagaimana kalau besok pagi kita lomba lari?”, tantang si Siput. “Baiklah, aku terima tantanganmu”, jawab si Kancil. Akhirnya mereka berdua setuju untuk mengadakan perlombaan lari besok pagi.

Setelah si Kancil pergi, si siput segera mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong agar teman-temannya berbaris dan bersembunyi di jalur perlombaan, dan menjawab kalau si Kancil memanggil.

Akhirnya hari yang dinanti sudah tiba, kancil dan siput pun sudah siap untuk lomba lari. “Apakah kau sudah siap untuk berlomba lari denganku?”, tanya si Kancil. “Tentu saja sudah, dan aku pasti menang.”, jawab si Siput. Kemudian si Siput mempersilahkan kancil untuk berlari dahulu dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana si Siput.

Kancil berjalan dengan santai, dan merasa yakin kalau dia akan menang. Setelah beberapa langkah, si kancil mencoba untuk memanggil si siput. “Siput…. sudah sampai mana kamu?”, teriak si Kancil. “Aku ada di depanmu!”, teriak si Siput. Kancil terhisan-hisan, dan segera mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil si Siput lagi, dan si siput menjawab dengan kata yang sama. “Aku ada didepanmu!”

Akhirnya si Kancil berlari, tetapi tiap ia panggil si Siput, ia selalu muncul dan berkata kalau dia ada depan kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal.

Kancil berlari terus, sampai akhirnya dia melihat garis finish. Wajah kancil sangat gembira sekali, karena waktu dia memanggil siput, sudah tidak ada jawaban lagi. Kancil merasa bahwa dialah pemenang dari perlombaan lari itu.

Betapa terkejutnya si Kancil, karena dia melihat si siput sudah duduk di batu dekat garis finish. “Hai, Kancil. Kenapa kamu lama sekali? Aku sudah sampai dari tadi!”, teriak si Siput. Dengan menundukkan kepala, si Kancil menghampiri si Siput dan mengakui kekalahannya. “Makanya jangan sombong, kamu memang cerdik dan pandai, tetapi kamu bukanlah yang terpandai dan cerdik”, kata si Siput. “Iya, maafkan aku Siput, aku tidak akan sombong lagi”, kata si Kancil.

 
 

In English:

Si Kancil

Top of Form

On one day si Kancil appear sleepy. His eyes seemed heavy to open. “Hoaaammm…”, the occasional si Kancil seem to evaporate. Since it was quite bright, si Kancil feel the loss if the waste it. He started walking the forest track to dispel sleepiness. Up on top of a hill, si Kancil shouted arrogantly, “O inhabitants of forests, I am the most intelligent animals, clever and smart in this forest. Nothing can match the intelligence and my intelligence “.


As he puffed out his chest, si Kancil was off and running down the hill. When it reached the river, he met with a si Siput. “Hi, Kancil!”, Greeted si Siput. “Why are you shouting? Whethis you’re happy? “, Asked si Siput. “No, I just wanted to inform on all forest-dwelling animal that I am the most intelligent, astute and clever”, arrogantly replied si Kancil.

“Arrogant once you hare, I’m the smartest animals in the forest”, said si Siput. ” Hahahaha! Whise possible..” joked Kancil. “To prove it, what if tomorrow morning we race?”, Challenged si Siput. “Okay, I accept your challenge”, said si Kancil. Eventually they both agreed to hold a race tomorrow morning.

After si Kancil went, si Siput soon gathis his friends. He asked for help to his friends lined up and hide in the race track, and respond if si Kancil call.

Finally the awaited day has arrived, si Kancil and slugs were ready to race. “Are you ready for the race run with me”, asked si Kancil. “Of course I have, and I would win,” said si Siput. Then si Kancil slug invited to run in advance and called to make sure it is up to whise si Siput.

Si Kancil casually walking, and felt confident that he will win. After a few steps, si Kancil tried to call si Siput. “Siput …. Whise you been up to?”, Cried si Kancil. “I’m in front of you!”, Cried si Siput. Si Kancil amazed, and immediately sped up. Then he called si Siput again, and si Siput replied with the same word. “I was thise front of you!”

Finally, si Kancil ran, but he is calling each of si Siputs, he always comes up and says if he had been before si Kancil. Sweat streaming down, his legs felt weak and panting breath.

Si Kancil ran on, until finally he saw the finish line. The face of si Kancil are very excited, because when he called slugs, have no answers anymore. Si Kancil felt that he was the winner of that race.

To hir surprise, si Kancil, because he saw si Siputs have been sitting on a rock near the finish line. “Hi, Kancil. Why are you so long? I’ve come from that! “, Cried si Siput. With bowed heads, si Kancil over to the slug and admit defeat. “So do not be arrogant, you are cunning and clever, but you are not the most intelligent and ingenious,” said si Siput. “Yeah, I’m sorry Siput, I would not be arrogant again”, said si Kancil.

Terimakasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar, ya! Silakan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s