MAKALAH: Kontribusi Ternak dan Hasil Ternak Terhadap Kehidupan Umat Manusia (Part 2)

Posted: 15 Januari 2013 by Mickeybal in Makalah, PIP

Tugas Final Mata Kuliah Pengantar Ilmu Peternakan

Kontribusi Ternak dan Hasil Ternak Terhadap Kehidupan Umat Manusia


Oleh:

Nama: Iqbal Jalil Hafid

Stambuk: L1A1 12 102

Kelas: Peternanakan B

Fakultas Peternakan

Universitas Haluoleo

Kendari

2012

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis masih diberi kekuatan dan kesehatan dalam menyusun makalah. Makalah ini berjudul “Kontribusi Ternak dan Hasil Ternak Terhadap Kehidupan Umat Manusia“.

Dengan demikian, penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, penulis berharap bagi pembaca makalah ini dapat memberikan kritik dan saran yang membangun agar ke depan bisa lebih baik lagi dalam menyusun makalah daripada sebelumnya.

Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini. Demikian penulis mengucapkan terima kasih.

Kendari, 14 Januari 2013

Penulis

Daftar Isi

Halaman Judul …….…………………………………………………………..    1

Kata Pengantar    ……………………………………………………………..    2

Daftar Isi     ……………………………………………………………………    3

BAB I. PENDAHULUAN     …………………………………………………    4

  1. Latar Belakang   … ……………………………………………………..    4
  2. Rumusan Masalah     …………………………………………………….    5
  3. Tujuan dan Manfaat     ……………………………………………………    5

BAB II. PEMBAHASAN ….…………………………………………………….    6

  1. Ternak dalam Status Sosial–Budaya ………………………………………    6
  2. Hasil Ternak sebagai Aset Penting ……..…………………………………    10
  3. Pentingnya Beternak     …..………………………………………………    12

BAB III. PENUTUP     ……………………………………………………….    14

  1. Kesimpulan    ..…………………………………………………………    14
  2. Saran    .………………………………………………………………..    14

Daftar Pustaka …………..……………………………………………………..    15

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Kebutuhan akan konsumsi daging setiap tahun selalu meningkat. Sementara itu pemenuhan akan kebutuhan selalu negatif, artinya jumlah permintaan lebih tinggi daripada peningkatan daging sebagai konsumsi.

Dalam dunia peternakan, segala upaya dilakukan agar ternak yang dipelihara cepat mengalami kenaikan berat badan. Salah satu cara baru yang dapat diterapkan dalam upaya penggemukan ternak adalah dengan penggunaan pakan tambahan. Pakan tambahan berupa suatu bahan yang mengandung koloni mikroba terpilih dan digunakan untuk mengatur keseimbangan mikroorganisme di dalam rumen (alat pencernaan) agar hasilnya dapat memuaskan kebutuhan pasar.

Bantuan pemerintah dalam mendukung pengembangan ternak antara lain adalah bantuan komersial dan fasilitas agar seseorang tidak lagi menganggap bahwa ternak itu sulit. Menurut kebijaksanaan pemerintah, sub sektor peternakan, ternak sebagai salah satu usaha yang perlu terus dikembangkan, terutama usaha peternakan hewan besar yang bersifat usaha keluarga, karena diyakini memiliki kontribusi yang begitu besar terhadap kebutuhan hidup umat manusia.

2. Rumusan Masalah

Masalah yang dapat diangkat dalam makalah ini adalah “Apa saja kontribusi ternak dan usaha ternak terhadap kehidupan masyarakat?”

3. Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini, yaitu untuk mengetahui apa saja kontribusi ternak dan hasil ternak terhadap kehidupan umat manusia.

Adapun manfaat dari makalah ini, yaitu dapat mengetahui apa saja kontribusi ternak dan hasil ternak terhadap kehidupan umat manusia.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Ternak dalam Status Sosial–Budaya

Ternak memegang peranan yang sangat penting bagi status sosial dan budaya masyarakat pedesaan. Sejak dahulu, masyarakat berpendapat bahwa apabila seseorang memiliki ternak (misalnya, sapi, kerbau, babi) maka dianggap sebagai orang yang memiliki harta banyak dan berderajat tinggi. Sehingga ternak dimanfaatkan pada acara-acara tertentu sebagai simbol kebesaran seperti acara perkawinan yang dikenal dengan sebutan “potong kerbau” pada ternak kerbau, yang dilaksanakan secara adat setempat secara turun temurun.

Dapat dikatakan bahwa ternak merupakan hewan yang mempunyai nilai penting dalam kehidupan masyarakat dari dulu hingga kini. Melalui data ekofaktual yang ditemukan di situs-situs mesolitik kemungkinan jenis hewan tersebut hidup liar di hutan Indonesia. Hewan tersebut diburu dan dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan makanan manusia pada masa itu. Berbagai tinggalan arkeologis di situs-situs megalit Sumatera Selatan, Jawa Timur, dan Lampung menggambarkan peranan penting maupun pembudidayaan ternak.

Kontribusi ternak dalam kegiatan pertanian dapat dikaitkan dengan perkembangan sistem pertaniannya. Sistem pertanian yang dikenal semula pada masa prasejarah adalah pertanian lahan kering (perladangan), kemudian dkembangkan sistem pertanian lahan basah (persawahan). Dengan demikian diperkirakan ternak besar sperti kerbau dan sapi telah dimanfaatkan untuk membantu kegiatan pertaniannya.

Beberapa ternak merupakan hewan domestikasi yang sering dikaitkan dengan kehidupan masyarakat bermatapencaharian di bidang pertanian. Ternak besar digunakan sebagai sarana transportasi (kendaraan), untuk membantu mengolah lahan pertanian, dan kotorannya dapat dijadikan pupuk. Domestikasinya dikaitkan dengan kebutuhan hewan itu dalam jumlah banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya seperti tersebut di atas, juga dikonsumsi atau digunakan sebagai hewan kurban pada upacara adat.

Tradisi pengolahan lahan tanpa menggunakan bajak diketahui masih dilakukan hingga kini oleh sebagian masyarakat di Barus dan Tapanuli Selatan, yaitu dengan menggiring ternak sapi (sekitar 8 – 12 ekor) berkeliling pada lahan sawah secara berulang-ulang. Banyaknya sapi yang digunakan menggambarkan banyaknya populasi sapi yang diternakkan oleh satu keluarga inti di tempat tersebut. Sekalipun tidak banyak lahan sawah yang diusahakan di Samosir tempat komunitas sub etnis Batak Toba misalnya, populasi sapi sebagai hewan ternak juga cukup banyak. Hal ini disebabkan banyaknya kebutuhan sapi sebagai hewan kurban yang menyertai upacara adat yang diselenggarakan masyarakatnya.

Bagi masyarakat yang masih hidup dengan tradisi megalitiknya seperti Toraja, Sumba, Dayak Ngaju, dan Batak, kerbau merupakan hewan yang sering dikorbankan pada upacara-upacara adatnya seperti upacara kematian (Rambu Polo’, Marapu, Tiwah, Saur Matua dan Mangokal Holi), atau pembangunan rumah adat. Pada umumnya banyaknya kerbau yang disembelih pada suatu upacara adat menggambarkan kemampuan keluarga atau tingginya status sosial seseorang di masyarakat. Kegiatan tersebut secara simbolis tergambar pada banyaknya tanduk kerbau yang dipajang pada rumah adat.

Pada masyarakat Batak di Sumatera Utara dikenal upacara kematian seperti Saur Matua, dan Mangokal Holi (menggali tulang) untuk memindahkan tulang dari kubur primer ke kubur sekunder. Sebagai rangkaian kegiatan upacara tersebut biasanya dilaksanakan pesta syukuran adat yang disertai dengan pemotongan kerbau. Sebelum disembelih kerbau diikat pada tiang yang disebut borotan serta diiringi dengan tarian tor-tor. Kemudian setelah kerbau disembelih dagingnya dibagikan pada kerabat yang mengikuti upacara tersebut berupa jambar juhut.

Demikian halnya pada upacara perkawinan, Horja Bius (acara penghormatan terhadap leluhur), dan pendirian rumah adat, kerbau juga disembelih selain sebagai hewan korban juga sebagai pelengkap adat dalam pembagian jambar. Pada pembagian jambar juhut (hewan kurban) terdapat aturan tertentu yang disebut ruhut papangan, yaitu:

  1. Kepala (ulu dan osang) untuk raja adat.
  2. Leher (rungkung atau tanggalan) untuk pihak boru.
  3. Paha dan kaki (soit) untuk pihak dongan sabutuha.
  4. Punggung dan rusuk (panamboli dan somba-somba) untuk pihak hula-hula.
  5. Bagian belakang (ihur-ihur) untuk pihak hasuhuton.

Adanya aturan yang memberi perlakuan khusus pada raja di masyarakat Batak tersebut juga menjelaskan tentang keberadaan tanduk kerbau yang tersimpan pada rumah adatnya. Perlakuan khusus kepada pemimpin adat berkaitan dengan pemberian bagian kepala hewan kurban khususnya kerbau, juga ditemukan pada masyarakat Toraja.

Beberapa daerah di Indonesia yang secara sosial budaya berkaitan dengan kerbau menunjukkan populasi kerbau yang tinggi. Keterkaitannya bisa berupa dalam adat istiadat atau kebutuhan tenaga kerja lebih pada adat istiadat yang turun temurun. Kerbau mempunyai arti sosial yang sangat khas sehingga ada rumah adat dan perkantoran pemerintah mempunyai bentuk atap yang melengkung melambangkan bentuk tanduk kerbau. Diduga kata “Minangkabau” berasal dari “Menang Kerbau”.

Kepemilikan kerbau menandakan prestise seseorang.  Semakin kaya dan tinggi status seseorang ditandai seberapa banyak kepemilikan ternaknya.  Dalam adat daerah tertentu, kerbau dan sapi digunakan untuk alat meminang seorang remaja putri. Ternak ini cukup produktif, bisa digunakan atau disewa untuk membajak sawah, menarik gerobak dan ternak betinanya akan menghasilkan anak, sebagai sumber penghasilan tambahan bagi petani atau peternak itu sendiri.

Hal ini menunjukan bahwa budaya masyarakat sangat berperan terhadap perkembangan populasi ternak. Populasi ternak di Indonesia terdapat di seluruh provinsi, karena sebagian besar ternak mempunyai daya adaptasi yang sangat tinggi. Contonya, kerbau bisa berkembang mulai dari daerah kering di NTT dan NTB, lahan pertanian yang subur di Jawa hingga lahan rawa di Sulawesi Selatan, Kalimantan dan daerah pantai utara Sumatera (Asahan sampai Palembang). Selain itu pengembangannya juga tidak akan menghadapi hambatan selera, budaya dan agama.

2. Hasil Ternak sebagai Aset Penting

Beternak sangat penting bagi banyak orang miskin di negara berkembang, seringkali berkontribusi terhadap tujuan kehidupan secara ganda dan menawarkan jalan keluar dari kemiskinan. Ternak juga mempengaruhi aset tak terpisahkan dari masyarakat miskin, modal usaha mereka, dan hasil ternak dapat dirasakan melalui dampak positifnya terhadap gizi dan kesehatan mereka sendiri. Keyakinan ini sama sekali tidak memiliki batasan ruang lingkup melalui program intervensi untuk mempromosikan ternak dan potensi hasil ternak yang berkontribusi untuk mengurangi kemiskinan, serta dapat meningkatkan kemampuan ternak untuk berkontribusi bagi kesejahteraan manusia di negara berkembang.

Ternak dan hasilnya dapat dikatakan sebagai aset penting terhadap kehidupan umat manusia, yang meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan, dan penyaluran hobi dirangkai dalam satu bentuk menyeluruh, diantaranya:

  1. Ternak merupakan salah satu bagian yang paling penting sebagai sumber pendapatan tunai bagi rumah tangga miskin. Ruminansia memberikan susu dan unggas memberikan telur kecil tapi tersedia dan jumlah biasa dalam jangka waktu relatif cepat.
  2. Ternak memanfaatkan feed dengan beberapa alternatif digunakan untuk menghasilkan makanan yang bergizi tinggi bagi orang-orang kecil namun jumlahnya begitu luar biasa. Makanan ini sangat penting bagi anak-anak, dan saat hamil atau menyusui bagi perempuan.
  3. Hasil ternak adalah salah satu dari beberapa aset yang dimiliki oleh rumah tangga miskin dan dapat menjadi sangat penting dalam menjaga kehidupan rumah tangga di saat krisis.
  4. Ternak maupun hasilnya merupakan aset yang dapat terakumulasi di masa baik sebelum dan setelah dijual ketika diperlukan, misalnya untuk membayar biaya sekolah atau membeli perawatan kesehatan.
  5. Ternak dan hasinya memiliki kontribusi yang sangat menjanjikan, dimana keduanya merupakan bukti inflasi dan investasi yang bersifat produktif.
  6. Ternak adalah pusat untuk sistem pertanian yang digunakan oleh masyarakat golongan miskin, diantaranya menyediakan rancangan listrik dan pupuk – Sering terjadi ketika pembelian pupuk yang mengharuskan pupuk pengganti – .
  7. Draught listrik ternak besar mendorong produksi tanaman dalam sistem pertanian. Penggunaan pupuk merupakan hal yang sangat efisien dan metode berkelanjutan untuk menjaga kualitas tanah dan retensi air.
  8. Ternak memungkinkan masyarakat miskin untuk memanfaatkannya secara pribadi dengan mengambil manfaat dari sumber daya milik bersama, dimana mereka tidak membutuhkan kepemilikan lahan pribadi.
  9. Ternak merupakan central sampai pada peristiwa sosial yang besar dan upacara. Dalam masyarakat Afrika, ternak merupakan hewan dasar untuk dijadikan alat pada sistem tradisional dengan dukungan social sesama penduduk dan merupakan bagian integral dari cara hidup bangsa Afrika.
  10. Ternak dan hasilnya menyediakan berbagai manfaat lainnya including (termasuk) jeroan dan kulitnya, sebagai bahan bakar untuk memasak dan transportasi untuk mengangkut air, barang dan orang.
3. Pentingnya Beternak

Semakin meningkatnya penduduk Indonesia dan semakin meningkatnya pendapatan masyarakat, maka meningkat pula konsumsi daging untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi tubuh. Pada umumnya, kebutuhan daging di Indonesia dipenuhi dari daging sapi dan ayam. Oleh karena itu, salah satu untuk memenuhi kebutuhan daging selain daging sapi dan ayam yaitu daging yang berasal dari ternak lainnya. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa ternak penting di ternakkan sejak dini karena mempunyai potensi untuk dikembangkan sehingga dapat memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat Indonesia.

Produktivitas kerbau tidak lebih rendah daripada sapi potong . Berbagai hasil penelitian yang ada diberbagai belahan dunia termasuk di Indonesia menunjukkan, tingkat produksi kerbau tidak berbeda jauh dengan sapi. Dengan budidaya intensif, calving interval atau selang beranak (waktu yang dibutuhkan antara dua kelahiran yang berturutan) dapat mencapai 13 bulan. Meskipun, budidaya kerbau oleh petani secara tradisional dengan melepas bebas di padang penggembalaan tanpa perlakuan pakan dan pengaturan perkawinan, selang beranak dapat lebih dari 24 bulan.

Secara umum, ternak kerbau dan sapi adalah hewan yang berbeda baik jenis maupu bangsanya. Tetapi dalam soal produk, dipasar tidak ada perbedaan antara daging kerbau dengan daging sapi. Hampir di seluruh wilayah Indonesia daging kerbau dikenal sebagai daging sapi. Maka ketika Presiden Republik Indoneasia mematok target swasembada daging, daging kerbau yang cukup signifikan ada didalamnya. Angka kontribusi daging kerbau saat itu adalah 41 ribu ton, sehingga kepentingan memasukkan daging ternak kerbau dalam suplai daging sekitar 8 %. Dimana ternak kerbau telah lama dikembangkan/dipelihara oleh masyarakat sebagai salah satu mata pencaharian dalam skala usaha yang masih relatif kecil, untuk tujuan daging, kulit dan tenaga kerja. Seperti jumlah populasi ternak kerbau tersebut diatas memberikan kontribusi kebutuhan daging, maka ternak kerbau juga memiliki peran dalam menunjang program kecukupan daging 2014.

Walaupun produktivitas ternak di Indonesia masih relatif rendah bila dibadingkan dengan produktivitas di negara lain, namun demikian usaha ternak memiliki prospek cukup baik untuk dikembangkan terutama di beberapa daerah/wilayah yang memiliki sumberdaya pakan yang melimpah dan daerah dimana ternak mempunyai fungsi sosial yang sangat penting.

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Ternak memegang peranan yang sangat penting bagi status sosial dan budaya masyarakat pedesaan. Sejak dahulu, masyarakat berpendapat bahwa apabila seseorang memiliki ternak maka dianggap sebagai orang yang memiliki harta banyak dan berderajat tinggi. Beternak sangat penting bagi banyak orang miskin di negara berkembang, seringkali berkontribusi terhadap tujuan kehidupan secara ganda dan menawarkan jalan keluar dari kemiskinan. Ternak juga mempengaruhi aset tak terpisahkan dari masyarakat miskin, modal usaha mereka, dan hasil ternak dapat dirasakan melalui dampak positifnya yang meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan, dan penyaluran hobi. Salah satu untuk memenuhi kebutuhan daging, ternak penting di ternakkan sejak dini karena mempunyai potensi untuk dikembangkan sehingga dapat memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat Indonesia.

2. Saran

Kerbau saat ini dinilai sangat tinggi untuk bermatapencaharian namun populasinya berkurang dari masa ke masa. Oleh karena itu, perlu adanya upaya penyelamatan populasi ternak kerbau yang dapat dilakukan melalui berbagai macam usaha, seperti penyuluhan peternakan mengenai kerbau di pedesaan/wilayah/daerah yang berpotensi tinggi bagi kesejahteraan masyarakat.

Daftar Pustaka

Anonim. 2012. Fungsi Kerbau. http://id.shvoong.com/tags/fungsi-kerbau. Diakses pada hari Minggu tanggal 13 Januari 2013.

Anonim, Wikipedia. 2012. Kerbau. http://id.wikipedia.org/wiki/Kerbau. Diakses pada hari Minggu tanggal 13 Januari 2013.

Anonim, Wikipedia. 2011. Sapi. http://id.wikipedia.org/wiki/Sapi. Diakses pada hari Minggu tanggal 13 Januari 2013.

CAST (Dewan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pertanian). 1999. Hewan pertanian dan pasokan pangan global. Task Force Laporan No 135. CAST, Ames, IA.

ILRI (International Livestock Research Institute). 2003. Ternak-Jalur keluar dari kemiskinan.
ILRI ini strategi untuk 2010. ILRI, Nairobi, Kenya.

West, KP, Jr 2004. Kekurangan vitamin A sebagai penyebab dicegah dari kematian ibu di masyarakat kurang gizi:. Masuk akal dan langkah selanjutnya Int. J. Gynaecol. Obstet 85 (Suppl. 1).

Wiradnyana, Somba, Nani, 2005. Fungsi dan Makna Kerbau dalam Tradisi Megalitik di Sebagian Wilayah Indonesia. Makassar: Balai Arkeologi Makassar.

Terima kasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar ya! Silahkan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s