MAKALAH: Peran, Fungsi, dan Pentingnya Ternak Kerbau Bagi Kesejahteraan Masyarakat

Posted: 23 Desember 2012 by Mickeybal in Makalah, PIP
Tag:, , , , , , ,

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar peran, fungsi, dan pentingnya ternak kerbau bagi kesejahteraan masyarakat yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dan referensi dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Peran, Fungsi, dan Pentingnya Ternak Kerbau Bagi Kesejahteraan Masyarakat” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia peternakan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Terima kasih.

Kendari,  September 2012
Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sewaktu nenek moyang bangsa Indonesia yang berasal dari Indo China sampai di Nusantara yang saat ini dikenal dengan nama Indonesia, mereka melihat hewan yang sama dengan hewan yang ada di negeri asalnya. Hewan tersebut adalah hewan yang pada saat ini disebut kerbau. Fenomena ini menunjukkan bahwa kerbau sudah ada di negeri kita sudah sejak lama dan mungkin pula merupakan hewan asli Asia termasuk Indonesia. Dugaan ini didasarkan pada para pendatang dari Indo China tersebut telah mengenal kerbau di negeri asalnya dan menemukan hewan yang sama di negeri yang baru didatanginya. Kerbau (Bubalus bubalis) merupakan jenis hewan yang termasuk famili bovidae. Terbukti dari beberapa fragmen tulang dan giginya yang ditemukan pada ekskavasi beberapa situs di Indonesia.

Kerbau dewasa dapat memiliki berat sekitar 300 kg hingga 600 kg. Kerbau liar dapat memiliki berat yang lebih, kerbau liar betina dapat mencapai berat hingga 800 kg dan kerbau liar jantan dapat mencapai berat hingga 1200 kg. Berat rata-rata kerbau jantan adalah 900 kg dan tinggi rata-rata di bagian pundak kerbau adalah 1,7 m. Salah satu ciri yang membedakan kerbau liar dari kerbau peliharaan untuk ternak adalah bahwa kerbau peliharaan memiliki perut yang bulat. Dengan adanya percampuran keturunan antara kerbau-kerbau antara populasi yang berbeda, berat badan kerbau dapat bervariasi.

Klasifikasi kerbau masih belum pasti, beberapa autoritas mengelompokkan kerbau sebagai suatu spesies Bubalus bubalis dengan tiga subspesies yaitu :

  1. Kerbau sungai (B. bubalis bubalis) yang berasal dari Asia Selatan.
  2. Kerbau rawa (B. bubalis carabanesis) dari Asia Tenggara.
  3. Kerbau liar (B. bubalis arnee).

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada makalah ini yaitu, “Apa sajakah peran, fungsi, dan pentingnya ternak kerbau bagi kesejahteraan masyarakat?”

C.  Tujuan

Tujuan dari makalah seleksi ternak potong yaitu sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui peran ternak kerbau dalam kehidupan bagi masyarakat sejak dulu.
  2. Untuk mengetahui beberapa fungsi ternak kerbau dalam dunia peternakan dan bisnis.
  3. Untuk mengetaui seberapa pentingnya ternak kerbau bagi kesejahteraan masyarakat.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.    Peran Ternak Kerbau

Ternak kerbau memegang peranan yang sangat penting bagi status sosial dan budaya masyarakat pedesaan. Sejak dahulu, masyarakat berpendapat bahwa apabila seseorang memiliki ternak kerbau maka dianggap sebagai orang yang memiliki harta banyak dan berderajat tinggi. Sehingga ternak kerbau dimanfaatkan pada acara-acara tertentu sebagai simbol kebesaran seperti acara perkawinan yang dikenal dengan sebutan “potong kerbau”, yang dilaksanakan secara adat setempat.

Dapat dikatakan bahwa kerbau merupakan hewan yang mempunyai nilai penting dalam kehidupan masyarakat dari dulu hingga kini. Melalui data ekofaktual yang ditemukan di situs-situs mesolitik kemungkinan jenis hewan tersebut hidup liar di hutan Indonesia. Hewan tersebut diburu dan dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan makanan manusia pada masa itu. Berbagai tinggalan arkeologis di situs-situs megalit Sumatera Selatan, Jawa Timur, dan Lampung menggambarkan peranan penting maupun pembudidayaan kerbau.

Peranan kerbau dalam kegiatan pertanian dapat dikaitkan dengan perkembangan sistem pertaniannya. Sistem pertanian yang dikenal semula pada masa prasejarah adalah pertanian lahan kering (perladangan), kemudian dkembangkan sistem pertanian lahan basah (persawahan). Dengan demikian diperkirakan kerbau telah dimanfaatkan untuk membantu kegiatan pertaniannya.

Kerbau merupakan hewan domestikasi yang sering dikaitkan dengan kehidupan masyarakat bermatapencaharian di bidang pertanian. Kerbau digunakan sebagai sarana transportasi (kendaraan), untuk membantu mengolah lahan pertanian, dan kotorannya dapat dijadikan pupuk. Domestikasi kerbau dikaitkan dengan kebutuhan hewan itu dalam jumlah banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya seperti tersebut di atas, juga dikonsumsi atau digunakan sebagai hewan kurban pada upacara adat.

Tradisi pengolahan lahan tanpa menggunakan bajak diketahui masih dilakukan hingga kini oleh sebagian masyarakat di Barus dan Tapanuli Selatan, yaitu dengan menggiring kerbau (sekitar 8 – 12 ekor) berkeliling pada lahan sawah secara berulang-ulang. Banyaknya kerbau yang digunakan menggambarkan banyaknya populasi kerbau yang diternakkan oleh satu keluarga inti di tempat tersebut. Sekalipun tidak banyak lahan sawah yang diusahakan di Samosir tempat komunitas subetnis Batak Toba misalnya, populasi kerbau sebagai hewan ternak juga cukup banyak. Hal ini disebabkan banyaknya kebutuhan kerbau sebagai hewan kurban yang menyertai upacara adat yang diselenggarakan masyarakatnya.

Bagi masyarakat yang masih hidup dengan tradisi megalitiknya seperti Toraja, Sumba, Dayak Ngaju, dan Batak, kerbau merupakan hewan yang sering dikorbankan pada upacara-upacara adatnya seperti upacara kematian (Rambu Polo’, Marapu, Tiwah, Saur Matua dan Mangokal Holi), atau pembangunan rumah adat. Pada umumnya banyaknya kerbau yang disembelih pada suatu upacara adat menggambarkan kemampuan keluarga atau tingginya status sosial seseorang di masyarakat. Kegiatan tersebut secara simbolis tergambar pada banyaknya tanduk kerbau yang dipajang pada rumah adat.

Pada masyarakat Batak di Sumatera Utara dikenal upacara kematian seperti Saur Matua, dan Mangokal Holi (menggali tulang) untuk memindahkan tulang dari kubur primer ke kubur sekunder. Sebagai rangkaian kegiatan upacara tersebut biasanya dilaksanakan pesta syukuran adat yang disertai dengan pemotongan kerbau. Sebelum disembelih kerbau diikat pada tiang yang disebut borotan serta diiringi dengan tarian tor-tor. Kemudian setelah kerbau disembelih dagingnya dibagikan pada kerabat yang mengikuti upacara tersebut berupa jambar juhut.

Demikian halnya pada upacara perkawinan, Horja Bius (acara penghormatan terhadap leluhur), dan pendirian rumah adat, kerbau juga disembelih selain sebagai hewan korban juga sebagai pelengkap adat dalam pembagian jambar. Pada pembagian jambar juhut (hewan kurban) terdapat aturan tertentu yang disebut ruhut papangan, yaitu:

  1. Kepala (ulu dan osang) untuk raja adat.
  2. Leher (rungkung atau tanggalan) untuk pihak boru.
  3. Paha dan kaki (soit) untuk pihak dongan sabutuha.
  4. Punggung dan rusuk (panamboli dan somba-somba) untuk pihak hula-hula.
  5. Bagian belakang (ihur-ihur) untuk pihak hasuhuton.

Adanya aturan yang memberi perlakuan khusus pada raja di masyarakat Batak tersebut juga menjelaskan tentang keberadaan tanduk kerbau yang tersimpan pada rumah adatnya. Perlakuan khusus kepada pemimpin adat berkaitan dengan pemberian bagian kepala hewan kurban khususnya kerbau, juga ditemukan pada masyarakat Toraja.

Beberapa daerah di Indonesia yang secara sosial budaya berkaitan dengan kerbau menunjukkan populasi kerbau yang tinggi. Keterkaitannya bisa berupa dalam adat istiadat atau kebutuhan tenaga kerja lebih pada adat istiadat yang turun temurun. Kerbau mempunyai arti sosial yang sangat khas sehingga ada rumah adat dan perkantoran pemerintah mempunyai bentuk atap yang melengkung melambangkan bentuk tanduk kerbau. Diduga kata “Minangkabau” berasal dari “Menang Kerbau”.

Kepemilikan kerbau menandakan prestise seseorang.  Semakin kaya dan tinggi status seseorang ditandai seberapa banyak kepemilikan kerbaunya.  Dalam adat daerah tertentu, kerbau digunakan untuk alat meminang seorang remaja putri. Kerbau cukup produktif, bisa digunakan atau disewa untuk membajak sawah, menarik gerobak dan kerbau betina akan menghasilkan anak, sebagai sumber penghasilan tambahan bagi petani.

Hal ini menunjukan bahwa budaya masyarakat sangat berperan terhadap perkembangan populasi kerbau. Populasi kerbau di Indonesia terdapat di seluruh provinsi, karena kerbau mempunyai daya adaptasi yang sangat tinggi. Kerbau bisa berkembang mulai dari daerah kering di NTT dan NTB, lahan pertanian yang subur di Jawa hingga lahan rawa di Sulawesi Selatan, Kalimantan dan daerah pantai utara Sumatera (Asahan sampai Palembang). Selain itu pengembangannya juga tidak akan menghadapi hambatan selera, budaya dan agama.

B.     Fungsi Ternak Kerbau

  • Sebagai penghasil tenaga kerja untuk mengolah sawah.

Kerbau dipelihara oleh masyarakat Indonesia  secara turun temurun. Pada masyarakat pulau Jawa, ternak kerbau digunakan sebagai hewan yang digunakan tenaganya untuk mengolah sawah sejak dulu kala.  Sebelum ada traktor, kerbau memiliki fungsi amat besar dalam produksi padi.   Meskipun ada mekanisasi pertanian menggunakan traktor, penggunaan kerbau masih diperlukan untuk sawah dengan terasering yang berundak-undak.

  • Sebagai penghasil susu.

Di Sumatera banyak ditemui kerbau penghasil susu.  Di  Minangkabau,   susu kerbau juga diolah menjadi dadiah  (sejenis yoghurt) dan  juga digunakan sebagai bahan keju Mozzarella.

  • Sebagai penghasil daging.

Daging kerbau muda cukup empuk.  Rendang  yang dimakan di Rumah Makan Padang adalah  lebih banyak daging kerbau daripada daging sapi.  Kerbau pun digunakan sebagai hewan kurban di beberapa daerah, selain sapi dan kambing.

  • Sebagai ternak yang bisa menghasilkan pupuk.

Kotoran kerbau dapat digunakan sebagai pupuk atau bahan bakar jika dikeringkan.  Semasa booming ternak cacing tanah, kotoran kerbau dicari peternak cacing untuk media tumbuh cacing tanah.  Orang berebut kotoran kerbau berbahan hijauan alami.

  • Sebagai tabungan jangka panjang.

Di beberapa desa, kerbau digunakan untuk alat menabung.  Petani menyimpan uangnya dengan membeli kerbau, lalu menjual kerbaunya jika sedang membutuhkan uangnya.

  • Sebagai bahan tekstil (industri).

Kulit kerbau sering digunakan juga sebagai bahan sepatu, wayang kulit dan helm sepeda motor.

  • Pemanfaatan kerbau sebagai alat transportasi diperkirakan berkaitan dengan pengangkutan hasil-hasil pertanian seorang petani.

C.    Pentingnya Ternak Kerbau

Semakin meningkatnya penduduk Indonesia dan semakin meningkatnya pendapatan masyarakat, maka meningkat pula konsumsi daging untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi tubuh. Pada umumnya, kebutuhan daging di Indonesia dipenuhi dari daging sapi dan ayam . Oleh karena itu, salah satu untuk memenuhi kebutuhan daging selain daging sapi dan ayam yaitu daging yang berasal dari ternak kerbau. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa ternak kerbau penting di ternakkan sejak dini karena mempunyai potensi untuk dikembangkan sehingga dapat memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat Indonesia.

Produktivitas kerbau tidak lebih rendah daripada sapi potong . Berbagai hasil penelitian yang ada diberbagai belahan dunia termasuk di Indonesia menunjukkan, tingkat produksi kerbau tidak berbeda jauh dengan sapi. Dengan budidaya intensif, calving interval atau selang beranak (waktu yang dibutuhkan antara dua kelahiran yang berturutan) dapat mencapai 13 bulan. Meskipun, budidaya kerbau oleh petani secara tradisional dengan melepas bebas di padang penggembalaan tanpa perlakuan pakan dan pengaturan perkawinan, selang beranak dapat lebih dari 24 bulan.

Secara umum, ternak kerbau dan sapi adalah hewan yang berbeda baik jenis maupu bangsanya. Tetapi dalam soal produk, dipasar tidak ada perbedaan antara daging kerbau dengan daging sapi. Hampir di seluruh wilayah Indonesia daging kerbau dikenal sebagai daging sapi. Maka ketika Presiden Republik Indoneasia mematok target swasembada daging, daging kerbau yang cukup signifikan ada didalamnya. Dengan jumlah populasi kerbau pada tahun 2007 yang mencapai 2,5 juta ekor sebesar 22 %. Angka kontribusi daging kerbau saat itu adalah 41 ribu ton, sehingga kepentingan memasukkan daging ternak kerbau dalam suplai daging sekitar 8 %.

Ditunjukkan pula dengan pertambahan berat badan, bahwa penggemukan ternak kerbau oleh seorang peternak di Bogor mampu mendapatkan hasil pertambahan berat badan 1 kg/ekor/hari. Oleh karena itu, bahwa parameter yang relatif sama digunakan pada penggemukan sapi potong. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa dengan budidaya/pemeliharaan kerbau yang baik atau budidaya secara intensif tidak kalah produktif dengan ternak sapi. Maka dari itu, ternak kerbau mempunyai potensi sebagai penghasil daging. Dimana ternak kerbau telah lama dikembangkan/dipelihara oleh masyarakat sebagai salah satu mata pencaharian dalam skala usaha yang masih relatif kecil, untuk tujuan daging, kulit dan tenaga kerja. Seperti jumlah populasi ternak kerbau tersebut diatas memberikan kontribusi kebutuhan daging, maka ternak kerbau juga memiliki peran dalam menunjang program kecukupan daging 2014.

Walaupun produktivitas ternak kerbau di Indonesia masih relatif rendah bila dibadingkan dengan produktivitas sapi potong, namun demikian usaha ternak kerbau memiliki prospek cukup baik untuk dikembangkan terutama di beberapa daerah/wilayah yang memiliki sumberdaya pakan yang melimpah dan daerah dimana kerbau mempunyai fungsi sosial yang sangat penting seperti di Tana Toraja.

Daerah yang menjadi sentra pengembangan ternak kerbau saat ini adalah wilayah yang cocok menjadi habitat untuk berkembang biak. Populasi ternak kerbau di dua wilayah ini tercatat 54 % dari total populasi keseluruhan yang ada di Indonesia.

Dari pandangan etnik dan agama, bahwa pengembangan ternak kerbau tidak ada penghalang, bahkan oleh suku tertentu, hewan ini mendapat tempat tersendiri. Kerbau dinilai sangat tinggi dalam adat budaya Batak, Toraja dan beberapa suku lain. Dalam hal inilah, ternak kerbau mempunyai potensi untuk dikembangakan baik di kawasan tersebut maupun diwilayah lainnya. Dengan demikian pengembangan usaha peternakan kerbau dan wilayah agribisnis kerbau sangat luas, hampir meliputi seluruh agroekosistem dan sosial-budaya yang ada sehingga ternak kerbau mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai penghasil daging. Kerbau dianggap memiliki kontribusi tinggi dan cukup banyak menginspirasi.

BAB III

PENUTUP

 A.    Kesimpulan

Ternak kerbau memegang peranan yang sangat penting bagi status sosial dan budaya masyarakat pedesaan. Sejak dahulu, masyarakat berpendapat bahwa apabila seseorang memiliki ternak kerbau maka dianggap sebagai orang yang memiliki harta banyak dan berderajat tinggi. Sehingga ternak kerbau dimanfaatkan pada acara-acara tertentu sebagai simbol kebesaran seperti acara perkawinan yang dikenal dengan sebutan “potong kerbau”, yang dilaksanakan secara adat setempat. Fungsi ternak kerbau bermacam-macam, diantaranya sebagai penghasil tenaga untuk mengolah sawah, sebagai penghasil susu dan daging, bisa menghasilkan pupuk, sebagai tabungan jangka panjang, bahan tekstil (industri), dan sebagai alat transportasi. Salah satu untuk memenuhi kebutuhan daging daging, ternak kerbau penting di ternakkan sejak dini karena mempunyai potensi untuk dikembangkan sehingga dapat memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat Indonesia.

 B.     Saran

Kerbau saat ini dinilai sangat tinggi untuk bermatapencaharian namun populasinya berkurang dari masa ke masa. Oleh karena itu, perlu adanya upaya penyelamatan populasi ternak kerbau yang dapat dilakukan melalui berbagai macam usaha, seperti penyuluhan peternakan mengenai kerbau di pedesaan/wilayah/daerah yang berpotensi tinggi bagi kesejahteraan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

 

Bamualim, A. dan M. Zulbardi. 2007. Situasi dan Keberadaan Kerbau di Indonesia. Pros. Semiloka Usaha Ternak Kerbau. Puslitbang Peternakan, Bogor.

Wiradnyana, Somba, Nani, 2005. Fungsi dan Makna Kerbau dalam Tradisi Megalitik di Sebagian Wilayah Indonesia. Makassar: Balai Arkeologi Makassar.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kerbau

http://id.shvoong.com/tags/fungsi-kerbau

Terima kasih atas kunjungan Anda. Kritik dan saran dapat disampaikan pada kotak komentar ya! Silahkan tinggalkan komentar Anda dengan sopan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s